HUT ke-80 ESDM: Bahlil Lahadalia Ingatkan, Pertambangan Bertanggung Jawab Bukan Sekadar Slogan, tapi Kunci Keberlanjutan
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan pentingnya praktik pertambangan bertanggung jawab di HUT ke-80 kementerian. Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga pemerataan ekonomi. Bagaimana ESDM mewujudkannya?
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyerukan pentingnya praktik pertambangan bertanggung jawab dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kementerian ESDM. Seruan ini disampaikan Bahlil setelah menghadiri Upacara Hari Jadi Pertambangan dan Energi yang berlangsung di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, pada Jumat (25/10). Pesan ini bertujuan untuk menjamin keberlanjutan sektor pertambangan di Indonesia bagi generasi mendatang.
Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pengelolaan tambang harus berkelanjutan dan tidak hanya berorientasi pada eksploitasi semata. Ia menekankan perlunya pengelolaan lingkungan yang berkeadilan dan sesuai dengan aturan yang berlaku. Hal ini menjadi krusial untuk memastikan bahwa sumber daya alam dapat dimanfaatkan secara bijak tanpa merusak lingkungan.
Lebih lanjut, Bahlil juga menyoroti aspek keadilan ekonomi dalam pertambangan. Ia tidak ingin sektor ini hanya dikuasai oleh pengusaha besar, melainkan harus memberikan dampak positif yang signifikan kepada masyarakat di sekitar wilayah konsesi. Ini termasuk melibatkan pengusaha daerah, koperasi, dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam pengelolaan pertambangan mineral dan batu bara.
Mewujudkan Pertambangan Berkelanjutan dan Berkeadilan
Menteri Bahlil Lahadalia secara tegas menyampaikan bahwa pertambangan di Indonesia harus dikelola dengan prinsip keberlanjutan. "Tambang-tambang ini dikelola harus berkelanjutan, jangan berpikir bahwa tambang ini sekali dikelola habis," ujarnya, menekankan pentingnya visi jangka panjang dalam eksploitasi sumber daya alam. Prinsip ini mencakup aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi untuk memastikan manfaat maksimal tanpa mengorbankan masa depan.
Pentingnya praktik pertambangan bertanggung jawab juga diwujudkan melalui pengelolaan lingkungan yang berkeadilan. Bahlil menitikberatkan pada kepatuhan terhadap regulasi dan standar lingkungan yang ketat. Tujuannya adalah untuk meminimalkan dampak negatif pertambangan terhadap ekosistem dan masyarakat sekitar, serta memastikan rehabilitasi pasca-tambang dilakukan secara optimal.
Selain aspek lingkungan, Bahlil juga mendorong pemerataan kesempatan dalam pengelolaan sektor pertambangan. Ia secara eksplisit menyatakan keinginan agar pengusaha-pengusaha daerah, BUMD, dan koperasi dapat terlibat aktif. "Jangan hanya pengusaha besar, pengusaha-pengusaha daerah, BUMD (harus terlibat)," tegasnya, menggarisbawahi upaya pemerintah untuk membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi entitas lokal.
Capaian dan Target Kementerian ESDM
Dalam kesempatan yang sama, Bahlil Lahadalia memaparkan sejumlah capaian signifikan Kementerian ESDM sepanjang satu tahun terakhir. Salah satunya adalah peningkatan lifting minyak yang rata-rata mencapai 605-607 ribu barel per hari dari Januari hingga Oktober, melampaui target APBN sebesar 605 ribu barel per hari. Capaian ini menunjukkan efektivitas strategi yang diterapkan dalam sektor hulu migas.
Selain itu, Kementerian ESDM juga berhasil menerapkan mandatori biodiesel 40 (B40), sebuah langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan. Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada stabilitas harga komoditas sawit di dalam negeri.
Bahlil juga optimis terhadap penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Kementerian ESDM. "Dan insya Allah, di 31 Desember, target PNBP kita bisa mencapai, bahkan melebihi target APBN," kata Bahlil, menunjukkan proyeksi positif terhadap kontribusi sektor energi dan sumber daya mineral bagi keuangan negara. Ini juga didukung oleh upaya memberikan prioritas kepada UKM, koperasi, dan BUMD dalam pengelolaan pertambangan serta sumur rakyat.
Komitmen Anti-Korupsi dan Peningkatan Kinerja
Dalam pidatonya, Menteri Bahlil Lahadalia tidak hanya berbicara mengenai capaian, tetapi juga menegaskan komitmen terhadap integritas dan kinerja aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kementerian ESDM. Ia menyampaikan rencana untuk menaikkan tunjangan kinerja (tukin) bagi ASN hingga 100 persen, sebagai bentuk apresiasi dan motivasi. Namun, kenaikan ini dibarengi dengan tuntutan kinerja yang lebih tinggi dan bebas dari praktik korupsi.
Bahlil secara tegas mengingatkan para pejabat untuk tidak lagi menggunakan "gaya-gaya lama" yang tidak sesuai prosedur. "Kepada semua aparat negara yang ada di ESDM, berikanlah kontribusi terbaiknya dalam rangka membangun bangsa dan negara. Jangan lagi pakai gaya-gaya lama, terutama kepada dirjen-dirjen yang memberikan izin," ujarnya, menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam setiap pengambilan keputusan.
Ia juga tidak segan untuk mengambil tindakan tegas terhadap pejabat yang melanggar aturan. Bahlil menyatakan akan "merumahkan" pejabat-pejabat yang terbukti melakukan langkah-langkah di luar prosedur. Hal ini menunjukkan keseriusan Kementerian ESDM dalam menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih dan efektif, demi mewujudkan sektor energi dan sumber daya mineral yang lebih baik.
Sumber: AntaraNews