Mentan Amran ‘Ngamuk’ ada Temuan 212 Merek Beras Oplosan & Pupuk Palsu: Tak Beradab, Biadab
Seperti apa pernyataan tegas dari Mentan Andi Amran tersebut?
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan temuan mengejutkan terkait penyimpangan dalam distribusi beras nasional. Bersama Satuan Tugas (Satgas) Pangan, Kementerian Pertanian (Kementan) menemukan 212 merek beras yang diduga tidak sesuai dengan standar kualitas, mutu, dan volume yang berlaku.
Selain beras, Mentan juga menyampaikan jika pupuk palsu turut ditemukan. Lantaran hal ini, Mentan menyebut jika perbuatan tak bertanggung jawab dari para pelaku ini begitu tega hingga tak beradab.
Seperti apa pernyataan tegas dari Mentan Andi Amran tersebut? Simak ulasan selengkapnya berikut ini.
Kementan Temukan Beras Oplosan
Bersama Satuan Tugas Pangan, Kementerian Pertanian berhasil menemukan indikasi beras oplosan. Hal ini menyusul ditemukannya 212 merek beras yang diduga tidak sesuai dengan standar kualitas, mutu, serta volume yang berlaku.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Mentan Andi Amran Sulaiman dalam sebuah wawancara beberapa waktu lalu.
“Temuan Kementerian Pertanian kemarin bersama Satgas Pangan tentang beras dimana kualitasnya mutunya kuantumnya tidak sesuai dengan standar. Ada 212 yang ditemukan oleh Satgas Pangan dan Kementerian Pertanian bersama-sama. Itu (beras) tidak sesuai dengan regulasi yang ada semuanya. Ini yang 212 merek kami sudah kirim langsung ke Pak Kapolri,” tegasnya.
Ia menyebutkan bahwa pemeriksaan terhadap temuan tersebut sudah mulai dilakukan sejak 10 Juli 2025. Pihaknya berharap agar proses hukum berjalan tegas demi melindungi konsumen dari praktik yang merugikan.
“Mudah-mudahan ini diproses cepat. Kami sudah terima laporan tanggal 10 dan dua hari yang lalu itu ee telah mulai pemeriksaan. Kami berharap ini ditindak tegas,” terangnya.
Menurut Amran, salah satu modus yang ditemukan adalah pencantuman label yang tidak sesuai dengan kualitas beras sebenarnya atau sering disebut oplosan. Ia mencontohkan bahwa sebanyak 86% dari produk yang diperiksa mengklaim sebagai beras premium atau medium, padahal hanya beras biasa.
Kepada para pelaku Amran mengimbau agar mereka tidak melakukan hal demikian kembali. Dia berharap agar para pelaku ini bisa menjual beras sesuai standar yang berlaku.
“Dan kepada saudara-saudaraku yang lain, pengusaha beras seluruh Indonesia, jangan melakukan hal serupa. Jangan melakukan hal serupa. Tolong menjual beras sesuai standar yang sudah ditentukan,” paparnya.
Mentan Amran Naik Darah
Selain beras oplosan, Amran mengaku jika Kementan turut menemukan hasil investigasi tak terduga mengenai pupuk palsu di Provinsi Jawa Tengah.
Menurut Amran, pupuk palsu ini membuat kerugian materil bagi para petani hingga Rp3,2 triliun. Lantaran hal ini, Amran menyebut jika para pelaku pupuk palsu tersebut begitu tega hingga tak beradab.
“Bayangkan saja, kerugian petani baru 5 kami temukan pupuk palsu Rp 3,2 triliun, tapi (persoalannya) bukan Rp3,2 triliunnya, petani langsung bangkrut padahal ini pinjaman KUR. Ini tega, tidak beradab, kata lain mungkin biadab,” tegas Amran.
Lebih lanjut Amran menegaskan, dia bersama Kementan bakal membereskan permasalahan ini hingga tuntas.
“Nah, ini kita harus bereskan selama kami di pertanian. Kami fokus, kami betul-betul ingin pertanian Indonesia berjaya. Kami ingin Indonesia menjadi lumbung pangan dunia seperti perintah Bapak Presiden,” tandasnya.
“Kalau terhadap aparat hukum misalnya kami sudah koordinasi, kami sudah sampaikan, kami sudah bicara dengan langsung dengan Pak Kapori dan Kasatgas Pangan yang menghandle mereka akan menindak lanjuti secara tegas dan independen,” pungkasnya.
212 Merek Beras Diduga Oplosan
Melansir dari Lilputan6, belum lama ini Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap temuan 212 merek beras yang diduga tidak sesuai dengan standar kualitas, mutu, hingga volume yang berlaku oleh Satgas Pangan.
Pemeriksaan ini lebih lanjut telah dilakukan sejak 10 Juli 2025 yang lalu. Menurutnya, salah satu modus yang seringkali dilakukan para pengoplos ini ialah pencantuman label yang kurang sesuai dengan isi sebenarnya.
Lantaran praktik ini, Amran menyebut jika potensi kerugian masyarakat mencapai Rp100 triliun.
“Selisih harga dari klaim palsu ini bisa mencapai Rp 1.000 hingga Rp 2.000 per kilogram. Jika dikalikan dengan volume nasional, potensi kerugian masyarakat bisa mencapai hampir Rp 100 triliun,” tegasnya, demikian dilansir dari Liputan6.
Amran berharap, praktik ini tidak diulangi kembali dan para pengusaha beras agar tetap menjual produk sesuai dengan standar yang telah berlaku sebelumnya.
"Kepada saudara-saudaraku pengusaha beras di seluruh Indonesia, jangan melakukan hal seperti ini lagi. Jual beras sesuai dengan standar. Ini demi keadilan bagi masyarakat,” tandasnya.