Beri Pukulan Telak ke Donald Trump, China Mendadak Batalkan Pesanan Daging Babi Asal AS
Langkah ini memicu kekhawatiran di kalangan analis bahwa para peternak babi Amerika akan terdampak signifikan.
Perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS) kini semakin memanas. China secara mendadak membatalkan pesanan daging babi dari Amerika Serikat. Tak berhenti di situ, China kini bersiap untuk memangkas lebih jauh impor produk pertanian dari Negeri Paman Sam.
Melansir dari South China Morning Post, pekan lalu, importir China membatalkan pesanan sebesar 12.030 metrik ton daging babi asal Amerika, pembatalan terbesar sejak Mei 2020, ketika pandemi Covid-19 baru merebak.
Langkah ini memicu kekhawatiran di kalangan analis bahwa para peternak babi Amerika akan terdampak signifikan, meskipun sebagian besar dari mereka tidak sepenuhnya bergantung pada pasar China. Namun, tekanan paling berat diperkirakan akan dirasakan oleh produsen pertanian lainnya di tengah meningkatnya tensi dagang.
"Ini adalah respons yang ditujukan secara strategis oleh China untuk menyasar bagian Amerika yang dikenal sebagai 'wilayah merah'," ujar Dexter Roberts, peneliti senior di Global China Hub yang bernaung di bawah lembaga pemikir Atlantic Council.
Sebagaimana diketahui, banyak negara bagian agraris di AS merupakan basis pendukung Partai Republik dan memberikan suara untuk Presiden Donald Trump dalam pemilu terakhir.
"Kekhawatiran itu nyata dan meluas. Satu musim yang buruk saja bisa membuat para petani harus menggadaikan lahannya," tambahnya.
Reaksi Pasar
Reaksi pasar pun tak terelakkan. Harga berjangka daging babi tanpa lemak tercatat mengalami penurunan dari bulan Juni tahun ini dan diproyeksikan terus melemah hingga Agustus 2026.
Di sisi lain, kebijakan tarif tinggi dari China turut memperparah situasi. Menurut Dewan Produsen Daging Babi Nasional AS, bea masuk terhadap impor daging babi Amerika telah melonjak hingga 172 persen, menjadikan produk Amerika hampir mustahil bersaing di pasar China.
"Produsen daging babi AS menjadi korban utama dalam eskalasi tarif ini," tegas pernyataan dewan tersebut pada 11 April lalu.
Sepanjang 2024, China tercatat mengimpor daging babi senilai USD2,15 miliar, dengan mayoritas berasal dari negara-negara selain AS. Spanyol, Brasil, Chili, Belanda, dan Kanada mendominasi daftar pemasok utama. Berdasarkan data bea cukai China, nilai impor daging babi dari AS hanya mencapai US$125,52 juta pada tahun lalu.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump juga menetapkan tarif sebesar 145 persen terhadap sebagian besar barang impor dari China tahun ini, sehingga total tarif efektif menjadi sekitar 156 persen.
Balasan China
Sebagai balasan, Beijing menaikkan tarif pada barang-barang Amerika hingga 125 persen, lebih tinggi dari tarif sebelumnya. Sejak awal perang dagang pada 2018, akses barang-barang pertanian AS ke pasar China kian diperketat.
Dalam kebijakan terkini, China menerapkan bea masuk sebesar 15 persen terhadap unggas, gandum, jagung, dan kapas asal Amerika, serta tambahan 10 persen pada daging babi, kacang kedelai, daging sapi, susu, dan berbagai produk pertanian lainnya.
Akibatnya, impor kedelai dan daging sapi dari AS turun tajam, sementara Brasil mengambil alih posisi sebagai pemasok kedelai utama, dan konsumen daging sapi China kini lebih banyak mengandalkan pasokan dari Argentina dan Australia.
"China kini menargetkan semakin banyak sektor dalam serangan terhadap impor Amerika," ungkap Andy Xie, ekonom independen berbasis di Shanghai.
Xie bilang semua sektor sudah disentuh, kini China hanya perlu mengerahkan seluruh potensinya. Dia menambahkan bahwa jika keadaan mendesak, China bisa mempercepat produksi domestik.
"Memang China belum sepenuhnya mampu mencukupi kebutuhan sendiri, tetapi bahkan jika impor dipotong tajam, negara ini tidak akan kelaparan," pungkasnya.