Nasib Tukang Bubur di Cikini Dipalak Preman: Cepat Transfer Jika Tidak Anak-Anak Turun
Dengan gaya mengintimidasi, mereka berdiri di hadapan HMAM. A melontarkan permintaan disertai ancaman.
Suasana pagi di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, biasanya ramai oleh aktivitas warga dan pedagang kaki lima. Namun pagi itu, aroma kaldu ayam dan sambal kacang yang semerbak dari gerobak bubur di Jalan Cilosari berubah jadi saksi bisu tindak pemerasan terhadap pedagang.
Gerobak milik HMAM, penjual bubur setempat, telah tersusun rapi sejak matahari baru menyingsing. Mangkuk-mangkuk dan panci bubur telah ditata, menanti pembeli pertama. Tapi, bukan pelanggan yang datang lebih dulu, melainkan dua pria asing yang tampak bersikap intimidatif.
Pria pertama, berinisial A, muncul lebih awal dan langsung menghampiri gerobak. Beberapa menit kemudian, menyusul DF. Keduanya bukan pembeli, tapi diduga preman yang mengklaim sebagai penguasa wilayah tersebut. Dengan gaya mengintimidasi, mereka berdiri di hadapan HMAM. A melontarkan permintaan disertai ancaman.
"Sudah, cepat transfer. Kalau tidak, nanti anak-anak turun," kata A dengan nada memaksa.
Ucapan itu membuat HMAM tertekan. Tak hanya ancaman verbal, isyarat kekerasan juga tercium dari perkataan tersebut—seolah ada rencana untuk merusak lapaknya jika tak menuruti.
Dalam kondisi terdesak dan takut akan keselamatannya, HMAM akhirnya menuruti permintaan itu. Ia mentransfer uang ke rekening yang diberikan A, bahkan sampai dua kali.
Meski nominalnya tidak diungkapkan, jumlah tersebut cukup besar hingga membuat HMAM memilih menutup dagangannya lebih awal dari biasanya.
Tak ingin kejadian serupa terulang, HMAM langsung melaporkan insiden itu ke Polsek Metro Menteng, Jakarta Pusat.
Kasus Masih Diselidiki Polisi
Pihak kepolisian membenarkan laporan tersebut. Kasubdit Penmas Polda Metro Jaya, AKBP Reonald Simanjuntak, mengonfirmasi bahwa kasus pemerasan tengah ditangani oleh Polsek Metro Menteng.
"Dengan adanya kejadian tindak pidana pemerasan tersebut, pelapor telah mendatangi Polsek Metro Menteng Jakarta Pusat," ujar Reonald.
Saat ini, proses hukum berada di tahap penyelidikan. Polisi telah meminta keterangan dari satu orang saksi berinisial K.
"Masih tahap penyelidikan," tegasnya.
Premanisme Jalanan Masih Jadi Ancaman
Kejadian ini menambah daftar panjang praktik premanisme yang meresahkan pedagang kecil di ibu kota. Meski operasi penertiban sering dilakukan, nyatanya intimidasi terhadap pelaku UMKM masih terjadi, bahkan dengan modus digital seperti permintaan transfer uang.
Pihak kepolisian diharapkan bisa menuntaskan kasus ini hingga ke akar, dan memastikan pelaku ditindak tegas agar tidak ada lagi pedagang yang harus menutup lapak karena ancaman.