Iran Tak Main-Main, Manuver AS di Selat Hormuz Dibalas Serangan 15 Rudal dan 4 Drone ke UEA
Iran menjelaskan bahwa serangannya terhadap UEA merupakan respons terhadap tindakan provokatif yang dianggap mengancam keamanan nasional mereka.
Iran meluncurkan lebih dari selusin rudal dan drone ke Uni Emirat Arab (UEA) sebagai reaksi terhadap apa yang mereka sebut sebagai "petualangan militer" yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz. UEA mengonfirmasi bahwa Iran melancarkan serangan dengan 12 rudal balistik, tiga rudal jelajah, dan empat drone pada hari Senin, 4 Mei 2026.
Serangan drone ini menyebabkan kebakaran di pelabuhan Fujairah, yang merupakan pusat ekspor minyak utama UEA. Selain itu, pemerintah Emirat melaporkan bahwa tiga warga negara India mengalami "luka sedang" akibat serangan tersebut.
"Serangan-serangan ini merupakan eskalasi berbahaya dan pelanggaran yang tidak dapat diterima, yang menimbulkan ancaman langsung terhadap keamanan negara, stabilitas, dan keselamatan wilayahnya," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri UEA seperti dikutip dari Middle East Eye.
Iran Sebut Sebagai Balasan Atas Manuver AS di Kawasan Teluk
Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa UEA memiliki hak penuh dan sah untuk merespons serangan-serangan ini. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa seorang pejabat senior menyatakan serangan tersebut sebagai balasan atas manuver militer AS di kawasan Teluk dan bukan merupakan tindakan yang direncanakan sebelumnya.
"Republik Islam tidak memiliki rencana untuk menyerang (fasilitas minyak ini)," lapor Media Iran mengutip pejabat senior yang menyatakan bahwa serangan itu adalah akibat dari "petualangan militer AS yang bertujuan membuka jalur bagi kapal-kapal untuk secara ilegal melintasi Selat Hormuz yang dibatasi."
Sebelumnya pada hari yang sama, AS mengumumkan rencana untuk mengawal kapal-kapal yang keluar dari Selat Hormuz. Kantor berita Iran, Fars, juga melaporkan bahwa Iran menyerang sebuah kapal perang AS dengan dua rudal saat kapal tersebut berusaha melintasi perairan itu.
Presiden AS Donald Trump membantah klaim tersebut pada saat yang bersamaan, dengan menyatakan bahwa hanya sebuah kapal Korea Selatan yang terkena serangan. Ia juga menegaskan bahwa AS telah menembak tujuh kapal serang cepat di Teluk, namun Iran membantah klaim tersebut.
Cara Iran Menekan AS Lewat UEA?
Konflik yang meningkat pada hari Senin memberikan tantangan baru terhadap upaya gencatan senjata yang telah berlangsung rapuh antara kedua negara. Proses perundingan di antara mereka telah terhenti sejak gencatan senjata mulai diterapkan pada 8 April.
Baik Teheran maupun Washington umumnya menjaga jarak dan menghindari serangan langsung satu sama lain, lebih memilih untuk menunjukkan kekuatan melalui blokade yang saling bersaing di kawasan Teluk. Pada Senin, Trump kembali mengeluarkan ancaman terhadap Iran, meskipun pada saat yang sama ia dianggap meremehkan serangan yang ditujukan kepada UEA.
Ia menyatakan bahwa Iran akan dihapus dari muka Bumi jika berusaha menyerang kapal-kapal AS di Selat Hormuz. Meskipun demikian, ia juga mengindikasikan bahwa Iran tampak lebih "lunak" dalam proses perundingan.
Serangan yang dilancarkan oleh Iran dianggap sebagai bukti nyata bahwa negara tersebut berusaha menekan AS dengan menargetkan UEA. Abu Dhabi, sebagai negara Teluk yang paling dekat dengan Israel, menjadi fokus perhatian.
Dalam upaya melindungi UEA dari potensi serangan Iran, Israel dilaporkan telah mengerahkan teknisi dan sistem pertahanan udara. Setelah serangan tersebut, UEA mengumumkan bahwa kegiatan sekolah akan dilakukan secara daring minggu ini.
Di sisi lain, Oman melaporkan bahwa dua orang terluka akibat serangan yang menghantam sebuah bangunan tempat tinggal di Bukha. Bukha sendiri adalah sebuah kota yang juga menjadi nama provinsi di Oman, terletak di wilayah eksklave sepanjang pesisir Teluk, di barat laut emirat Fujairah.