Operasi Pasar Murni Pemkot Kediri Sukses Kendalikan Inflasi Maret 2026
Pemerintah Kota Kediri melalui Operasi Pasar Murni berhasil menekan laju inflasi pada Maret 2026, menjaga stabilitas harga bahan pokok di tengah tantangan ekonomi global.
Pemerintah Kota Kediri, Jawa Timur, melaporkan keberhasilan Operasi Pasar Murni (OPM) dalam mengendalikan laju inflasi pada Maret 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Pemkot Kediri menjaga stabilitas harga komoditas pangan. Intervensi pasar langsung ini terbukti efektif menstabilkan harga berbagai bahan pokok di wilayah tersebut.
Bambang Tri Lasmono, Kepala Bagian Administrasi Perekonomian Pemkot Kediri, menyatakan bahwa koordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Kediri menjadi kunci. Selain OPM, Gerakan Pangan Murah (GPM) juga turut digelar untuk memastikan ketersediaan pasokan. Langkah-langkah ini diambil untuk melindungi daya beli masyarakat dari gejolak harga.
OPM sendiri adalah program intervensi pemerintah yang menjual bahan pokok langsung ke masyarakat dengan harga lebih murah dari pasar. Tujuannya adalah menekan harga komoditas yang cenderung naik. Program ini diharapkan terus berlanjut guna menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Peran Operasi Pasar Murni dalam Stabilitas Harga
Upaya Pemerintah Kota Kediri melalui Operasi Pasar Murni (OPM) dan Gerakan Pangan Murah (GPM) telah menunjukkan dampak positif terhadap inflasi. Kebijakan ini berhasil menstabilkan harga berbagai komoditas pangan. Khususnya, komoditas cabai rawit mengalami deflasi signifikan pada Maret 2026.
Bambang Tri Lasmono menjelaskan bahwa cabai rawit deflasi sebesar 0,03 persen di bulan Maret, setelah sebelumnya inflasi 0,32 persen. Pencapaian ini merupakan hasil langsung dari berbagai program yang dilaksanakan oleh TPID Kota Kediri. Stabilitas harga ini sangat penting bagi masyarakat.
Pemkot Kediri berharap program intervensi pasar ini dapat terus menjaga harga komoditas pokok tetap stabil. Terutama di tengah kondisi geopolitik internasional yang tidak menentu. Gejolak global berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan berdampak pada inflasi.
Masyarakat diimbau untuk berbelanja secara bijak sesuai kebutuhan dan menghindari panic buying. Pemerintah terus berupaya keras memastikan ketersediaan pasokan komoditas. Selain itu, menjaga kestabilan harga adalah prioritas utama pemerintah daerah.
Dinamika Inflasi Maret 2026 di Kediri
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri, Emil Wahyudiono, mengungkapkan data inflasi Maret 2026. Kota Kediri mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 4,03 persen. Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 110,41 pada periode tersebut.
Sementara itu, inflasi bulanan (month to month/m-to-m) tercatat sebesar 0,41 persen di bulan Maret. Angka ini menunjukkan adanya pergerakan harga yang perlu diwaspadai. Berbagai faktor eksternal dan internal turut memengaruhi dinamika inflasi ini.
Beberapa faktor utama yang mempengaruhi harga pada Maret 2026 adalah penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Kebijakan ini mulai berlaku sejak 1 Maret 2026. Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas pangan strategis seperti cabai merah sepanjang bulan.
Peningkatan permintaan komoditas pangan juga menjadi pemicu inflasi, terutama selama bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri. Komoditas seperti daging ayam ras, telur ayam ras, dan daging sapi mengalami kenaikan harga. Hal ini seiring dengan meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat.
Komoditas Penyumbang dan Penahan Inflasi
Emil Wahyudiono merinci komoditas yang dominan memberikan andil inflasi month to month (m-to-m) di Kediri. Daging ayam ras menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil 0,07 persen. Tingkat inflasi komoditas ini mencapai 3,56 persen pada Maret 2026.
Bensin dan angkutan antarkota masing-masing menyumbang 0,04 persen terhadap inflasi bulanan. Komoditas lain seperti ayam goreng menyumbang 0,03 persen. Tomat, kangkung, dan daging sapi masing-masing memberikan andil 0,02 persen.
Beberapa komoditas lain dengan andil 0,01 persen meliputi beras, bayam, sigaret kretek mesin (SKM), jagung manis, alpukat, jeruk, donat, bawang merah, serta tarif kendaraan travel. Di sektor transportasi, terjadi kenaikan tarif angkutan udara dan antarkota.
Di sisi lain, beberapa komoditas berhasil menahan laju inflasi pada Maret 2026. Cabai rawit menjadi penahan inflasi terbesar dengan andil -0,03 persen. Tarif kereta api, bawang putih, dan minyak goreng masing-masing menyumbang -0,01 persen. Harga emas perhiasan juga tercatat menurun karena kondisi ekonomi global.
Sumber: AntaraNews