Modal HP dan Kipas Angin, Mahasiswa Madiun Raup Puluhan Juta dalam Semalam

Mahasiswa ini meraih pendapatan fantastis tersebut dari deretan hadiah (gift) para penonton di akun TikTok miliknya.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Modal HP dan Kipas Angin, Mahasiswa Madiun Raup Puluhan Juta dalam Semalam
perempuan sedang melakukan live streaming. sumber foto: pexels.com.

Pesatnya pertumbuhan industri gim nasional kini membuka keran rezeki baru bagi para kreator di daerah. Salah satu cerita inspiratif datang dari Andika Yulian Saputra (21), mahasiswa Universitas PGRI Madiun yang berhasil mendulang omzet hingga Rp24 juta hanya dalam satu malam siaran langsung (live streaming).

Mahasiswa yang akrab disapa Kabol ini meraih pendapatan fantastis tersebut dari deretan hadiah (gift) para penonton di akun TikTok miliknya. Momen manis itu terjadi saat ia mengulas ajang Free Fire World Series Southeast Asia (FFWS SEA) 2026 Fall. Tak cuma kantong yang tebal, jumlah pengikut akunnya pun melonjak pesat dari 2.000 menjadi 13.000 orang dalam semalam.

Menariknya, pencapaian luar biasa ini diraih Kabol dengan modal yang terbilang sangat sederhana. Dari balik kamar rumahnya di Madiun, ia memandu siaran langsung hanya berbekal dua unit ponsel dan satu kipas angin.

Kendati memanfaatkan momen turnamen besar, Kabol sangat menjunjung tinggi etika dan aturan. Ia tidak pernah menayangkan ulang (restream) pertandingan demi menghormati hak cipta dan hak siar.

"Menyiarkan ulang itu bukan hak saya. Jadi saya nonton dulu, selesai pertandingan baru saya LIVE," kata Kabol seperti dikutip dari Antara, Sabtu (29/8).

Tetap Mengijak Bumi dan Utamakan Pendidikan

Di balik manisnya pendapatan digital, ketergantungan pada platform dan momentum turnamen membuat model bisnis ini cukup rentan. Kabol menyadari betul hal itu dan memilih untuk tetap realistis.

"Bulan ini lumayan karena ada turnamen besar. Bulan depan belum tentu ada. Saya belum berani bilang ini pekerjaan, ini masih penghasilan tambahan," tuturnya.

Menanggapi fenomena ini, Dosen Universitas PGRI Madiun, Bagus Prasetyo, mengingatkan anak didiknya agar tidak terlena dan tetap memprioritaskan pendidikan formal.

"Ini bukan pengganti ijazah, dan ijazah juga bukan jaminan. Keduanya aset. Mahasiswa yang punya dua-duanya berada di posisi paling aman," kata Bagus.

Potensi Ekonomi Kreator Daerah dan Regulasi Gim

Kisah Kabol menjadi cermin nyata dari bertumbuhnya kreator gim mandiri di daerah, di tengah besarnya potensi ekonomi industri gim nasional yang menembus angka Rp25 triliun. 

Pemerintah sendiri telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2024 tentang Percepatan Pengembangan Industri Gim Nasional guna memperkuat ekosistem dan pengembang lokal. Meski demikian, Pengamat Ekonomi Kreatif Ratna Puspitasari menilai regulasi tersebut belum menyentuh para kreator skala kecil di daerah.

"Perpres itu menyasar pengembang gim. Itu benar dan memang perlu. Tapi ada lapisan kreator di bawahnya, jumlahnya jauh lebih besar dan tersebar di kota-kota kecil, yang sama sekali tidak tersentuh kebijakan apa pun," ujar Ratna.

Ratna menekankan bahwa keberhasilan kreator seperti Kabol tak sekadar mengandalkan keberuntungan atau momen viral semata, melainkan buah dari konsistensi membangun kebiasaan menonton bagi audiensnya.

"Yang menahan audiens adalah keterulangan. Jam tayang yang tetap membangun kebiasaan, dan kebiasaan lebih tahan lama daripada algoritma," tutupnya.

Rekomendasi