Bahlil Lahadalia: Dari Sopir Angkot yang Busung Lapar hingga Jadi Menteri yang Sering Tuai Kontroversi
Hidup dalam keterbatasan membuat Bahlil harus bekerja sejak kecil.
Di tengah sorotan tajam publik atas keputusannya mempertahankan izin tambang PT Gag Nikel di Raja Ampat, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia kembali menjadi bahan pembicaraan.
Bukan hanya karena keputusan kontroversialnya, tetapi juga karena kisah hidupnya yang luar biasa berangkat dari nol, hingga kini menjadi penentu arah kebijakan energi nasional.
Langkah Bahlil memang menyisakan tanda tanya. Di saat empat perusahaan tambang lainnya di Raja Ampat PT Anugerah Surya Pratama, PT Nurham, PT Kawei Sejahtera Mining, dan PT Mulia Raymond Perkasa, resmi kehilangan izin pada 10 Juni 2025, satu nama justru tetap bertahan, PT Gag Nikel. Perusahaan itu dinilai telah menjalankan operasional tambangnya sesuai standar lingkungan dan etika industri.
“PT Gag menjalankan penambangan dengan sangat baik, hasil evaluasi tim kami menunjukkan kinerja yang patut diapresiasi,” ujar Bahlil dalam kunjungan kerjanya, Rabu (11/6).
Perjalanan Hidup Bahlil
Namun jauh sebelum menjadi pejabat publik, Bahlil adalah seorang anak dari keluarga sederhana di Maluku. Ia lahir pada 7 Agustus 1976 dari pasangan seorang kuli bangunan dan tukang cuci. Hidup dalam keterbatasan membuat Bahlil harus bekerja sejak kecil, mulai dari menjual kue, menjadi kuli bangunan, hingga menjadi sopir angkot semasa SMP.
“Saya sudah biasa bekerja sejak kecil. Jualan kue waktu SD, jadi sopir angkot pas SMP,” kenangnya dalam podcast di kanal YouTube Sekretariat Kabinet RI.
Ketika melanjutkan pendidikan tinggi, perjuangannya tak berhenti. Minimnya dana keluarga membuatnya harus berhemat hingga pernah mengalami busung lapar saat kuliah.
Bahkan, Bahlil mengaku pernah mengalami busung lapar saat kuliah. Hal ini karena minimnya dana dukungan keluarga di masa kuliah.
"Pernah busung lapar karena waktu itu kita kuliah dapat duit dari mana," ujarnya.
Meski begitu, ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Keterlibatannya di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) membawanya ke posisi penting sebagai Bendahara Umum PB HMI.
Setelah lulus, jalur pengabdian dan bisnis mulai terbuka. Pada 2015, Bahlil dipercaya menjadi Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Nama dan pengaruhnya semakin besar hingga ditunjuk sebagai Kepala BKPM di era Presiden Jokowi, sebelum akhirnya dilantik sebagai Menteri ESDM.
Kini, keputusan-keputusan strategis ada di tangannya termasuk masa depan tambang di tanah Papua.