Negara-Negara Asia Tenggara Gelisah Hadapi Tarif Tinggi Donald Trump
Indonesia yang juga anggota G20 telah menawarkan sejumlah konsesi kepada AS, termasuk komitmen untuk meningkatkan investasi di Amerika.
Negara-negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara bersiap memperkuat negosiasi perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) setelah Washington resmi menerapkan tarif tinggi atas berbagai produk ekspor dari kawasan tersebut. Langkah ini tetap dilakukan meskipun sejumlah negara telah menawarkan berbagai insentif, termasuk peningkatan impor barang AS dan pemangkasan tarif terhadap produk-produk Amerika.
Kawasan Asia Tenggara yang sangat bergantung pada ekspor dan sektor manufaktur menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak oleh kebijakan tarif tinggi dari Presiden Donald Trump. Nilai ekonomi gabungan kawasan ini mencapai lebih dari USD3,8 triliun, sebagian di antaranya tumbuh berkat pergeseran rantai pasok dari China.
Mulai 1 Agustus 2025, tarif sebesar 32% untuk Indonesia dan 36% untuk Thailand mulai berlaku. Hal ini terjadi meskipun kedua negara sebelumnya telah meningkatkan proposal kerja sama, termasuk janji untuk membeli lebih banyak produk AS dan menghapus sejumlah tarif terhadap barang impor dari Amerika.
Malaysia, yang menjadi eksportir utama semikonduktor dan produk elektronik, menghadapi tarif sebesar 25%, naik dari ancaman sebelumnya sebesar 24% pada April lalu, sebelum Trump mengusulkan jeda selama 90 hari.
Menteri Keuangan Thailand Pichai Chunhavajira menyatakan kekecewaannya atas tarif tinggi yang dikenakan pada negaranya. Usai mengunjungi Washington pekan lalu, Pichai mengatakan melalui akun X bahwa pihaknya akan terus mencari solusi dan menawarkan lebih banyak peluang agar Thailand bisa mendapatkan kesepakatan yang terbaik.
Langkah Pemerintah Indonesia
Sementara itu, Indonesia mengirimkan negosiator utamanya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, ke Washington pada Selasa (8/7), usai menghadiri KTT BRICS di Brasil. Kunjungan ini bertujuan untuk segera menggelar pertemuan lanjutan dengan pejabat AS guna membahas pengenaan tarif tersebut.
“Masih ada ruang untuk negosiasi,” ujar Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto. “Pemerintah Indonesia memaksimalkan peluang yang ada dalam proses negosiasi.”
Dalam tahap awal pembicaraan, Indonesia yang juga anggota G20 telah menawarkan sejumlah konsesi kepada AS, termasuk komitmen untuk meningkatkan investasi di Amerika.
Namun, tarif tinggi ini tetap menjadi tantangan berat, khususnya bagi Indonesia sebagai eksportir minyak sawit terbesar di dunia. Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Hadi Sugeng, memperkirakan pengiriman produk sawit ke AS dapat turun antara 15% hingga 20%, yang berpotensi menyebabkan pergeseran pangsa pasar ke pesaing seperti Malaysia dan minyak nabati lainnya.
Thailand, sebagai eksportir beras terbesar kedua di dunia, juga diperkirakan akan mengalami penurunan permintaan sebesar 20% dari pasar AS. Posisi ini dapat menguntungkan Vietnam sebagai eksportir beras terbesar ketiga dunia.
Di tengah tekanan tarif, Kamboja menjadi salah satu sedikit negara yang mendapatkan pengurangan beban. Tarif untuk Kamboja dipangkas dari 49% menjadi 36% setelah pembicaraan bilateral yang menekankan pentingnya perlindungan sektor garmen dan alas kaki.
Sementara itu, Malaysia masih terus melakukan pembicaraan untuk mengklarifikasi rincian tarif yang dikenakan.
“Malaysia tetap berkomitmen untuk melanjutkan keterlibatan dengan AS guna mencapai perjanjian perdagangan yang seimbang, saling menguntungkan, dan komprehensif,” tulis pernyataan resmi dari Kementerian Perdagangan Malaysia.