DPRD Malang: Angkot Bisa Jadi 'Feeder' Optimalkan Layanan Bus Trans Jatim, Solusi Atasi Macet!
DPRD Kota Malang mengusulkan angkot sebagai angkutan pengumpan (feeder) untuk mengoptimalkan layanan Bus Trans Jatim. Langkah ini diharapkan jadi solusi kemacetan dan dorong masyarakat beralih ke transportasi publik.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang, Dito Arief Nurakhmadi, belum lama ini mengemukakan sebuah gagasan inovatif untuk mengoptimalkan layanan Bus Trans Jatim. Ia menyatakan bahwa keberadaan angkutan kota (angkot) di wilayah setempat memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai angkutan pengumpan atau feeder. Ide ini diharapkan dapat memberikan kemudahan aksesibilitas bagi masyarakat menuju titik pemberhentian bus. Ini juga menjadi solusi efektif mengurangi kepadatan lalu lintas di Kota Malang.
Usulan ini muncul sebagai respons terhadap kebutuhan mendesak akan sistem transportasi publik yang terintegrasi dan efisien. Dengan melibatkan angkot yang sudah ada dalam mekanisme Bus Trans Jatim, diharapkan masyarakat lebih tertarik beralih dari kendaraan pribadi. Ini akan mendorong penggunaan angkutan umum secara signifikan. Konsep ini tidak hanya bertujuan meningkatkan penggunaan transportasi massal. Namun, juga secara bertahap menekan angka kemacetan yang kerap menjadi permasalahan di perkotaan.
Dito Arief Nurakhmadi menegaskan bahwa perencanaan ini harus memiliki kesinambungan. Ini perlu menjadi satu kesatuan sistem transportasi yang komprehensif. Integrasi Angkot Trans Jatim ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem transportasi yang lebih ramah lingkungan dan efisien. Langkah strategis ini diharapkan dapat membawa dampak positif bagi mobilitas warga serta kualitas udara di Kota Malang.
Angkot sebagai Solusi Feeder dan Pengurai Kemacetan
DPRD Kota Malang melihat angkot sebagai aset berharga yang dapat diintegrasikan ke dalam sistem transportasi publik yang lebih besar. Menurut Dito Arief Nurakhmadi, "Catatannya memang kami mendorong angkot yang eksisting ini bisa dilibatkan mekanisme di sistem Trans Jatim, sebagai feeder." Peran angkutan pengumpan ini sangat krusial. Angkot akan menjemput penumpang dari permukiman atau area yang sulit dijangkau bus besar, kemudian mengantar mereka ke halte atau stasiun Bus Trans Jatim terdekat.
Skema ini tidak hanya memudahkan masyarakat dalam menjangkau layanan bus, tetapi juga berpotensi besar untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Dengan adanya kemudahan akses dari rumah ke transportasi massal, minat masyarakat untuk menggunakan Bus Trans Jatim diharapkan akan meningkat signifikan. Hal ini pada gilirannya akan berdampak positif pada tingkat kepadatan lalu lintas di Kota Malang, sesuai dengan konsep besar penyediaan transportasi publik yang berkelanjutan.
Integrasi Angkot Trans Jatim ini juga menjadi angin segar bagi para pengemudi angkot. Mereka tidak hanya akan tetap beroperasi, tetapi juga menjadi bagian integral dari sistem transportasi modern. Ini adalah win-win solution yang mengakomodasi kepentingan semua pihak, mulai dari masyarakat pengguna, operator transportasi, hingga pemerintah daerah yang berupaya menciptakan kota yang lebih nyaman dan efisien.
Mendorong Kajian Komprehensif dan Dukungan Infrastruktur
Mengingat operasional Bus Trans Jatim berada di bawah wewenang Pemerintah Provinsi Jawa Timur, DPRD Kota Malang mendorong pemerintah daerah setempat untuk menyusun usulan berbasis kajian. Kajian ini harus mencakup berbagai aspek penting, seperti lebar jalan yang memadai, identifikasi jalur rawan macet sebagai prioritas rute Bus Trans Jatim, serta analisis kebutuhan konsumen terhadap angkutan umum. Data dan analisis yang akurat akan menjadi dasar kuat untuk implementasi skema ini.
Selain kajian rute, Dito juga menyoroti pentingnya penyediaan fasilitas pendukung. Salah satu contoh yang disebutkan adalah pembangunan gedung parkir, seperti di Jalan Veteran dan Jalan Soekarno Hatta. Gedung parkir ini akan berfungsi sebagai park and ride, di mana masyarakat dapat memarkir kendaraan pribadinya dan melanjutkan perjalanan menggunakan Angkot Trans Jatim atau Bus Trans Jatim. "Kalau ada masyarakat yang mau ke Kayutangan bisa memarkir kendaraan, kemudian naik bus ke arah tujuan," tuturnya.
Dito berharap, dengan matangnya skema operasional dan dukungan infrastruktur yang memadai, masyarakat akan memiliki alternatif transportasi yang layak dan terjangkau. Hal ini juga harus tetap memperhatikan keberadaan serta kesejahteraan para sopir angkutan kota yang selama ini telah menjadi bagian dari denyut nadi transportasi di Kota Malang. "Ini kebutuhan mendesak, kami mengharapkan masyarakat mendapatkan kemudahan," pungkasnya, menekankan urgensi dari usulan ini.
Sumber: AntaraNews