Masyarakat AS Paling Dirugikan Akibat Kebijakan Tarif Impor, Trump Tak Sadar soal Itu?

anpa disadari kebijakan tarif akan menaikkan harga bagi konsumen AS. Bahkan, kebijakan ini bisa membawa AS ke dalam jurang resesi.

Sulaeman
Oleh Sulaeman - Reporter
Masyarakat AS Paling Dirugikan Akibat Kebijakan Tarif Impor, Trump Tak Sadar soal Itu?
Masyarakat AS Paling Dirugikan Akibat Kebijakan Tarif Impor, Trump Tak Sadar soal Itu? (Merdeka.com)

Kebijakan tarif impor Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengejutkan masyarakat dunia. Kebijakan untuk melemahkan ekonomi negara mitra dagang seperti China dan sekutu mitra dagangnya. Namun di balik itu, kebijakan Trump disebut bisa merugikan masyarakat AS sendiri.

Ekonom dari School of Economics di Singapore Management University, Yuan Mei memperingatkan bahwa perang dagang akibat kebijakan tarif Presiden Trump kemungkinan akan lebih merugikan warga Amerika daripada negara lain.

"Yang paling dirugikan dari hal ini tentu saja AS sendiri," kata Yuan Mei, asisten profesor di School of Economics di Singapore Management University kepada TIME dikutip Jumat (11/4).

Dia menjelaskan, memungut pajak atas semua impor akan menyebabkan biaya yang lebih besar bagi bisnis AS. Tanpa disadari kebijakan tarif akan menaikkan harga bagi konsumen AS. Bahkan, kebijakan ini bisa membawa AS ke dalam jurang resesi, penurunan ekonomi yang berkelanjutan.

"Akan sulit bagi AS untuk menghindari resesi jika tarif tetap pada tingkat yang telah diumumkan," ujarnya.

Namun, hal itu tidak berarti tidak akan ada berbagai dampak lanjutan yang akan menyebar ke seluruh dunia. Pada minggu lalu, J.P. Morgan menaikkan perkiraannya tentang ekonomi global yang akan memasuki resesi pada akhir tahun dari 40 persen menjadi 60 persen.

Peneliti urusan ekonomi di Pusat Studi ASEAN, Kristina Fong, juga menyebut produsen dan importir AS akan menjadi yang pertama merasakan dampaknya, bukan China.

Alasannya, importir Amerika memilih untuk menanggung biaya tarif, yang membuat keuntungan mereka akan menurun. Fong mengatakan hal itu dapat menyebabkan perubahan dalam struktur biaya bisnis, seperti perampingan operasi hingga  pemutusan hubungan kerja (PHK)

Namun, jika importir membebankan sebagian atau seluruh biaya tarif kepada konsumen Amerika.  Dampak yang terjadi adalah turunnya permintaan konsumen akibat dari melemahnya daya beli.

"Pada dasarnya, Anda akan terdampak dalam beberapa hal, dari sudut pandang mana pun," kata Fong.

Baru-baru ini Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menargetkan tarif tinggi terhadap barang impor dari China yang mulai berlaku Kamis, 10 April 2025. Seiring hal itu, Gedung Putih mengklarifikasi kalau tarif kumulatif kepada China sebenarnya akan mencapai 145 persen.

Sebelumnya, Gedung Putih menunjukkan perintah penundaan penerapan tarif resiprokal selama 90 hari. Namun, Donald Trump menggandakan menaikkan tarif baru impor China menjadi 125 persen.

Menanggapi tarif yang diklarifikasi, juru bicara kedutaan besar China di AS Liu Pengyu menuturkan, China tidak ingin berperang tetapi tidak takut terhadapnya.

"Jika AS benar-benar ingin berdialog, mereka harus menunjukkan kepada orang-orang bahwa mereka siap memperlakukan orang lain dengan kesetaraan, rasa hormat, dan saling menguntungkan," kata dia seperti dikutip dari South China Morning Post.

Rekomendasi