Bagi sebagian besar orang, merantau dan meraih kesuksesan di negara maju seperti Amerika Serikat (AS) adalah sebuah impian besar. Hal ini pula yang dirasakan oleh Ananya Joshi, seorang gadis asal India yang berhasil mewujudkan cita-cita masa kecilnya sekaligus melanjutkan mimpi sang ayah.
Dahulu, ayah Joshi harus mengubur mimpinya pergi ke AS karena keterbatasan biaya. Sebagai gantinya, ia menyimpan pajangan Patung Liberty di rumah dan tekun menabung selama bertahun-tahun demi memastikan sang putri bisa mengenyam pendidikan setinggi mungkin di Negeri Paman Sam tersebut.
Mengutip laman Business Insider, Kamis (23/7), perjuangan itu membuah hasil. Pada tahun 2022, Joshi resmi pindah ke Illinois, AS, untuk menempuh studi S2 bidang Bioteknologi di Northwestern University.
Karier Joshi di AS melaju pesat. Saat masih berkuliah, ia diterima magang di sebuah perusahaan startup yang fokus mengembangkan teknologi daging buatan laboratorium. Kinerjanya yang impresif membuat Joshi langsung mendapat tawaran bekerja penuh waktu (full-time) dengan gaji mencapai USD 75.000 (sekitar Rp1,3 miliar) per tahun menggunakan visa izin kerja sementara untuk mahasiswa asing (F-1 OPT).
Meski ritme kerjanya terbilang padat, Joshi sangat menikmati profesinya karena bisa mempelajari hal-hal baru dan inovatif setiap hari.
Kondisi finansialnya pun tergolong sangat stabil. Tinggal di kawasan Chicago yang biaya hidupnya relatif terjangkau, Joshi menyewa apartemen berjarak 20 menit dari pusat kota seharga USD 1.500 per bulan. Dengan total pengeluaran bulanan yang tak sampai USD 2.000, ia masih bisa menikmati sisa pendapatannya untuk bersenang-senang dan jalan-jalan.
Advertisement
Sandungan Masalah Visa dan PHK
Sayangnya, masa depan cerah Joshi di AS harus terhenti karena persoalan birokrasi perizinan. Awalnya, perusahaan tempat ia bekerja berjanji untuk membantu proses pengajuan visa kerja tenaga ahli (H-1B). Namun, perusahaan mengalami kendala teknis dalam sistem verifikasi ketenagakerjaan (E-Verify). Masalah ini berbuntut panjang hingga akhirnya Joshi terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Tidak ingin menyerah, Joshi terus berjuang dengan mengikuti lebih dari 20 sesi wawancara kerja di berbagai negara. Usahanya membuahkan tawaran pekerjaan dari dua negara sekaligus, yakni Kanada dan Jerman. Demi kepastian dan stabilitas karier jangka panjang, Joshi akhirnya memilih Jerman.
Pada Januari 2026, Joshi resmi pindah ke Rostock, sebuah kota kecil di Jerman yang berjarak sekitar tiga jam dari Berlin.
Advertisement
Tantangan Baru di Jerman dan Rencana Masa Depan
Di Jerman, Joshi kembali menggeluti bidang yang dicintainya di perusahaan startup daging berbasis laboratorium. Namun, perpindahan ini membawa sederet tantangan baru baginya.
Selain harus beradaptasi dengan ritme kerja perusahaan kecil yang bertarget ambisius, Joshi juga harus menyesuaikan diri dengan kehidupan di Rostock. Kota tersebut memang dikenal bersih dan memiliki pemandangan alam yang indah, tetapi kendala bahasa menjadi hambatan utama.
Meskipun bahasa Inggris digunakan di lingkungan kantor, warga lokal mayoritas berkomunikasi menggunakan bahasa Jerman. Keterbatasan opsi transportasi serta hubungan jarak jauh (LDR) dengan kekasihnya yang tinggal di AS turut menambah daftar tantangan hidupnya.
Hingga saat ini, Joshi mengaku masih memendam keinginan untuk kembali ke AS. Namun, pengalaman pahit terkait ketidakpastian visa membuatnya lebih realistis dalam memandang masa depan.
Kini, Joshi mulai mempertimbangkan opsi baru: membangun bisnisnya sendiri di tanah airnya, India. Menurutnya, kota-kota besar seperti Mumbai atau Bangalore memiliki potensi perkembangan industri bioteknologi yang tak kalah pesat dari AS. Rencana tersebut rencananya akan ia wujudkan setelah menimba ilmu dan pengalaman selama beberapa tahun di Jerman.
Reporter Magang: Hanan Mahira Amani