Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memastikan tingkat inflasi di wilayahnya pada Maret 2026 tetap terkendali. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus, inflasi tercatat sebesar 0,47 persen.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Kudus, Djatmiko Muhardi, menyatakan pentingnya menjaga ketersediaan komoditas bahan pokok masyarakat. Oleh karena itu, Pemkab Kudus secara rutin melakukan pemantauan harga dan stok guna memastikan tidak adanya lonjakan harga atau kelangkaan pasokan.
Djatmiko menambahkan, kelancaran distribusi komoditas pokok di pasaran menjadi kunci utama dalam pengendalian inflasi. Stabilitas harga sangat dipengaruhi oleh kelancaran distribusi, karena gangguan distribusi dapat memicu kenaikan harga jika pasokan di suatu daerah berkurang.
Advertisement
Advertisement
Ketersediaan dan distribusi komoditas pokok yang lancar di pasaran merupakan salah satu kunci utama dalam upaya pengendalian inflasi. Pemkab Kudus memahami betul bahwa jika distribusi terganggu atau barang terserap hanya di satu wilayah, pasokan di daerah lain akan berkurang, yang pada akhirnya berpotensi memicu kenaikan harga.
Daya beli masyarakat juga turut menjadi faktor penting yang memengaruhi kondisi inflasi secara keseluruhan. Kudus bukanlah daerah penghasil utama komoditas bahan pokok. Oleh karena itu, inflasi di wilayah ini harus dikendalikan melalui pengawasan distribusi yang ketat dan memastikan kecukupan pasokan di pasaran.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kudus, Djatmiko Muhardi, menegaskan bahwa Pemkab Kudus rutin memantau harga dan stok komoditas. Langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada lonjakan harga yang signifikan maupun kelangkaan stok yang dapat meresahkan masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Kepala BPS Kabupaten Kudus, Eko Suharto, mengungkapkan bahwa tingkat inflasi Kudus pada Maret 2026 lebih rendah dibandingkan rata-rata Jawa Tengah. Inflasi di Kudus tercatat 0,47 persen, sementara rata-rata Jawa Tengah mencapai 0,57 persen.
Eko Suharto menyebutkan beberapa komoditas yang memberikan andil inflasi pada periode tersebut. Komoditas-komoditas tersebut meliputi daging ayam ras, angkutan antarkota, bahan bakar minyak (BBM), ikan bandeng, dan udang basah.
Di sisi lain, terdapat pula komoditas yang menyumbang deflasi, yaitu cabai rawit, cabai merah, bawang putih, wortel, dan cumi-cumi. Harga cabai, yang sempat tinggi pada Februari 2026, justru mengalami penurunan signifikan pada Maret 2026 yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, sehingga memberikan andil deflasi.
Advertisement
Advertisement
Berdasarkan data historis selama lima tahun terakhir, inflasi cenderung terjadi pada setiap momen Ramadhan. Hal ini menunjukkan adanya pola kenaikan harga yang berulang menjelang dan selama bulan suci tersebut.
Namun, inflasi pada Ramadhan 1447 Hijriah tercatat lebih rendah dibandingkan dengan Ramadhan 1446 Hijriah maupun 1445 Hijriah. Penurunan ini mengindikasikan adanya upaya pengendalian harga yang efektif atau faktor lain yang menahan laju inflasi.
Secara umum, harga komoditas yang berfluktuasi dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi selama periode tersebut. Fluktuasi ini seringkali dipengaruhi oleh permintaan yang meningkat saat Ramadhan dan hari raya keagamaan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews