Indonesia Eximbank Waspadai Tekanan Margin di Tengah Gejolak Global, Target Ekspor Masih Dijaga
Sulaeman mengingatkan bahwa tekanan mulai terlihat terutama dari sisi biaya produksi, khususnya bagi sektor manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor.
Direktur Pelaksana Bisnis II, Indonesia Eximbank, Sulaeman menyatakan kinerja pembiayaan ekspor hingga saat ini masih berjalan stabil meski dibayangi ketidakpastian geopolitik global. Seluruh pipeline pembiayaan yang dimiliki Indonesia Eximbank disebut masih "ongoing" dan beroperasi dengan baik.
Namun demikian, Sulaeman mengingatkan bahwa tekanan mulai terlihat terutama dari sisi biaya produksi, khususnya bagi sektor manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan harga bahan baku seperti plastik untuk kemasan dinilai akan berdampak langsung terhadap margin perusahaan.
"Yang harus dilihat ke depan adalah seberapa besar dampaknya terhadap margin masing-masing perusahaan. Ini yang sedang kami antisipasi melalui berbagai skenario, termasuk stress testing,” ujar Sulaeman, di Gersik, Jawa Timur, Jumat (17/4).
Konflik Global
Ia menambahkan, ketidakpastian durasi konflik global menjadi faktor kunci yang sulit diprediksi. Jika berlangsung lebih lama, dampaknya berpotensi meluas, termasuk pada harga energi seperti minyak bumi yang turut memengaruhi biaya produksi.
Meski demikian, Indonesia Eximbank belum melakukan revisi terhadap target ekspor maupun proyeksi pertumbuhan pembiayaan tahun ini. Perseroan tetap mempertahankan target pertumbuhan portofolio sekitar 10 persen dari posisi tahun lalu sebesar Rp36 triliun.
Strategi kehati-hatian dilakukan melalui pemilihan sektor berbasis “industry guideline” yang telah disusun sebelumnya. Sektor-sektor yang dinilai relatif tahan terhadap gejolak global tetap menjadi fokus pembiayaan.
Dapat Keuntungan
Di sisi lain, eksportir tertentu justru mendapatkan keuntungan dari pelemahan nilai tukar rupiah. Namun, Sulaeman mengakui bahwa eksportir dengan tujuan negara-negara terdampak konflik mulai merasakan tekanan, termasuk pembatalan transaksi di kawasan Timur Tengah.
Untuk mengurangi risiko tersebut, Indonesia Eximbank mendorong diversifikasi pasar ekspor melalui pengembangan tujuan non-tradisional. Selain pasar utama seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang, kawasan Afrika dan Asia Selatan kini menjadi target ekspansi baru.
"Diversifikasi ini penting agar eksportir tidak bergantung pada pasar tertentu, terutama yang rentan terhadap konflik," katanya.
Rekonstruksi Pascakonflik
Sulaeman juga melihat peluang di tengah konflik, terutama dalam fase rekonstruksi pascakonflik. Permintaan terhadap produk tertentu seperti material konstruksi diperkirakan akan meningkat, membuka peluang baru bagi eksportir Indonesia.
Dari sisi strategi bisnis, Indonesia Eximbank terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk kementerian dan lembaga, untuk memperluas pipeline eksportir. Pendekatan berbasis ekosistem dan asosiasi dinilai lebih efektif dalam menjaring pelaku usaha potensial.
Dalam komposisi portofolio, perseroan menargetkan keseimbangan antara segmen korporasi dan usaha kecil menengah (UKM). Pertumbuhan segmen UKM dan komersial diharapkan dapat melampaui 10 persen guna menopang pertumbuhan total portofolio.
"Semakin besar pipeline yang kita miliki, semakin leluasa kita memilih sektor dan pelaku usaha yang paling potensial," katanya.