Inflasi Kaltim Mei 2026 Terkendali di Angka 0,17 Persen, Transportasi Jadi Pemicu Utama
Inflasi Kaltim Mei 2026 tercatat 0,17% (mtm) dengan tekanan dari transportasi dan makanan. Simak bagaimana Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menjaga stabilitas harga di tengah kenaikan BBM dan aktivitas konsumsi.
Inflasi Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada Mei 2026 tetap menunjukkan tren terkendali, meskipun terjadi sedikit kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya. Indeks Harga Konsumen (IHK) Kaltim tercatat mengalami inflasi sebesar 0,17% secara bulanan (month to month/mtm). Angka ini sedikit lebih tinggi dari inflasi April 2026 yang berada di level 0,11% (mtm).
Kenaikan tipis ini mendorong inflasi tahunan (year on year/yoy) Kaltim mencapai 3,04%, sementara inflasi tahun kalender (year to date/ytd) berada di angka 1,65%. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim, Jajang Hermawan, menyampaikan bahwa tekanan inflasi utama bersumber dari kelompok transportasi. Hal ini seiring dengan meningkatnya tarif angkutan udara dan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
Pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kaltim terus memperkuat sinergi. Berbagai langkah strategis diimplementasikan untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan, terutama menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha 2026.
Tekanan Inflasi dari Sektor Transportasi dan Konsumsi
Kenaikan inflasi pada Mei 2026 di Kaltim sebagian besar dipicu oleh sektor transportasi. Hal ini disebabkan oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan avtur yang berdampak langsung pada biaya transportasi masyarakat. Jajang Hermawan menyoroti bahwa harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dex, dan Dexlite mengalami peningkatan rata-rata sekitar 9 persen pada periode laporan.
Selain itu, tarif angkutan udara juga turut berkontribusi terhadap tekanan inflasi. Kondisi ini mencerminkan dinamika pasar dan penyesuaian biaya operasional maskapai penerbangan. Peningkatan ini tentu saja memengaruhi anggaran transportasi masyarakat di Kaltim.
Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran juga memberikan andil terhadap laju inflasi Kaltim Mei 2026. Tingginya aktivitas konsumsi masyarakat menjadi salah satu faktor pendorong kenaikan harga di sektor ini. Hal ini mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat masih cukup kuat, namun perlu diimbangi dengan ketersediaan pasokan yang memadai.
Volatile Foods Jadi Penahan Laju Inflasi
Meskipun ada tekanan dari sektor transportasi dan konsumsi, laju inflasi yang lebih tinggi berhasil diredam oleh deflasi pada komponen volatile foods atau kelompok pangan bergejolak. Kelompok ini mencatat deflasi sebesar minus 1,09 persen (mtm).
Deflasi pada volatile foods ini mencerminkan membaiknya pasokan dan normalisasi harga sejumlah komoditas pangan strategis. Penurunan harga terutama bersumber dari komoditas seperti daging ayam ras, kangkung, dan ikan tongkol.
Secara komoditas, inflasi Kaltim Mei 2026 terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga angkutan udara, beras, minyak goreng, solar, dan sewa rumah. Sementara itu, komoditas yang berkontribusi menahan laju inflasi antara lain daging ayam ras, emas perhiasan, ikan layang atau benggol, kangkung, serta bahan bakar rumah tangga.
Sinergi TPID Kaltim Melalui Strategi 4K
Untuk menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi Kaltim Mei 2026, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di wilayah Kaltim terus memperkuat sinergi. Mereka mengimplementasikan strategi 4K, yang meliputi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Pada aspek keterjangkauan harga, TPID telah melaksanakan 60 kegiatan Gerakan Pangan Murah, operasi pasar, dan berbagai program stabilisasi harga lainnya selama Mei 2026. Kegiatan ini tersebar di berbagai daerah seperti Kota Samarinda, Kabupaten Berau, Kutai Timur, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Mahakam Ulu, serta Kota Bontang.
Dari sisi ketersediaan pasokan, TPID secara berkelanjutan memperkuat pemantauan stok dan memastikan kecukupan pasokan komoditas strategis. Fokus utama adalah persiapan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha. Upaya ini penting untuk mencegah kelangkaan dan lonjakan harga.
Sementara itu, pada aspek kelancaran distribusi, TPID meningkatkan koordinasi antarwilayah guna memastikan rantai pasok berjalan lancar. Mereka juga mengantisipasi potensi hambatan distribusi yang dapat memicu kenaikan harga. Langkah ini krusial untuk menjaga pasokan tetap stabil hingga ke tangan konsumen.
Adapun pada aspek komunikasi efektif, TPID Provinsi Kalimantan Timur secara rutin menggelar rapat koordinasi mingguan dan menyelenggarakan High Level Meeting (HLM) TPID Kota Samarinda. Ini merupakan langkah penguatan kesiapan pengendalian inflasi menjelang Iduladha 2026. TPID juga terus memperkuat komunikasi publik melalui penyampaian informasi terkait ketersediaan pasokan, perkembangan harga, serta edukasi belanja bijak kepada masyarakat. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali sekaligus mencegah perilaku konsumsi berlebihan menjelang HBKN Idul Adha.
Sumber: AntaraNews