Sosok Taufik Hidayat yang Sekap dan Aniaya Kekasih di Mata Psikolog, Alami Gangguan Kepribadian?

Kekerasan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan bisa berupa kekerasan fisik maupun psikis yang biasanya membentuk sebuah siklus berulang.

Azzura Galexia
Oleh Azzura Galexia - Reporter
Sosok Taufik Hidayat yang Sekap dan Aniaya Kekasih di Mata Psikolog, Alami Gangguan Kepribadian?
Sosok Taufik Hidayat yang Sekap dan Aniaya Kekasih di Mata Psikolog, Alami Gangguan Kepribadian? (Merdeka.com)

Kasus penganiayaan dan penyekapan yang dilakukan oleh Taufik Hidayat (30) terhadap kekasihnya, Yuvita Tri Rezeki (29) selama tiga tahun di Cileunyi, Kabupaten Bandung, menyita perhatian publik. Akibat tindakan keji tersebut, korban menderita luka berat di sejumlah bagian tubuh hingga mengalami trauma mendalam.

Merespons kasus tersebut, Psikolog Klinis sekaligus Dosen Departemen Psikologi Klinis dan Kesehatan Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran (Unpad), Kustimah Usri memberikan pandangannya. Menurutnya, kekerasan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan bisa berupa kekerasan fisik maupun psikis yang biasanya membentuk sebuah siklus berulang.

Kustimah menjelaskan, aksi kekerasan semacam itu setidaknya dilatarbelakangi oleh tiga faktor utama. Pertama, faktor personal yang berkaitan erat dengan kepribadian pelaku. Ada kemungkinan pelaku memiliki pengalaman pahit masa lalu atau tumbuh di lingkungan keluarga yang sarat akan kekerasan.

"Mungkin tumbuh dalam suasana keluarga yang memang terbiasa melakukan kekerasan, sehingga kekerasan itu dianggap sebagai cara normal untuk menyelesaikan masalah ya," ujar Kustimah saat dihubungi, Kamis (25/6).

Faktor kedua berasal dari dinamika hubungan pelaku dan korban. Ia mencontohkan, adanya tekanan ekonomi yang memicu stres sering kali membuat korban menjadi sasaran pelampiasan emosi. Di samping itu, rasa cemburu buta dan sikap posesif yang berlebihan juga kerap menjadi pemicu.

"Misalnya, pelaku selalu diliputi rasa curiga pada korban, muncul pemikiran irasional yang tidak biasa sehingga memicu KDRT. Artinya masih banyak kemungkinan ya," tutur dia.

Selanjutnya, faktor ketiga adalah norma sosial. Kustimah memandang budaya patriarki yang masih mengakar di masyarakat acap kali membuat pelaku (laki-laki) merasa lebih superior dari korban.

"Bisa saja pelaku merasa harga dirinya terluka dan tertantang untuk melakukan KDRT sebagai bentuk 'mendisiplinkan' pasangan," ungkap dia.

Potensi Gangguan Kepribadian

Terkait dugaan adanya gangguan kepribadian pada pelaku, Kustimah tidak menampik kemungkinan tersebut. Perilaku abnormal biasanya ditandai dengan hilangnya rasa empati, tidak adanya perasaan bersalah kepada korban, emosi yang tidak stabil, hingga kesulitan mengelola amarah.

"Pada kondisi normal, seseorang harusnya bisa mengelola emosinya. Walaupun sedang diliputi amarah, tindakan kekerasan apalagi merugikan orang lain pastinya tidak akan terjadi," kata dia.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa vonis atau label gangguan kepribadian tidak bisa serta-merta disematkan kepada pelaku. Diperlukan pemeriksaan psikologis lebih mendalam oleh pihak kepolisian dengan melibatkan ahli di bidangnya.

Fokus Pemulihan Korban

Kini, Kustimah menekankan bahwa langkah paling krusial adalah memulihkan kondisi fisik dan psikis Yuvita. Korban harus mendapatkan penanganan dan perlindungan ekstra agar tidak kembali terjerumus ke dalam siklus kekerasan yang sama.

"Fokusnya ke pemulihan traumanya, kemudian mengembalikan fungsi psikologisnya untuk dapat berpikir lebih jernih, membangun relasi kembali, mengelola emosi dan menjadi lebih tenang," jelas dia.

Sebagai informasi, jajaran kepolisian telah menangkap Taufik di wilayah Majalaya, Kabupaten Bandung, pada Selasa (23/6). Pelaku diringkus di rumah kerabatnya setelah sebelumnya sempat melarikan diri ke Tangerang.

Aksi penyekapan dan penganiayaan sadis itu dilakukan Taufik di sebuah kamar indekos di Cileunyi. Selama tiga tahun disekap dan disiksa, Yuvita mengalami luka parah di bagian kepala, wajah, dan kaki yang mengakibatkan dirinya tak dapat melihat, berjalan, serta berbicara dengan normal.

Rekomendasi