BI Proyeksikan Ekonomi Kaltim Tumbuh 4,5-5,3 Persen, Didorong Industri Migas dan IKN
Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Timur memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Kaltim akan mencapai 4,5-5,3 persen pada tahun 2026, didorong oleh penguatan industri migas dan proyek strategis IKN.
Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi daerah ini akan mencapai kisaran 4,5 hingga 5,3 persen pada tahun 2026. Angka optimis ini didukung oleh berbagai faktor kunci, termasuk peningkatan kapasitas industri pengolahan minyak dan gas (migas) serta keberlanjutan proyek strategis nasional. Proyeksi ini mencerminkan potensi besar Kaltim dalam menghadapi dinamika ekonomi regional dan nasional.
Pelaksana Harian Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Kaltim, Bayuadi Hardiyanto, menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Kaltim pada tahun 2025 diperkirakan berada di rentang 4,8-5,6 persen (year on year/yoy). Kemudian, pada tahun 2026, proyeksi pertumbuhan tetap kuat di kisaran 4,5-5,3 persen yoy. Hal ini menunjukkan tren positif yang berkelanjutan bagi perekonomian provinsi tersebut.
Peningkatan ini tidak hanya berasal dari sektor migas, tetapi juga dari sektor agribisnis, manufaktur, dan pengolahan minyak kelapa sawit (CPO). Selain itu, ekspansi industri hilirisasi baru dan proyek konstruksi pemerintah serta swasta, termasuk pembangunan di Ibu Kota Nusantara (IKN), turut menjadi pendorong utama. Proyeksi ini sejalan dengan target Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kaltim 2026 yang menargetkan pertumbuhan 6,60-7,20 persen yoy.
Pendorong Utama Pertumbuhan Ekonomi Kaltim
Pertumbuhan ekonomi Kaltim yang diproyeksikan Bank Indonesia didukung oleh beberapa sektor strategis. Peningkatan kapasitas industri refinery minyak dan gas (migas) menjadi salah satu motor penggerak utama. Sektor ini terus menunjukkan kinerja yang solid, memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan daerah dan penciptaan lapangan kerja.
Selain migas, sektor agribisnis dan manufaktur juga berperan penting. Peningkatan produksi dan pengolahan minyak kelapa sawit (CPO) turut mendongkrak perekonomian lokal. Ekspansi dan potensi penambahan industri hilirisasi baru diharapkan dapat menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi bagi komoditas Kaltim.
Proyek-proyek konstruksi, baik yang digagas pemerintah maupun swasta, juga menjadi penopang kuat. Terutama, proyek-proyek di Ibu Kota Nusantara (IKN) memberikan dampak berganda yang substansial, menarik investasi dan memicu aktivitas ekonomi di berbagai sektor. Keberadaan IKN di Kaltim menjadi katalisator penting bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Inflasi Terjaga di Tengah Tantangan Global
Di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi yang positif, inflasi di Kalimantan Timur diperkirakan tetap terjaga dalam sasaran nasional, yaitu 2,5±1 persen. Pencapaian ini didukung oleh penguatan koordinasi pengendalian inflasi serta pemanfaatan berbagai inovasi kebijakan daerah. Upaya kolaboratif ini memastikan stabilitas harga tetap terjaga, mendukung daya beli masyarakat.
Meskipun demikian, ada beberapa tantangan yang perlu diantisipasi. Tren harga emas dan minyak dunia yang diproyeksikan meningkat dapat memicu tekanan inflasi. Selain itu, gejolak iklim berisiko mengganggu produktivitas tanaman pangan, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi harga komoditas utama. Namun, sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di seluruh wilayah Kaltim diharapkan mampu meredam dampak tersebut.
Bayuadi Hardiyanto menekankan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak untuk menjaga stabilitas ekonomi. Inflasi Kaltim tahun 2026 diproyeksikan tetap terkendali berkat sinergi kuat dari TPID, mulai dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi. Koordinasi yang efektif ini menjadi kunci dalam menjaga stabilitas harga di tengah berbagai tantangan eksternal.
Sinergi dan Kolaborasi untuk Ekonomi Berdaya Tahan
Bank Indonesia Provinsi Kaltim secara aktif meningkatkan sinergi dan kolaborasi dengan mitra strategisnya. Hal ini terlihat dari penyelenggaraan Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) yang mengangkat tema “Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan”. Acara ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan penting.
Kegiatan PTBI yang diselenggarakan pada 28 November 2025 tersebut dihadiri oleh Asisten II Provinsi Kaltim Ujang Rachmad, wali kota dan bupati se-Kaltim, serta pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD). Selain itu, pimpinan instansi vertikal, pimpinan perbankan, akademisi, mitra kerja BI, dan pelaku usaha di Kaltim turut hadir untuk membahas arah kebijakan ekonomi.
Bayuadi menegaskan, “Kolaborasi terhadap berbagai kebijakan dan program yang telah terjalin hingga saat ini sangat penting dalam menjaga stabilitas ekonomi Kaltim. Kuatnya kolaborasi ini, maka kinerja ekonomi Kaltim ke depan tentu tetap tumbuh positif.” Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen untuk terus memperkuat kerja sama demi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah.
Sumber: AntaraNews