Gencarkan Gerakan Pangan Murah, Pemkot Malang Jamin Kestabilan Harga Pangan di 34 Titik
Pemerintah Kota Malang menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di 34 lokasi untuk menjaga kestabilan harga pangan selama Ramadan. Simak detail lokasi dan dampaknya pada harga bahan pokok.
Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mengambil langkah proaktif untuk menjamin kestabilan harga pangan menjelang dan selama bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Inisiatif ini diwujudkan melalui penyelenggaraan program Gerakan Pangan Murah (GPM) yang masif. Program GPM ini akan dilaksanakan di 34 lokasi berbeda di seluruh wilayah Kota Malang, menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga daya beli masyarakat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan, menjelaskan bahwa pelaksanaan GPM ini merupakan hasil kolaborasi strategis dengan berbagai pihak. Mitra yang terlibat antara lain Bank Indonesia, Perum Bulog, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), memastikan ketersediaan pasokan dan harga yang terjangkau bagi warga.
GPM dijadwalkan berlangsung mulai 23 Februari hingga 17 Maret 2026, mencakup periode penting menjelang dan awal Ramadan. Titik-titik pelaksanaan GPM tersebar di kantor kelurahan dan kecamatan se-Kota Malang, memudahkan akses masyarakat untuk mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga stabil.
Kolaborasi Strategis dan Jangkauan Gerakan Pangan Murah
Pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kota Malang tidak hanya mengandalkan upaya Pemkot semata, melainkan melibatkan sinergi kuat dari berbagai lembaga. Keterlibatan Bank Indonesia, Perum Bulog, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) menjadi kunci dalam memastikan kelancaran distribusi dan ketersediaan komoditas pangan. Kerja sama ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem pangan yang lebih tangguh dan responsif terhadap fluktuasi harga pasar.
Slamet Husnan menegaskan, "Iya GPM sudah dijadwalkan, kami bekerja sama dengan banyak pihak, ada Bank Indonesia, Bulog, PT RNI, dan lain-lainnya," menunjukkan luasnya jangkauan kolaborasi ini. Dengan dukungan dari mitra strategis, GPM diharapkan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dan memberikan dampak positif yang signifikan terhadap stabilitas harga.
Sebanyak 34 titik GPM yang tersebar di kantor kelurahan dan kecamatan se-Kota Malang dipilih secara strategis untuk memaksimalkan aksesibilitas. Penempatan di lokasi-lokasi ini memudahkan warga untuk membeli kebutuhan pokok tanpa harus menempuh jarak yang jauh, sekaligus mengurangi potensi kerumunan di satu tempat. Jadwal pelaksanaan dari 23 Februari hingga 17 Maret 2026 juga telah disesuaikan untuk mengantisipasi peningkatan permintaan selama Ramadan.
Pemantauan Harga Pangan dan Kondisi Pasar Terkini
Berdasarkan pantauan terkini di laman Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur, harga bahan pokok di Kota Malang menunjukkan kondisi yang stabil. Komoditas utama seperti beras, minyak goreng, gula, daging ayam, daging sapi, hingga telur ayam, masih berada pada kisaran harga yang wajar. Stabilitas ini menjadi indikator keberhasilan upaya pemerintah dalam mengendalikan inflasi.
Kondisi serupa juga terpantau pada produk pertanian esensial, termasuk cabai merah besar, cabai rawit, bawang putih, dan bawang merah. Slamet Husnan secara khusus menyoroti penurunan harga cabai rawit yang signifikan. "Khusus cabai rawit, Slamet menyampaikan harga cabai rawit kini sudah mengalami penurunan Rp10 ribu jika dibandingkan ketika menjelang Ramadhan 1447 Hijriah." Penurunan ini sangat membantu meringankan beban pengeluaran rumah tangga.
Sebelumnya, menjelang Ramadan, harga cabai rawit sempat melonjak hingga Rp100 ribu per kilogram, menciptakan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Dengan adanya penurunan harga menjadi sekitar Rp94.666 per kilogram saat ini, upaya stabilisasi harga melalui GPM dan intervensi pasar lainnya mulai menunjukkan hasil positif. Pemantauan harga secara berkala melalui Siskaperbapo memastikan transparansi dan akurasi informasi bagi konsumen dan pelaku usaha.
Ketersediaan Stok dan Upaya Pengendalian Inflasi Daerah
Kestabilan harga pangan di Kota Malang tidak lepas dari ketersediaan stok yang memadai, sebagaimana data yang dirilis oleh Dispangtan Kota Malang. Stok beras tercatat sebesar 75.667,83 ton, minyak goreng 1.328,81 liter, dan gula 1.452 ton, menunjukkan pasokan yang aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Ketersediaan ini menjadi bantalan penting dalam menghadapi lonjakan permintaan.
Selain itu, stok komoditas hewani dan pertanian juga terpantau aman, meliputi telur ayam 470,5 ton, daging ayam 562,8 ton, daging sapi 231 ton, cabai rawit 219 ton, cabai merah besar 49,85 ton, bawang merah 246,92 ton, dan bawang putih 45,3 ton. Data ini mengindikasikan bahwa pasokan bahan pangan pokok di Kota Malang berada pada level yang cukup untuk periode Ramadan dan pasca-Ramadan.
Slamet menjelaskan bahwa kestabilan harga bahan pangan juga ditopang oleh upaya Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) serta Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) setempat. Mereka berupaya meningkatkan kerja sama antar daerah (KAD) untuk memenuhi pasokan, terutama untuk komoditas yang tidak diproduksi secara lokal. "Cabai merah besar dan cabai kecil (rawit) masuk dari Jawa Tengah dan Banyuwangi," ujarnya, menyoroti strategi diversifikasi sumber pasokan untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan.
Sumber: AntaraNews