Pemerintah Klaim Ekonomi Indonesia Tetap Kuat, Ini Buktinya
Beberapa indikator makroekonomi masih memperlihatkan hasil yang positif.
Presiden Prabowo Subianto mengadakan rapat terbatas dengan jajaran Kabinet Merah Putih serta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Merdeka, Jakarta pada Selasa (5/5/2026). Dalam pertemuan tersebut, pemerintah menyampaikan laporan mengenai kondisi ekonomi nasional pada kuartal I 2026 yang dinilai tetap stabil di tengah perubahan yang terjadi di tingkat global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa sejumlah indikator makro menunjukkan performa yang positif. Sebagai contoh, inflasi berhasil ditekan menjadi 2,42% pada bulan Maret, yang turun dari 3,48% pada periode sebelumnya.
"Secara indikator makro, inflasi bisa dijaga di 2,42% pada Maret," ujar Airlangga dalam keterangannya, seperti yang dikutip pada Rabu (6/5/2026).
Di sektor keuangan, pertumbuhan kredit tercatat mencapai 9,49%, sementara dana pihak ketiga mengalami pertumbuhan sebesar 13,55%. Menurut Airlangga, angka-angka tersebut mencerminkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap perbankan yang masih kuat. Meskipun demikian, rapat ini juga menyoroti adanya tekanan di pasar keuangan, terutama yang berkaitan dengan aliran modal keluar (capital outflow).
Pemerintah bersama otoritas terkait telah melakukan kajian untuk memahami penyebabnya dan menyiapkan langkah-langkah mitigasi. Untuk memastikan stabilitas di masa depan, pemerintah sepakat untuk memperkuat koordinasi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan, khususnya dalam menjaga nilai tukar rupiah.
Dalam hal regulasi, pemerintah memastikan bahwa revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 tentang devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) telah selesai. Aturan baru ini akan mulai berlaku pada 1 Juni 2026. Dalam ketentuan tersebut, eksportir diwajibkan untuk menempatkan DHE SDA di perbankan nasional (Himbara) dan mengonversi maksimal 50% ke dalam rupiah. Sementara itu, untuk sektor ekstraktif seperti minyak dan gas, skema yang berlaku tetap sama, yaitu penempatan selama tiga bulan.
Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen
Dari segi pertumbuhan, pemerintah melaporkan bahwa ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 5,61% pada kuartal I tahun 2026. Angka ini dianggap lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara G20 lainnya dan juga melebihi proyeksi dari berbagai lembaga yang rata-rata berada di kisaran 5,2%.
"Pertumbuhan ini ditopang konsumsi masyarakat dan pemerintah yang meningkat, serta kinerja ekspor-impor yang tetap positif," kata Airlangga. Ia juga menambahkan bahwa hampir semua sektor usaha menunjukkan pertumbuhan, termasuk industri, perdagangan, administrasi pemerintahan, jasa, transportasi dan pergudangan, serta pertanian dan konstruksi.
Pemerintah optimis bahwa tren positif ini akan terus berlanjut meskipun masih ada tantangan eksternal yang mengancam. Sejumlah langkah strategis akan diambil untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi agar tetap stabil. Dengan dukungan dari berbagai sektor, diharapkan perekonomian Indonesia dapat beradaptasi dan bertahan dalam menghadapi kondisi global yang dinamis. Selain itu, peningkatan investasi dan inovasi di sektor-sektor kunci juga akan menjadi fokus utama untuk memperkuat daya saing nasional.