Tak Hanya Tarif, AS dan China Juga Perang Teknologi Canggih Ini
Memanasnya hubungan Amerika Serikat dengan China tak sekadar tarif dagang semata. Melainkan masuk hingga ranah teknologi canggih.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan China kembali meningkat. China resmi menaikkan tarif impor terhadap sejumlah barang asal AS dari 34% menjadi 84%, mulai 10 April 2025. Kebijakan ini diumumkan oleh Kantor Komisi Tarif Dewan Negara China, sebagaimana dikutip CNBC, Jumat (11/4).
Langkah ini merupakan balasan atas kenaikan tarif terbaru yang diberlakukan pemerintahan Donald Trump terhadap barang-barang dari China, yang dalam beberapa kategori mencapai lebih dari 100%.
Namun konflik antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia ini tidak berhenti pada tarif. Persaingan telah meluas ke ranah teknologi strategis, khususnya industri semikonduktor.
Komponen vital yang terdapat di hampir semua perangkat elektronik, mulai dari smartphone, mobil listrik, hingga jet tempur.
“Tidak ada industri teknologi tanpa semikonduktor,” ujar Stacy Rasgon, analis senior di Bernstein Research.
Industri semikonduktor saat ini bernilai lebih dari USD 574 miliar secara global, dan diperkirakan akan menembus angka satu triliun dolar pada akhir dekade ini. Namun, pertumbuhannya kini berada dalam pusaran persaingan geopolitik AS-China yang semakin memanas.
AS Batasi Ekspor Chip ke China
Sebelumnya, Presiden AS yang saat itu masih dijabat Joe Biden telah memberlakukan serangkaian pembatasan terhadap ekspor chip canggih dan peralatan manufakturnya ke China. Larangan ini bertujuan mencegah penggunaan teknologi buatan AS dalam sistem militer Tiongkok.
“Kami tidak bisa membiarkan China memiliki chip semikonduktor tercanggih kami untuk digunakan dalam militer mereka,” tegas Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo.
Langkah tersebut mencakup larangan penjualan chip dari perusahaan seperti Nvidia dan AMD, serta pembatasan perangkat litografi ekstrem ultraviolet (EUV) buatan Belanda dan Jepang yang digunakan dalam proses manufaktur chip generasi terbaru.
China menanggapi dengan tuduhan bahwa AS menyalahgunakan kontrol ekspor untuk menahan laju kemajuan teknologinya.
Pemerintah China juga mulai membatasi ekspor logam tanah jarang seperti galium dan germanium, yang penting dalam produksi chip dan laser.
Persaingan Meluas ke AI dan Komputer Kuantum
Selain semikonduktor, medan baru persaingan teknologi antara AS dan China juga mencakup kecerdasan buatan (AI) dan komputasi kuantum.
Perusahaan-perusahaan seperti OpenAI, Google DeepMind, dan Anthropic mendominasi pengembangan AI di AS, sementara China mengandalkan pemain seperti Baidu, Alibaba, dan SenseTime.
Di bidang komputasi kuantum, kedua negara tengah berlomba-lomba menjadi yang terdepan. Teknologi ini diyakini akan merevolusi sistem keamanan siber, keuangan, dan analitik data dalam dekade mendatang.
Di sisi lain, AS juga menekan sekutu-sekutunya untuk ikut membatasi ekspor teknologi ke China, termasuk Belanda (ASML) dan Jepang (Tokyo Electron). Hal ini berdampak pada rantai pasok global dan memaksa negara-negara lain untuk memilih posisi dalam konflik teknologi ini.
“Perang teknologi ini bukan sekadar persaingan komersial, melainkan pertarungan eksistensial untuk menentukan siapa yang memimpin abad ke-21,” kata Dr. Yu Jie dari lembaga ThinkThank Chatham House.