Maluku Gelar Gerakan Pangan Murah Jelang Ramadan 2026, Harga Bahan Pokok Terkendali
Pemerintah Provinsi Maluku menginisiasi Gerakan Pangan Murah Maluku untuk menstabilkan harga dan pasokan bahan pokok, memastikan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan jelang Ramadan 2026.
Pemerintah Provinsi Maluku melalui Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) secara aktif menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai titik. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis untuk mengendalikan harga bahan pokok menjelang bulan suci Ramadan 2026. Inisiatif ini bertujuan menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di wilayah tersebut.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Maluku, Faradilla Attamimi, menyatakan bahwa GPM merupakan instrumen intervensi pemerintah daerah. Tujuannya jelas, yakni menekan potensi gejolak harga yang kerap terjadi saat mendekati Ramadan. Program ini juga memastikan masyarakat memiliki akses terjangkau terhadap kebutuhan pokok.
Pelaksanaan Gerakan Pangan Murah ini melibatkan kerja sama erat dengan berbagai pihak. Distributor, Bulog, pelaku usaha pangan, serta BUMN pangan turut berpartisipasi. Kemitraan ini memungkinkan penjualan bahan pokok dengan harga di bawah standar pasar.
Strategi Pengendalian Harga Bahan Pokok
Gerakan Pangan Murah Maluku direncanakan berlangsung secara bertahap di sejumlah lokasi strategis. Dimulai pada 13 Februari 2026 di Kantor Ketahanan Pangan Provinsi Maluku, GPM akan berlanjut hingga 16 Maret 2026. Lokasi lainnya termasuk Desa Hila, kawasan THR 2, Desa Laha, depan Kantor Kelurahan Honipopu, dan Desa Tial.
Berbagai komoditas penting tersedia dalam Gerakan Pangan Murah ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Produk yang dijual meliputi beras medium dan premium, gula pasir, minyak goreng, serta tepung terigu. Selain itu, telur ayam ras, bawang merah, bawang putih, cabai merah, dan daging ayam beku juga tersedia.
Faradilla Attamimi menjelaskan bahwa selisih harga antara pasar dan GPM disubsidi pemerintah daerah. Skema fasilitasi distribusi dan dukungan dari mitra pemasok menjadi kunci utama. Hal ini memungkinkan masyarakat memperoleh bahan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.
Perbandingan Harga dan Dampak Positif GPM
Data dari Dinas Ketahanan Pangan Maluku menunjukkan perbedaan harga yang signifikan antara pasar tradisional dan Gerakan Pangan Murah. Sebagai contoh, beras medium yang di pasar berkisar Rp14.000-Rp15.000 per kilogram, dijual Rp12.500 per kilogram di GPM. Gula pasir yang Rp17.000 di pasar, ditawarkan Rp15.000 per kilogram.
Minyak goreng kemasan sederhana di pasar mencapai Rp16.000-Rp17.000 per liter, namun di GPM hanya Rp14.000 per liter. Telur ayam ras yang biasa Rp32.000-Rp34.000 per kilogram, dijual Rp30.000. Bawang merah turun dari Rp45.000 menjadi Rp40.000 per kilogram.
Bawang putih juga mengalami penurunan harga dari Rp42.000 menjadi Rp38.000 per kilogram di GPM. Cabai merah, yang harganya bisa mencapai Rp70.000-Rp80.000 per kilogram di pasar, ditawarkan Rp65.000 per kilogram. Penurunan harga ini meringankan beban pengeluaran masyarakat.
Ketersediaan Stok dan Imbauan Belanja Bijak
Gerakan Pangan Murah Maluku juga merupakan bagian integral dari strategi pengendalian inflasi daerah. Koordinasi dilakukan melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Maluku. Pemantauan rutin harga dan ketersediaan stok di tingkat distributor serta pasar tradisional menjadi fokus utama.
Dinas Ketahanan Pangan Maluku memastikan bahwa stok pangan strategis di wilayah tersebut berada dalam kondisi aman. Ketersediaan beras, gula, dan minyak goreng diproyeksikan mencukupi hingga perayaan Ramadan dan Idul Fitri 2026. Pemerintah daerah juga telah menyiapkan langkah antisipatif.
Langkah antisipatif tersebut berupa operasi pasar tambahan jika terjadi lonjakan harga yang signifikan. Masyarakat diimbau untuk berbelanja secara bijak dan menghindari pembelian berlebihan. Pemerintah hadir untuk memastikan kebutuhan pokok tetap tersedia dan harganya terkendali.
Sumber: AntaraNews