Trivia: Cabai Merah Penyumbang Inflasi, BI Gelar Pelatihan Cabai Teknologi Aceh untuk Petani
Bank Indonesia (BI) Aceh menggelar Pelatihan Cabai Teknologi Aceh, membekali petani dengan budidaya organik dan digital farming untuk menekan inflasi pangan. Simak dampaknya!
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Jaya telah menyelenggarakan pelatihan budidaya cabai berbasis teknologi bagi para petani di berbagai wilayah Aceh. Kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas teknis petani dalam mengelola pertanian cabai secara lebih modern dan berkelanjutan. Pelatihan ini diharapkan mampu menjawab tantangan fluktuasi harga cabai yang kerap menjadi pemicu inflasi di daerah tersebut.
Pelatihan bertajuk “Subur Berkelanjutan” ini dilaksanakan pada tanggal 15 hingga 16 Oktober 2025, berlokasi di Gampong Ujong Muloh, Kabupaten Aceh Jaya. Sebanyak 30 petani dari kelompok tani (poktan) cabai yang berasal dari Kabupaten Aceh Jaya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, dan Kota Subulussalam turut berpartisipasi. Inisiatif ini bertujuan untuk membekali petani dengan pengetahuan dan keterampilan mutakhir dalam budidaya cabai.
Kepala Perwakilan BI Aceh, Hertha Bastiawan, menjelaskan bahwa fokus utama pelatihan adalah peningkatan kapasitas teknis petani dalam budidaya cabai ramah lingkungan. Pendekatan ini mengintegrasikan pertanian organik dan digital farming, yang diharapkan dapat menghasilkan produk pangan lebih sehat dan efisien. Langkah ini juga menjadi bagian integral dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Mengenal Teknologi MA-11 dan Digital Farming
Dalam pelatihan ini, peserta diperkenalkan dengan penerapan teknologi dekomposer Microbacter Alfafa (MA-11), sebuah inovasi yang dikembangkan oleh SMK Pembangunan Pertanian (PP) Saree. Teknologi ini telah difasilitasi oleh BI sejak tahun 2022 dan berfungsi untuk pengolahan pupuk organik dari bahan alami. Penggunaan MA-11 terbukti mampu meningkatkan unsur hara tanah, mengendalikan hama dan penyakit tanaman secara alami, serta menghasilkan produk pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Selain itu, para petani juga mendapatkan pemahaman mengenai penerapan digital farming berbasis Internet of Things (IoT). Teknologi ini memungkinkan pemantauan kelembaban tanah, suhu, serta memberikan rekomendasi pemupukan presisi melalui aplikasi ponsel. Hertha Bastiawan menyatakan, “Dengan teknologi ini, petani dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas hasil panen, sekaligus mengurangi penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.”
Implementasi teknologi ini diharapkan dapat mengubah cara bertani tradisional menjadi lebih modern dan adaptif terhadap perubahan iklim. Petani dapat mengambil keputusan yang lebih tepat berdasarkan data real-time, sehingga optimalisasi penggunaan sumber daya dapat tercapai. Peningkatan efisiensi ini pada akhirnya akan berdampak positif pada pendapatan petani dan ketersediaan pasokan cabai.
Strategi Pengendalian Inflasi Pangan Melalui 4K
Pelatihan budidaya cabai berbasis teknologi ini merupakan bagian dari implementasi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Kegiatan ini mendukung strategi 4K yang meliputi:
- Ketersediaan pasokan: Memastikan pasokan cabai yang cukup dan stabil di pasar.
- Keterjangkauan harga: Menjaga harga cabai agar tetap terjangkau oleh masyarakat.
- Kelancaran distribusi: Memastikan distribusi cabai dari petani ke konsumen berjalan lancar.
- Komunikasi efektif: Mengedukasi masyarakat dan pelaku pasar mengenai kondisi pasokan dan harga.
Hertha menuturkan bahwa cabai merah merupakan salah satu komoditas utama penyumbang inflasi di Aceh, dengan andil inflasi bulanan mencapai 0,68 persen pada September 2025. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya 0,15 persen. Fluktuasi harga cabai juga masih tinggi, dengan volatilitas rata-rata mencapai 30 persen, menunjukkan perlunya intervensi untuk stabilisasi.
Komitmen BI untuk Kemandirian Pangan Daerah
Pihak Bank Indonesia berkomitmen untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menjaga stabilitas harga pangan strategis serta memperkuat kemandirian pangan daerah. Sinergi ini menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.
Penguatan kapasitas petani, pemangkasan rantai pasok, dan penerapan inovasi pertanian berkelanjutan menjadi fokus utama dalam upaya ini. Hertha Bastiawan menegaskan, “Karena itu, penguatan kapasitas petani, pemangkasan rantai pasok, dan penerapan inovasi pertanian berkelanjutan, menjadi kunci menjaga stabilitas harga dan kesejahteraan petani.” Melalui langkah-langkah ini, diharapkan Aceh dapat mencapai ketahanan pangan yang lebih baik dan mengurangi dampak inflasi dari komoditas cabai.
Sumber: AntaraNews