Sekelompok pelajar Kelas XI SMA 3 Bahasa Putera Harapan Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, berhasil menciptakan sebuah inovasi transportasi ramah lingkungan. Joseph Jefferson Setyako bersama lima rekannya mengembangkan becak listrik berbasis energi surya yang diberi nama E-Cak.
Inovasi ini dipamerkan dalam ajang Forum Nasional Sekolah 3 Bahasa Se-Indonesia “Pendidikan Tanpa Perbedaan” yang diselenggarakan di Sekolah 3 Bahasa Putera Harapan (Puhua School), Purwokerto, pada hari Sabtu. Proyek ini merupakan upaya nyata dalam menghadirkan alternatif transportasi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Gagasan di balik pengembangan E-Cak muncul dari keprihatinan Joseph terhadap eksistensi becak tradisional yang mulai tergerus oleh perkembangan teknologi transportasi modern. Ia berharap inovasi ini dapat menjadi solusi untuk mempertahankan nilai transportasi rakyat dengan sentuhan efisiensi dan ramah lingkungan.
Advertisement
Advertisement
Joseph Jefferson Setyako menjelaskan bahwa E-Cak dirancang sebagai jawaban atas tantangan zaman, di mana becak tradisional berisiko tertinggal akibat kemajuan teknologi. Dengan mengintegrasikan teknologi listrik dan energi surya, becak ini menawarkan modernisasi tanpa menghilangkan identitas aslinya.
Tim pelajar ini berupaya menciptakan kendaraan yang tidak hanya efisien dalam penggunaan energi, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan emisi. Konsep ramah lingkungan menjadi pilar utama dalam pengembangan E-Cak, sejalan dengan kebutuhan akan solusi transportasi berkelanjutan di perkotaan.
E-Cak diharapkan dapat menjadi model bagi pengembangan transportasi tradisional lainnya di Indonesia. Inovasi ini membuktikan bahwa kreativitas dan teknologi dapat bersinergi untuk menciptakan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan.
Advertisement
Advertisement
Total biaya pembuatan satu unit becak listrik E-Cak berkisar antara Rp3 juta hingga Rp4 juta, yang dikerjakan oleh tim beranggotakan enam siswa. Becak ini menggunakan dinamo sebagai penggerak utama, yang mendapatkan aliran listrik dari baterai.
Biaya pembuatan dinamo diperkirakan mencapai sekitar Rp600 ribu, sementara rangka dasar becak memanfaatkan becak bekas yang dibeli seharga sekitar Rp600 ribu. Sumber daya utama E-Cak berasal dari empat unit baterai jenis lead acid atau aki berbasis timbal, dengan kapasitas masing-masing 12 volt.
Setiap unit baterai berharga sekitar Rp240 ribu, sehingga total biaya baterai mencapai sekitar Rp1 juta. Joseph menjelaskan bahwa mereka memerlukan empat aki untuk memenuhi kebutuhan daya sekitar 48 volt. Meskipun opsi baterai lithium tersedia, tim memilih aki karena pertimbangan keterbatasan biaya yang lebih terjangkau.
Advertisement
Selain baterai, tim juga menambahkan panel surya sebagai sumber pengisian daya alternatif. Komponen ini dipilih untuk mendukung konsep ramah lingkungan dan memanfaatkan energi matahari. Panel surya berfungsi sebagai tambahan untuk membantu proses pengisian daya agar lebih hemat dan berkelanjutan.
Advertisement
Dari sisi performa, becak listrik E-Cak mampu menempuh jarak sekitar 10-15 kilometer dalam kondisi bermuatan penuh. Kecepatan maksimal yang dapat dicapai berkisar antara 30-40 kilometer per jam, dengan kapasitas beban maksimal hingga 150 kilogram, termasuk pengendara dan penumpang.
Waktu pengisian daya E-Cak bervariasi; jika menggunakan listrik konvensional, dibutuhkan sekitar enam jam. Sementara itu, pengisian dengan panel surya memerlukan waktu hingga sekitar 10 jam untuk mencapai 80 persen daya, tergantung pada intensitas sinar matahari.
Meskipun demikian, becak ini tetap dapat dikayuh secara manual apabila energi listrik habis dan baterai belum terisi, menawarkan fleksibilitas penggunaan. Tim hanya memiliki waktu sekitar satu bulan untuk menyelesaikan proyek ini, sehingga pengerjaan dilakukan secara intensif setiap pulang sekolah.
Advertisement
Dalam proses pengembangan, tim juga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu riset dan perancangan, meskipun pengujian dan pengecekan tetap dilakukan secara mandiri. Joseph berharap inovasi becak listrik berbasis energi surya ini dapat menjadi alternatif transportasi ramah lingkungan dan mendorong modernisasi kendaraan tradisional di Indonesia.
Sumber: AntaraNews