Ekonomi RI 2025 Tangguh, Ini Bukti Menurut Anak Buah Purbaya
Aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan kinerja positif di akhir tahun 2025. PMI Manufaktur Desember 2025 tercatat sebesar 51,2.
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menyatakan perekonomian Indonesia pada akhir 2025 menunjukkan ketahanan yang kuat menghadapi berbagai tekanan, menjadi landasan positif bagi kinerja ekonomi ke depan.
"Perekonomian Indonesia di penutup tahun 2025 tetap resilien, didukung aktivitas manufaktur yang ekspansif, inflasi yang terkendali, serta neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus. Faktor-faktor tersebut menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat di tahun 2026," ujar Febrio di Jakarta, Selasa (6/1).
Aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan kinerja positif di akhir tahun 2025. PMI Manufaktur Desember 2025 tercatat sebesar 51,2; ekspansif selama lima bulan berturut-turut.
"Kinerja positif ini didukung kuatnya permintaan domestik, peningkatan ketenagakerjaan, serta aktivitas pembelian bahan baku," ujarnya.
Optimisme pelaku usaha juga menguat dan mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, mencerminkan keyakinan terhadap prospek sektor manufaktur ke depan.
Dari sisi global, aktivitas manufaktur negara mitra utama Indonesia secara umum juga berada di zona ekspansif seperti Amerika Serikat (51,8), China (50,1), dan India (55,7). Di kawasan ASEAN, PMI manufaktur Thailand (57,4) dan Malaysia (50,1) juga menguat, memberikan sinyal positif bagi permintaan ekspor Indonesia.
Neraca Perdagangan RI
Pada November 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus USD2,66 miliar, melanjutkan tren yang telah berlangsung sejak Mei 2020.
Secara kumulatif Januari – November 2025, neraca perdagangan mencatat surplus sebesar USD38,54 miliar, naik USD9,30 miliar (ctc). Ekspor Januari – November 2025 tercatat sebesar USD256,56 miliar, meningkat 5,61 % (ctc).
"Peningkatan ekspor terutama disumbang oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi 10,41 %, mencerminkan meningkatnya nilai tambah ekspor nasional," ujarnya.
Kinerja Impor
Sementara itu, impor pada periode yang sama tercatat sebesar USD218,02 miliar, naik 2,03 % (ctc). Penyumbang utama peningkatan impor adalah dari sisi impor Barang Modal dengan kontribusi 3,28%, sejalan dengan aktivitas produksi yang ekspansif.
"Ke depan, dorongan terhadap keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam, peningkatan daya saing produk ekspor nasional, serta diversifikasi mitra dagang utama akan terus diperkuat untuk mengantisipasi berbagai dinamika global," ujarnya.
Stabilitas harga di tahun 2025 tetap terjaga tercermin dari tingkat inflasi yang terkendali sebesar 2,92% (yoy). Tingkat inflasi Desember 2025 dipengaruhi oleh naiknya harga beberapa komoditas pangan di tengah tetap menguatnya inflasi inti dan rendahnya inflasi administered price (AP).
Gangguan cuaca dan kendala distribusi mendorong naiknya inflasi volatile food hingga mencapai 6,21% (yoy), dipengaruhi oleh komoditas aneka cabai, beras, dan ikan segar. Inflasi AP tercatat sedikit meningkat menjadi 1,93% (yoy) yang didorong oleh kenaikan harga bensin nonsubsidi dan tarif transportasi di periode Nataru.