Amerika Sepakat Lanjutkan Negosiasi Tarif dengan Malaysia
Malaysia saat ini menghadapi ancaman pengenaan tarif sebesar 24 persen atas produk ekspor ke AS.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan bahwa Amerika Serikat telah menyetujui untuk membuka pembicaraan lanjutan terkait tarif ekspor Malaysia. Hal ini disampaikan Anwar dalam pernyataannya kepada parlemen, seperti dikutip dari Reuters pada Senin (5/5).
Malaysia saat ini menghadapi ancaman pengenaan tarif sebesar 24 persen atas produk ekspor ke AS yang akan mulai berlaku pada Juli 2025, kecuali tercapai kesepakatan antara kedua negara.
“Meskipun ini masih diskusi awal, pemerintah Amerika Serikat telah sepakat untuk berunding lebih lanjut dengan Malaysia, dan ada kemungkinan untuk mengurangi tarif timbal balik yang dikenakan,” ujar Anwar.
Ia menambahkan bahwa dampak dari kebijakan tersebut saat ini masih bisa dikendalikan, seiring penangguhan sebagian besar tarif hingga pertengahan tahun. Namun, ia memperkirakan target pertumbuhan ekonomi Malaysia tahun ini kemungkinan tidak tercapai.
Target pertumbuhan ekonomi Malaysia tahun ini berada pada kisaran 4,5 hingga 5,5 persen, namun Anwar menyebutkan bahwa konflik perdagangan global membuat proyeksi tersebut perlu ditinjau ulang.
Anwar juga menyatakan bahwa Malaysia terbuka untuk bernegosiasi mengenai hambatan non-tarif, pengurangan surplus perdagangan bilateral, serta menjajaki kemungkinan perjanjian perdagangan bilateral dengan AS.
Di sisi lain, Malaysia akan memperkuat hubungan dagang dengan mitra utama seperti China dan Uni Eropa. Anwar menyebutkan bahwa negosiasi untuk memperbarui perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN dan China akan diselesaikan dalam waktu dekat.
Pertemuan para menteri perdagangan ASEAN dijadwalkan pada 19 Mei 2025, dengan Malaysia menjabat sebagai ketua ASEAN tahun ini.
Sementara itu, enam dari sepuluh negara ASEAN tercatat turut terdampak perang dagang global dengan beban tarif antara 32 hingga 49 persen, termasuk Malaysia.