Wali Kota Makassar Resmikan Cetiya Zhen An Kong, Ajak Jaga Toleransi dan Stabilitas Daerah
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, meresmikan Cetiya Zhen An Kong "Sam Ong Hu" di Jalan Pangeran Diponegoro, Makassar, dengan harapan peresmian Cetiya ini dapat memperkuat toleransi dan stabilitas daerah.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, secara resmi meresmikan Cetiya Zhen An Kong "Sam Ong Hu" di Jalan Pangeran Diponegoro, Kota Makassar, Sulawesi Selatan pada Sabtu (13/6). Peresmian rumah ibadah umat Buddha ini ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Munafri Arifuddin. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi kerukunan antarumat beragama di kota tersebut.
Dalam sambutannya, Wali Kota Munafri Arifuddin mengungkapkan kekagumannya terhadap arsitektur dan detail bangunan cetiya yang modern. Ia mengapresiasi upaya pembangunan rumah ibadah yang sangat proper dengan ornamen khas Tionghoa yang luar biasa. Peresmian ini menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung kebebasan beribadah warganya.
Lebih dari sekadar tempat ibadah, Munafri Arifuddin menekankan bahwa cetiya harus berfungsi sebagai ruang interaksi sosial. Ia mengajak seluruh pengurus untuk membangun toleransi dan memperhatikan masyarakat sekitar. Hal ini bertujuan untuk memperkuat nilai kebersamaan serta kerukunan di Kota Makassar.
Keindahan Arsitektur dan Fungsi Sosial Cetiya
Wali Kota Munafri Arifuddin tidak dapat menyembunyikan kekagumannya saat melihat Cetiya Zhen An Kong. "Saya benar-benar takjub melihat rumah ibadah ini dibuat dengan sangat serius, sangat proper. Semua ornamennya, detailnya, benar-benar sangat luar biasa," ujarnya di Makassar, Sabtu. Bangunan dua lantai ini memadukan desain modern dengan sentuhan arsitektur dan interior khas Tionghoa yang sangat diperhatikan.
Meskipun mengapresiasi keindahan fisik bangunan, Munafri Arifuddin menegaskan bahwa fungsi rumah ibadah tidak hanya terbatas pada kegiatan peribadatan semata. Ia menekankan pentingnya peran cetiya sebagai pusat interaksi sosial yang mampu mempererat hubungan antar-masyarakat. Fungsi ini krusial dalam membangun jembatan komunikasi di tengah keberagaman.
Munafri Arifuddin mengajak pengurus Cetiya Zhen An Kong untuk aktif membangun toleransi dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. "Rumah ibadah harus menjadi tempat asimilasi bagi para penganut agama untuk bersosialisasi dengan masyarakat di sekitarnya," katanya. Ia menambahkan bahwa bukan hanya bangunan yang bagus, tetapi juga bagaimana perhatian diberikan kepada saudara-saudara di sekitar rumah ibadah.
Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya pemerintah kota untuk memperkuat nilai kebersamaan dan kerukunan. Dengan demikian, Cetiya Zhen An Kong diharapkan dapat menjadi contoh nyata dari rumah ibadah yang tidak hanya melayani kebutuhan spiritual, tetapi juga sosial kemasyarakatan.
Makassar sebagai Kota Toleran dan Dampak Positifnya
Menurut Wali Kota Munafri Arifuddin, toleransi merupakan modal fundamental dalam menjaga stabilitas daerah. Ia bangga dengan capaian Kota Makassar yang berhasil masuk dalam 10 besar kota toleran di Indonesia. "Alhamdulillah Kota Makassar tahun ini sudah masuk 10 besar kota toleransi di Indonesia, berada di peringkat sembilan," ungkapnya.
Pencapaian ini, lanjut Munafri, harus terus dipertahankan melalui kolaborasi aktif dari seluruh elemen masyarakat. Ia menekankan pentingnya membangun kebersamaan di tengah keberagaman yang dimiliki Kota Makassar. Semangat toleransi ini menjadi cerminan kematangan sosial masyarakatnya.
Munafri Arifuddin menjelaskan bahwa kehidupan masyarakat yang harmonis akan secara langsung melahirkan stabilitas sosial yang kuat. Kondisi positif ini pada gilirannya akan memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan investasi dan perekonomian daerah. Stabilitas adalah kunci untuk menarik investor dan menciptakan lapangan kerja.
"Toleransi sangat penting untuk menjaga stabilitas sebuah daerah. Kalau stabilitasnya bagus, investasinya akan lancar. Kalau investasi aman, makin banyak orang datang ke Makassar membawa peluang ekonomi, dan pada akhirnya masyarakat akan semakin sejahtera," jelasnya. Oleh karena itu, keberadaan Cetiya Zhen An Kong diharapkan dapat memperkuat nilai toleransi serta menjadi simbol pembangunan Kota Makassar yang inklusif dan harmonis.
Kegiatan peresmian Cetiya Zhen An Kong ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat Buddha. Di antaranya adalah Ketua DPD Walubi Sulawesi Selatan, Henry Sumitomo, serta Ketua DPD Majubuthi Sulawesi Selatan, Pendeta Roy Rushim. Kehadiran para tokoh ini menunjukkan dukungan komunitas Buddha terhadap peresmian rumah ibadah ini.
Sumber: AntaraNews