Bank Indonesia (BI) secara konsisten meningkatkan sinergi dengan pemerintah pusat dan daerah guna memastikan stabilitas harga pangan di kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua). Upaya ini krusial untuk mengendalikan inflasi secara menyeluruh, mengingat inflasi pangan memiliki dampak signifikan terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.
Dewan Gubernur Bank Indonesia, Ricky Perdana Gozali, menegaskan pentingnya kolaborasi ini saat membuka Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) Sulampua 2025 di Kantor Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Utara pada Senin. Acara ini menjadi penutup rangkaian GNPIP Nasional 2025 sekaligus komitmen bersama dalam mengantisipasi tekanan inflasi pangan hingga akhir 2025 dan sepanjang 2026.
Ricky Perdana Gozali juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Sulampua, khususnya Sulawesi Utara, yang telah menjadi tuan rumah pelaksanaan GNPIP 2025. Sinergi yang kuat antara berbagai pihak ini diharapkan mampu menciptakan ketahanan pangan yang lebih baik dan menjaga daya beli masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Tekanan Inflasi Pangan di Sulampua
Inflasi nasional pada September 2025 tercatat terkendali di level 2,65 persen (yoy), didukung oleh stabilnya inflasi inti dan harga yang diatur pemerintah (administered price). Namun, kelompok inflasi pangan bergejolak (volatile food) masih menunjukkan tekanan tinggi, mencapai 6,44 persen (yoy) akibat gangguan pasokan di sejumlah daerah sentra produksi.
Di wilayah Sulawesi sendiri, inflasi pangan mencapai 6,43 persen pada September 2025. Tekanan ini bersumber dari anomali cuaca dan serangan hama di daerah sentra produksi seperti Sidrap, Enrekang, dan Wajo. Kondisi ini menuntut respons cepat dan terkoordinasi dari seluruh pemangku kepentingan untuk menstabilkan harga komoditas pangan.
Untuk mengatasi hal tersebut, BI bersama TPID dan kementerian/lembaga terkait akan memperkuat koordinasi dalam dua bulan terakhir tahun 2025. Langkah-langkah strategis akan digiatkan dengan prinsip tepat lokasi, tepat sasaran, dan tepat waktu, terutama untuk komoditas beras, cabai merah, bawang merah, dan ikan.
Advertisement
Advertisement
Inovasi dan Strategi Pengendalian Inflasi
Berbagai inovasi daerah telah diterapkan untuk mendukung pengendalian inflasi pangan. Contohnya, penggunaan bibit unggul padi Gamagora di Sulawesi Selatan, teknologi True Shallot Seeds di Papua, serta penguatan distribusi melalui mini distribution center dan kapal berpendingin di Maluku Utara. Inovasi ini menunjukkan adaptasi terhadap kondisi lokal.
Tidak hanya di sektor produksi, inovasi juga berkembang di sektor hilir. Ricky Perdana Gozali mencontohkan Koperasi Waletani Mapalus di Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, yang berhasil menstabilkan harga cabai melalui kemitraan dengan penjamin (offtaker). Selain itu, Rukun Pemuda Kristen Taraitak (RPKT) sukses mengembangkan produk olahan seperti sambal ikan roa dan bawang goreng untuk meningkatkan nilai tambah petani lokal.
Langkah-langkah strategis seperti gerakan pasar murah dan operasi pasar akan terus digencarkan. Optimalisasi distribusi antarwilayah juga menjadi fokus utama untuk memastikan pasokan pangan merata dan harga tetap stabil. Kolaborasi ini diharapkan dapat mengurangi disparitas harga antar daerah.
Advertisement
Advertisement
Tantangan dan Kolaborasi Masa Depan
Memasuki tahun 2026, Bank Indonesia mengidentifikasi tiga tantangan utama dalam pengendalian inflasi pangan. Tantangan tersebut meliputi perubahan iklim yang tidak menentu, tingginya disparitas harga antarwilayah, serta perlunya pengelolaan pasokan yang lebih efisien dan berkelanjutan. Pemutakhiran neraca pangan daerah dan penguatan kerja sama antar daerah menjadi kunci agar kebijakan pangan lebih presisi dan adaptif.
Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus Komaling, menekankan bahwa pengendalian inflasi pangan adalah tanggung jawab bersama. Ia mengapresiasi Provinsi Sulawesi Utara yang menjadi tuan rumah kegiatan strategis dari BI ini. Menurutnya, melalui kerangka 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif, setiap daerah diharapkan dapat mengimplementasikan inovasi dan program yang menyesuaikan kondisi lokal masing-masing.
Yulius juga mengajak seluruh peserta GNPIP untuk memanfaatkan momentum ini sebagai ajang berbagi pengetahuan dan strategi terbaik antar daerah. “Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan wadah berbagi pengalaman dalam menghadapi tantangan inflasi pangan. Kita perlu belajar dari keberhasilan maupun kendala di berbagai daerah,” ujarnya. Kolaborasi erat antara pemerintah daerah, kementerian/lembaga, pelaku usaha, dan masyarakat adalah kunci penguatan ketahanan pangan di Sulampua.
Advertisement
Sumber: AntaraNews