Bahlil Jelaskan Mekanisme Harga BBM dan LPG Nonsubsidi
Setelah penyesuaian harga Pertamax Turbo dan LPG 12 kg, pemerintah menjamin ketersediaan stok energi nasional tetap aman.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa ada kemungkinan penyesuaian harga BBM non-subsidi di masa mendatang. Hal ini disampaikan setelah Pertamina melakukan penyesuaian harga untuk Pertamina Turbo (RON 98), Dexlite (CN 51), dan Pertamina Dex (CN 53) pada 18 April 2026. Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022, yang merupakan perubahan dari Kepmen ESDM Nomor 62 K/12/MEM/2020, badan usaha diberikan kewenangan untuk menyesuaikan harga BBM non-subsidi setiap bulan.
Meski demikian, Bahlil menekankan bahwa penyesuaian harga tidak selalu berarti kenaikan. Menurutnya, harga keekonomian BBM bisa saja menurun mengikuti fluktuasi harga minyak dunia.
"Saya katakan bahwa kalau untuk BBM nonsubsidi itu ada penyesuaian harga, tahap pertama sekarang. Tahap berikutnya kita lihat penyesuaian. Kalau harganya turun, ya tidak naik. Tetapi kalau harga naik, mungkin akan ada penyesuaian," ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada Senin (20/4/2026).
Di sisi lain, ia memastikan bahwa harga BBM subsidi seperti Pertalite (RON 90) dan Solar Subsidi (CN 48) tidak akan mengalami perubahan.
"Karena yang bisa pemerintah jamin itu kan harga subsidi, itu kan peraturan Menteri ESDM sudah jelas ada formula itu. Kalau subsidi, sampai dengan harga ICP dunia USD 100 (per barel), tidak akan naik rerata," tegas Bahlil. Ia juga menambahkan, "BBM subsidi itu kepada saudara-saudara kita yang berhak. Kalau model kayak saya, Dirjen, karena harga BBM RON naik, tiba-tiba ke subsidi, itu kita mengambil hak saudara kita yang berhak menerima," ungkapnya.
Harga LPG Nonsubsidi
Pada kesempatan yang sama, Bahlil juga membuka kemungkinan terjadinya penurunan harga LPG non-subsidi. Hal ini menyusul penyesuaian harga LPG 5,5 kg dan LPG 12 kg yang berlaku per 18 April 2026. Menurut Bahlil, harga LPG non-subsidi di seluruh Indonesia mengikuti fluktuasi harga pasar global yang saat ini sedang tidak stabil. Oleh karena itu, jika harga dunia mengalami penurunan, harga LPG di dalam negeri juga akan menyesuaikan.
"Pasti (bisa turun lagi), jadi kan ada formulasinya. Dulunya itu kan pakai harga (acuan) Saudi Aramco. Jadi kalau harga dunia turun, dia pasti turun juga. Kalau harga dunia naik, naik," jelasnya.
Di Indonesia, produk LPG saat ini terbagi menjadi dua kategori, yaitu LPG bersubsidi yang berukuran 3 kg dan LPG non-subsidi yang terdiri dari ukuran 5,5 kg serta 12 kg. Penyesuaian harga ini penting untuk memastikan bahwa harga LPG tetap terjangkau bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang membutuhkan.
Dengan adanya formula yang digunakan untuk menentukan harga, diharapkan masyarakat dapat memahami dinamika harga LPG yang dipengaruhi oleh kondisi pasar global. Hal ini juga menunjukkan transparansi dalam penetapan harga yang dilakukan oleh pemerintah.
Pastikan Harga LPG 3 Kg Tetap Stabil
Meskipun terjadi kenaikan pada harga tabung gas non-subsidi, Bahlil memastikan bahwa harga LPG 3 kg akan tetap stabil. Ia juga menjamin bahwa stok LPG di seluruh Indonesia mencukupi.
"Nah, khusus untuk LPG yang disubsidi, stok kita di atas standar minimum nasional. Dan harganya tidak ada kenaikan. Flat," tegasnya. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga ketersediaan dan harga barang-barang yang disubsidi.
Di sisi lain, Bahlil menjelaskan bahwa beberapa produk BBM non-subsidi telah mengalami penyesuaian harga. Ia menekankan bahwa harga semua komoditas energi bersubsidi akan selalu diawasi oleh pemerintah.
"Kenapa harganya naik? Saya katakan bahwa kita mengatur harga yang pemerintah bisa menjamin untuk harganya tidak naik itu adalah yang bersubsidi. Sementara yang tidak bersubsidi itu dipakai oleh industri, restoran, hotel. Jadi itu memang tidak kita atur harganya, dia menyusahkan dengan harga pasar," tuturnya.
Ini menunjukkan bahwa pemerintah memiliki strategi untuk mengelola harga energi agar tetap terjangkau bagi masyarakat.