Tegas, Menlu Sugiono Ungkap Kekuatan Makroekonomi Indonesia Kunci Hadapi Tantangan Global
Menlu Sugiono mengungkapkan bahwa stabilitas fondasi makroekonomi Indonesia merupakan aset penting untuk meningkatkan posisi RI di tingkat global.
Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan bahwa kekuatan makroekonomi Indonesia yang solid merupakan aset utama untuk meningkatkan posisi Indonesia di arena internasional. Menlu Sugiono juga menjelaskan bahwa stabilitas ini menjadi dasar yang krusial bagi Indonesia untuk berkontribusi secara aktif dalam berbagai inisiatif ekonomi global.
Kekuatan ekonomi nasional tercermin dari sejumlah indikator makroekonomi yang tetap konsisten sepanjang tahun 2025. Salah satu indikator tersebut adalah inflasi yang tercatat pada angka 2,92 persen, yang menunjukkan kondisi yang stabil dan terjaga. Selain itu, Indonesia berhasil mencatat surplus neraca perdagangan sebesar USD 38,54 miliar selama periode Januari hingga November 2025.
"Di tengah perlambatan ekonomi global dan economic coercion, Indonesia hadir dengan fondasi yang kokoh, dengan angka pertumbuhan yang berada di atas rata-rata dunia, dengan inflasi yang terkendali, surplus perdagangan, dan tingkat realisasi investasi yang tetap tinggi. Fondasi ekonomi yang stabil ini memperkuat posisi Indonesia di panggung dunia," ujar Sugiono dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri, Rabu (14/1).
Ia juga menambahkan bahwa fondasi ekonomi yang kuat ini menjadi modal penting bagi Indonesia dalam menghadapi dinamika serta ketidakpastian global yang terus berkembang.
Diplomasi Ekonomi Indonesia
Sugiono mengungkapkan bahwa ketahanan ekonomi nasional yang solid memungkinkan Indonesia untuk mengurangi dampak negatif dari perlambatan dan tekanan ekonomi global. Saat ini, banyak negara yang memanfaatkan kebijakan ekonomi sebagai alat untuk menekan secara geopolitik. Ia menjelaskan bahwa aspek perdagangan, investasi, dan teknologi sering kali digunakan sebagai instrumen strategis dalam persaingan di tingkat global.
Hal ini menuntut setiap negara, termasuk Indonesia, untuk memiliki ketahanan ekonomi yang cukup. "Weaponization of economic policies is a sign of our time today," ujarnya. Dalam konteks kenyataan baru ini, kekuatan ekonomi suatu negara tidak hanya diukur dari angka pertumbuhannya, tetapi juga dari kemampuannya untuk bertahan dan beradaptasi," tambahnya.
Sejalan dengan pernyataan tersebut, diplomasi ekonomi Indonesia kini diarahkan untuk memperkuat ketahanan serta melakukan diversifikasi ekonomi. Sugiono juga menyebutkan bahwa Indonesia telah menjalin kerja sama ekonomi dengan Kanada, Peru, dan Eurasian Economic Union.
Selain itu, Indonesia telah menyelesaikan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) dengan Uni Eropa. Langkah-langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global dan memperkuat posisi ekonomi nasional dalam menghadapi tantangan yang ada.
Pentingnya Penguatan Hubungan Ekonomi Antar Negara
Selain memperluas kerja sama di tingkat bilateral dan regional, Indonesia juga telah resmi menjadi anggota BRICS sejak Januari tahun lalu. Keanggotaan ini dianggap penting untuk mendorong reformasi dalam tata kelola global, serta membuka peluang baru dalam perdagangan dan investasi bagi Indonesia.
Kementerian Luar Negeri berkomitmen untuk memperkuat hubungan ekonomi dengan mitra nontradisional, termasuk negara-negara Afrika seperti Rwanda, dengan tujuan mengurangi ketergantungan pada mitra-mitra lama. "Diversifikasi mitra ini dilakukan dengan satu kesadaran untuk mengurangi risiko atau derisking dari gejolak dan perlambatan ekonomi yang dihadapi oleh mitra-mitra tradisional," ungkap Sugiono.
Ke depan, Kementerian Luar Negeri sedang menginisiasi pembentukan Direktorat Jenderal Hubungan Ekonomi dan Kerja Sama Pembangunan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat dukungan institusional terhadap diplomasi ekonomi.
"Seluruhnya merupakan bagian dari diplomasi ekonomi yang berorientasi pada value creation untuk mendukung pertumbuhan ekonomi seperti yang sudah ditargetkan oleh Presiden Prabowo Soetianto. Tentunya kita memerlukan strategi yang jelas dan dukungan institusional yang kuat," tuturnya.