Biaya Pemasangan PLTS Atap di Indonesia Timur Melonjak 50 Kali Lipat, Ternyata Ini Penyebabnya
Kementerian ESDM mengungkap berbagai tantangan yang dihadapi dalam pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM), Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan bahwa anggaran untuk pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap di Indonesia timur dapat meningkat hingga 50 kali lipat.
Eniya menjelaskan pengalaman pemasangan PLTS atap di sebuah sekolah menengah pertama (SMP) di Sulawesi Utara dan Maluku, di mana biaya awal sebesar Rp 20 juta bisa melonjak menjadi Rp 500 juta.
Dia menambahkan, "Terus terang ya, saya memasang PLTS yang digunakan di sekolah SMP, di Sulawesi Utara dan Maluku. Membawa PLTS yang nilainya cuma Rp 20 juta, tetapi sampai di sana saya perlu anggaran Rp 500 juta. Ternyata deliver ke sananya yang problem," ungkapnya dalam Indonesia Solar Summit (ISS) 2025 di Jakarta pada Kamis, 11 September 2025.
Selain masalah logistik, Eniya juga menyoroti tantangan dalam pemasangan dan pengelolaan PLTS atap di daerah terpencil, yang sering kali kekurangan tenaga ahli di bidang ini.
Dia menjelaskan, "Kita itu dihadapkan bukan sama teknologi yang begini-begini, tetapi real condition negara kita. Satu, yang masang itu enggak ada. Terus ini transport, problem lagi sustainibility." Hal ini menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi bukan hanya terkait teknologi, tetapi juga kondisi nyata di lapangan yang memengaruhi kelancaran proyek.
Ajaklah perusahaan swasta untuk berkolaborasi
Oleh karena itu, ia mengajak perusahaan Independent Power Producer (IPP) untuk berpartisipasi dalam pemasangan dan pengelolaan energi baru terbarukan di daerah-daerah terpencil. "Jadi bapak/ibu, ayo kita harus bergerak ke remote-remote area, Indonesia Timur sekalipun untuk mendidik. Jadi ditarik utamanya itu adalah SDM," pinta dia.
Dengan melibatkan pihak swasta, Eniya percaya bahwa biaya untuk pengadaan PLTS atap di Indonesia bagian timur akan menjadi lebih terjangkau. "Bagaimana kalau ada IPP-IPP yang sudah stok dulu PLTS di sana. Nanti dengan kargo yang gede, bareng-bareng, nanti bisa lebih murah nih. Sehingga pengadaan kita bisa di sana," ucapnya. "Bukan dibawa dari Jakarta, selalu dibawa dari Jawa. Problem cuma begitu," dia menekankan.
Hasil yang dicapai masih belum memenuhi target
Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap di Indonesia masih belum memenuhi target yang ditetapkan. Sebagai contoh, pada tahun 2024, kuota sistem PLTS atap ditargetkan sebesar 901 MW, namun realisasi pada tahun sebelumnya hanya mencapai sekitar 187 MW. Setiap tahun, jumlah kuota yang ditargetkan terus mengalami peningkatan. Misalnya, untuk tahun 2025, kuota ditetapkan sebesar 1.004 MW, kemudian meningkat menjadi 1.065 MW pada tahun 2026. Pada tahun 2027, kuota kembali naik menjadi 1.183 MW dan mencapai 1.593 MW pada tahun 2028.
Bahlil mengunjungi perusahaan solar PV di China untuk merealisasikan proyek PLTS sebesar 100 GW
Pada kesempatan sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengadakan pertemuan bilateral dengan Trina Solar, sebuah perusahaan yang memproduksi Solar Photo Voltaik (PV), saat melakukan kunjungan ke China. Bahlil menjelaskan bahwa pertemuan ini bertujuan untuk memperluas kerja sama dalam pengembangan rantai pasok serta ekosistem energi surya di dalam negeri, sebagai bagian dari upaya untuk mencapai ketahanan energi nasional.
Langkah ini merupakan awal dari realisasi pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas mencapai 100 gigawatt (GW). "Kita tahu potensi energi surya Indonesia mencapai ribuan gigawatt. Maka perlu dilakukan penjajakan kerja sama dengan perusahaan produsen Solar PV agar potensi energi surya yang besar ini dapat dioptimalkan untuk mencapai ketahanan dan swasembada energi," ujar Bahlil di China, Kamis (14/8/2025).
Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam berbagai bidang
Indonesia memiliki potensi energi solar yang sangat besar, mencapai 3.294 Gigawatt Peak (GWp). Namun, hingga Desember 2024, pemanfaatan energi tersebut baru mencapai sekitar 912 Megawatt (MW). Dengan potensi yang melimpah ini, Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin dalam transisi energi baik di tingkat regional maupun global. "Maka dari itu, diperlukan optimalisasi dalam perencanaan penyediaan tenaga listrik yang lebih bersih dan tetap andal," ungkap Bahlil. Salah satu aspek yang menjadi fokus dalam diskusi adalah penguatan kerjasama dengan PT Trina Mas Agra Indonesia (TMAI), yang merupakan perusahaan patungan antara Trina Solar dan mitra lokal yang beroperasi di Kawasan Ekonomi Khusus Kendal, Jawa Tengah.