Bukan Dibebaskan, Tarif Impor Barang Elektronik Asal China yang Masuk ke Amerika Dipatok 20 Persen
Produk seperti komputer, smartphone, dan perangkat semikonduktor akan dikenakan tarif sektoral yang dirancang khusus.
Pemerintah Amerika Serikat akan memberlakukan tarif baru sebesar 20 persen untuk sejumlah barang elektronik dan semikonduktor yang diimpor dari China. Tarif ini akan terpisah dari kebijakan tarif timbal balik sebelumnya yang telah diumumkan oleh Presiden AS, Donald Trump.
Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, menyampaikan bahwa produk seperti komputer, smartphone, dan perangkat semikonduktor akan dikenakan tarif sektoral yang dirancang khusus.
"Kami sedang meninjau sektor semikonduktor dan rantai pasok elektronik sebagai bagian dari Investigasi Keamanan Nasional," kata Lutnick dalam wawancara di program This Week, disiarkan ABC, Minggu (13/4).
Presiden Trump turut mengonfirmasi kebijakan tersebut. Ia menyatakan bahwa tidak ada yang akan dibebaskan dari tanggung jawab atas ketimpangan neraca perdagangan antara AS dan China.
Trump menyebut tarif baru ini sebagai bagian dari strategi untuk mendorong produksi domestik dan mengurangi ketergantungan pada negara-negara Asia, termasuk China.
Target: Produksi Dalam Negeri
Pemerintah AS menargetkan kebijakan ini dapat memicu relokasi manufaktur elektronik dan semikonduktor kembali ke Amerika Serikat.
"Kita membutuhkan semikonduktor, chip, dan panel datar. Kita harus memproduksi semuanya di dalam negeri," tegas Lutnick.
Ia juga menyebut langkah serupa telah dilakukan di sektor otomotif, dengan tarif 25 persen yang dikenakan pada 26 Maret lalu.
Menurut Lutnick, Presiden Trump juga berencana menerapkan kebijakan yang sama terhadap sektor farmasi.
Hubungan AS-China Memanas
Kebijakan tarif ini semakin memperkeruh hubungan dagang antara AS dan China yang sudah tegang.
Perselisihan juga diperparah oleh pernyataan Wakil Presiden AS, JD Vance, yang menyamakan China dengan petani saat membela kebijakan ekonomi Presiden Trump.
Lutnick memilih tidak mengomentari langsung pernyataan tersebut, namun menegaskan bahwa China selama ini melemahkan bisnis AS melalui kebijakan perdagangan agresif.
"China telah memaksa perusahaan-perusahaan kami tutup dan memindahkan produksi ke negara mereka dengan bantuan langsung dari pemerintah," ujarnya.