Inflasi Banyuwangi Terkendali di Angka 0,37 Persen Berkat Kolaborasi Berbagai Pihak

Bupati Ipuk Fiestiandani mengungkapkan bahwa laju inflasi Banyuwangi pada Maret 2026 berhasil terkendali di angka 0,37 persen, lebih rendah dari rata-rata nasional, berkat kerja sama solid dari berbagai pihak.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Inflasi Banyuwangi Terkendali di Angka 0,37 Persen Berkat Kolaborasi Berbagai Pihak
Bupati Ipuk Fiestiandani mengungkapkan bahwa laju inflasi Banyuwangi pada Maret 2026 berhasil terkendali di angka 0,37 persen, lebih rendah dari rata-rata nasional, berkat kerja sama solid dari berbagai pihak. (AntaraNews)

Banyuwangi berhasil menjaga laju inflasi pada Maret 2026 di angka 0,37 persen, sebuah pencapaian yang lebih baik dibanding inflasi Provinsi Jawa Timur maupun nasional. Keberhasilan ini diungkapkan langsung oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, pada Jumat, 10 April 2026. Angka inflasi yang terkendali ini menjadi kabar baik bagi stabilitas ekonomi daerah.

Menurut data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi di Banyuwangi tercatat sebesar 0,37 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi Jawa Timur yang mencapai 0,38 persen dan inflasi nasional sebesar 0,94 persen pada periode yang sama. Pencapaian ini menunjukkan efektivitas langkah-langkah yang diambil pemerintah daerah.

Bupati Ipuk secara khusus menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. Kolaborasi antara Bank Indonesia, Bulog, Pertamina, TNI, Polri, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas harga selama Ramadan dan Idul Fitri 2026.

Kepala BPS Banyuwangi Abdus Salam menjelaskan bahwa selama bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri 1447 H, terjadi kenaikan harga pada beberapa komoditas bahan pokok. Peningkatan permintaan bahan bakar gas juga turut berkontribusi terhadap kenaikan harga di pasaran. Meskipun demikian, Banyuwangi tetap mampu mengendalikan laju inflasi.

Pada Maret 2026, bertepatan dengan bulan suci Ramadan, inflasi didorong oleh lonjakan harga pada komoditas seperti daging ayam ras, cabai rawit, telur ayam ras, dan daging sapi. Peningkatan harga itu didorong oleh naiknya permintaan masyarakat selama bulan Ramadan seiring dengan meningkatnya kebutuhan konsumsi.

Abdus Salam menambahkan bahwa permintaan LPG yang sangat tinggi hingga akhir Maret 2026 juga menyebabkan kenaikan harga LPG di berbagai wilayah. Keterbatasan pasokan di pasaran, seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat, turut memperparah situasi harga LPG.

Inflasi di Banyuwangi tetap terkendali berkat adanya upaya aktif pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan terkait dalam menjaga stabilitas harga. Mereka berfokus pada menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan di pasar. Kolaborasi ini menjadi fondasi utama keberhasilan pengendalian harga.

Satuan Tugas (Satgas) Pangan setempat berperan penting dengan melakukan pemantauan langsung di pasar tradisional dan pusat perbelanjaan. Langkah ini bertujuan untuk menjaga ketersediaan stok dan memastikan harga bahan pokok tetap stabil selama bulan Ramadan.

Selain itu, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Banyuwangi juga aktif melaksanakan operasi pasar sembako murah di berbagai kecamatan. Inisiatif ini menyediakan kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat.

Untuk mengatasi kelangkaan LPG, Pemerintah Daerah Banyuwangi juga menggelar operasi pasar khusus LPG 3 kg di sejumlah titik. Upaya ini memastikan masyarakat dapat memperoleh gas dengan harga sesuai ketentuan, mencegah spekulasi harga di pasaran.

Bupati Ipuk Fiestiandani menyampaikan penghargaan tinggi atas kerja sama yang solid dari berbagai pihak dalam menjaga stabilitas harga. Keterlibatan Bank Indonesia, Bulog, Pertamina, TNI, Polri, serta seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sangat krusial.

Sinergi antara lembaga pemerintah dan non-pemerintah ini membuktikan bahwa penanganan inflasi memerlukan pendekatan holistik. Setiap pihak memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara penawaran dan permintaan.

Keberhasilan Banyuwangi dalam mengendalikan inflasi menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi lintas sektor dapat menghasilkan dampak positif. Ini tidak hanya menjaga daya beli masyarakat tetapi juga stabilitas ekonomi daerah secara keseluruhan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi