Penyelesaian Alun-Alun Kediri Mendesak, Tokoh Masyarakat Harap Pemkot dan Kontraktor Sepakat

Tokoh masyarakat di Kota Kediri mendesak percepatan Penyelesaian Alun-Alun Kediri yang terhenti, berharap ikon kota ini segera berfungsi kembali sebagai pusat ekonomi UMKM, ruang terbuka hijau, dan cerminan kebersihan kota.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Penyelesaian Alun-Alun Kediri Mendesak, Tokoh Masyarakat Harap Pemkot dan Kontraktor Sepakat
Tokoh masyarakat di Kota Kediri mendesak percepatan Penyelesaian Alun-Alun Kediri yang terhenti, berharap ikon kota ini segera berfungsi kembali sebagai pusat ekonomi UMKM, ruang terbuka hijau, dan cerminan kebersihan kota. (AntaraNews)

Tokoh masyarakat di Kota Kediri, Jawa Timur, menyuarakan desakan agar pembangunan alun-alun kota segera dituntaskan. Mereka berharap Penyelesaian Alun-Alun Kediri dapat segera terwujud, mengingat perannya yang sangat vital bagi masyarakat.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Rejomulyo Kota Kediri, K.H. Anwar Iskandar, menekankan bahwa alun-alun merupakan ikon Kota Kediri. Lokasi ini menjadi titik temu penting bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Sebelum adanya pembangunan, area tersebut merupakan tempat masyarakat mencari nafkah sehari-hari, namun aktivitas tersebut terhenti. Kondisi alun-alun yang belum rampung saat ini juga menimbulkan kesan kumuh di tengah kota.

K.H. Anwar Iskandar, yang akrab disapa Gus War, menjelaskan bahwa alun-alun memiliki ikatan kuat dengan masyarakat, terutama para pelaku UMKM. Ia berharap setelah Penyelesaian Alun-Alun Kediri, kegiatan jual beli dapat kembali aktif.

Aspek sosial dan ekonomi yang melekat pada alun-alun sangat krusial bagi kehidupan warga. Terhentinya pembangunan telah berdampak pada mata pencarian banyak orang.

Menurut Gus War, jika proyek ini segera diselesaikan dengan baik, akan ada tiga manfaat besar. Pertama, wajah dan etalase Kota Kediri akan terlihat rapi, bersih, dan baik. Kedua, dapat menghidupkan kembali UMKM. Ketiga, alun-alun bisa menjadi tempat rekreasi kecil bagi keluarga.

Selain sebagai pusat ekonomi, alun-alun juga berfungsi sebagai salah satu ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Kediri. Kondisi pembangunan yang belum tuntas saat ini membuat kawasan tersebut terlihat tidak terawat dan kumuh.

Penuntasan pembangunan alun-alun dinilai sangat utama agar tidak lagi tampak kumuh. Kebersihan serta kerapian RTH Alun-Alun Kediri dapat menjadi cerminan warga Kota Kediri yang bersih, tertib, dan tertata.

RTH juga merupakan wadah rekreasi penting bagi masyarakat sekitar. Warga dapat memanfaatkannya untuk berolahraga santai atau sekadar menghabiskan waktu bersama keluarga.

Pemerintah Kota Kediri menegaskan komitmennya untuk melanjutkan pembangunan alun-alun sebagai ruang terbuka hijau bagi masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Kediri, Rony Yusianto.

Namun, kelanjutan pembangunan saat ini masih terkendala karena belum tercapainya kesepakatan bersama. Persoalan ini terkait pelaksanaan putusan Mahkamah Agung dengan pihak kontraktor pelaksana proyek.

Perbedaan nilai pembayaran progres pekerjaan menjadi titik sengketa utama. Berdasarkan hasil asesmen teknis Tim Ahli UPN dan review Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), nilai pembayaran ditetapkan sekitar Rp6,6 miliar. Sementara itu, pihak kontraktor mengajukan nilai sebesar Rp16,2 miliar.

Selisih pengajuan pembayaran nilai proyek dan hasil audit inilah yang menyebabkan pembayaran oleh Pemerintah Kota Kediri belum dapat dilakukan. Tim dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Kediri telah melakukan komunikasi intensif dengan pihak terkait.

Gus War berharap semua pihak, baik Pemerintah Kota Kediri maupun rekanan, dapat menyelesaikan aspek-aspek yang ada secara legowo. Ia menekankan pentingnya memperhatikan aspek sosial dan kemanusiaan, tidak hanya berfokus pada angka-angka material.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi