BI Aceh Perkuat Inovasi Pertanian untuk Pengendalian Inflasi Aceh
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Aceh berkomitmen penuh dalam Pengendalian Inflasi Aceh melalui kolaborasi dan penguatan inovasi pertanian serta rantai pasok pangan lokal.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Aceh menegaskan komitmen untuk terus berupaya mengendalikan inflasi di wilayahnya. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas harga pangan. Penguatan inovasi pertanian dan efisiensi rantai pasok pangan lokal menjadi fokus utama.
Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala KPwBI Aceh, Agus Chusaini, di Banda Aceh pada kegiatan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) Aceh. Acara tersebut berlangsung di rumah produksi UMKM Capli, menandai langkah nyata dalam upaya ini. GNPIP melibatkan peresmian fasilitas dan penyerahan bantuan kepada petani.
Langkah strategis ini diambil mengingat inflasi tahunan Aceh pada Oktober 2025 masih berada di angka 4,66 persen (yoy). Angka ini menempatkan Aceh pada posisi ketiga provinsi dengan inflasi tertinggi secara nasional. Diperlukan sinergi kuat untuk mencapai target inflasi 2,5±1 persen (yoy).
Strategi Kolaboratif Pengendalian Inflasi Pangan
Agus Chusaini menekankan pentingnya kolaborasi yang melibatkan pemerintah daerah, petani, komunitas, pengusaha, dan lembaga keuangan. Kolaborasi ini menjadi fondasi utama dalam menghadapi tantangan inflasi pangan. Bank Indonesia terus memperkuat kerja sama dengan TPID dan sektor swasta.
Strategi yang diusung meliputi penguatan rantai pasokan pangan lokal dan diversifikasi produksi. Hal ini bertujuan agar tidak terlalu bergantung pada komoditas tertentu yang rentan terhadap fluktuasi harga. Pendekatan ini diharapkan mampu menstabilkan harga di pasar.
Penerapan teknologi dan inovasi pertanian juga menjadi prioritas dalam Pengendalian Inflasi Aceh. Konsep seperti urban farming, agroteknologi, dan manajemen logistik yang efisien sangat dibutuhkan. Tujuannya adalah menjaga biaya produksi dan distribusi tetap terkendali.
Peningkatan keterjangkauan dan ketersediaan pangan juga menjadi fokus utama. Terutama untuk komoditas yang sering menekan inflasi seperti cabai merah, bawang merah, dan telur ayam ras. Komoditas ini terbukti memiliki andil besar terhadap tekanan harga di pasar.
Implementasi GNPIP dan Dampaknya di Aceh
Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) Aceh merupakan wujud nyata dari komitmen Bank Indonesia. Melalui GNPIP, BI melaksanakan peresmian rumah produksi Capli dan penyerahan bantuan sarana prasarana. Bantuan ini ditujukan untuk komoditas pangan, penyerahan bibit, dan capacity building pengolahan tanah.
Rangkaian kegiatan GNPIP ini juga mencakup gerakan panen cabai bersama, menunjukkan dukungan langsung kepada petani. Agus Chusaini menyatakan, "GNIP ini bukan hanya seremonial, tetapi bagian nyata dari strategi hulu-hilir dalam pengendalian inflasi pangan." Ini menegaskan pendekatan komprehensif yang diterapkan.
Strategi hulu-hilir tersebut mencakup penguatan produksi lokal dan mempersingkat rantai distribusi. Selain itu, GNPIP juga meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam urban farming serta memfasilitasi akses petani ke teknologi dan bahan baku. Semua upaya ini diharapkan dapat menekan laju inflasi.
Pemantauan dan respons cepat terhadap gejolak harga pangan juga menjadi bagian penting dari strategi. Hal ini dilakukan melalui sinergi data, analisis, dan tindakan bersama antara BI, TPID, dan pemangku kepentingan terkait. Upaya kolektif ini diharapkan mampu menjaga inflasi pangan di Aceh pada tingkat yang rendah dan stabil.
Sumber: AntaraNews