Gara-gara Anak-anak Nakal Dikirim ke Barak Militer oleh Dedi Mulyadi, Ungkapan Bocah-bocah Ini Bikin Syok
Takut dibawa ke barak militer, begini jawaban anak-anak saat mengubah kebiasaan bermain bersama teman.
Program pendidikan karakter lewat barak militer terbukti memberikan dampak positif bagi lingkungan anak-anak.
Seperti dalam sebuah video yang diunggah akun TikTok @fauzifirs belum lama ini, sekumpulan bocah yang biasanya berkumpul untuk bermain game online saat ini tidak lagi melakukan kebiasaan tersebut.
Video itu diketahui direkam di kawasan perkampungan Pondok Gede, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Awalnya terdapat seorang warga yang merekam aktivitas lima orang anak yang tengah berkumpul usai melaksanakan ibadah maghrib.
Jika biasanya mereka membuang waktu dengan bermain handphone (HP), kini mereka sama sekali tak membawanya dan lebih memilih mengobrol.
"Nah gitu dong sekarang mainnya sudah enggak megang hp sudah enggak mabar lagi. Tahu kan sekarang apa konsekuensinya kalau tawuran, malas sekolah, ngelawan orang tua, kebanyakan mabar, tahu kan kenapa?" ucap seorang warga.
Menanggapi pertanyaan warga tersebut, salah seorang bocah memberikan jawaban terkait alasannya tak lagi bermain hp saat bersama yang lain.
"Iya bang takut dikirim ke barak militer sama gubernur Kang Dedi Mulyadi," ucapnya.
Ancam Datang ke Rumah
Sebelumnya Dedi Mulyadi membuat sebuah video pendek berisi ancaman akan mendatangi rumah anak-anak yang nakal dan tidak mau nurut dengan orang tua.
Meskipun dalam konteks candaan, ia selama ini tak ragu membawa anak-anak yang dianggap tidak taat untuk mengikuti pendidikan di barak militer.
Dalam video tersebut, Dedi memberikan peringatan sekaligus ancaman akan 'menjemput' anak-anak jika masih melawan orang tua.
"Siapa yang anak-anak enggak mau mandi? Siapa yang enggak mau makan? Siapa yang enggak mau tidur? Siapa yang susah bangun? Siapa yang enggak mau ke sekolah? Siapa yang jajan terus? Awas ya kalau sampai melawan orang tuanya, enggak patuh, ingin jajan terus, susah tidur, susah bangun, susah mandi, susah makan, malas ke sekolah, awas loh Pak Gubernur nanti datang ngejemput. Ayo, mau dijemput Pak Gubernur atau nurut sama Ibu dan Bapaknya? Pak Gubernur datang lo kalau enggak nurut, dibawa nanti," ucap Dedi Mulyadi.
Orang Tua Kewalahan Hadapi Anak
Dedi Mulyadi mengaku banyak mendapat keluhan dari orangtua hingga meminta menitipkan anak-anak mereka untuk ikut program pendidikan karakter ala militer yang digagasnya.
Menurutnya, laporan tersebut menjadi bukti program tersebut mendapat dukungan dari masyarakat. Menurutnya, banyak orangtua yang kini sudah kewalahan dalam menghadapi anak-anaknya yang 'sulit diatur'.
"Itu tandanya kegiatan ini mendapatkan respons positif. Artinya bahwa hari ini orangtua sudah kewalahan menghadapi anak," kata Dedi, dikutip Senin (5/5).
Program pendidikan karakter tersebut telah berjalan sejak 2 Mei 2025 di Kabupaten Purwakarta, di mana 39 siswa telah mengikuti pendidikan karakter di Barak Resimen 1 Sthira Yudha.
Lebih lanjut, Dedi mengatakan pendidikan karakter ini diperuntukan untuk anak-anak berperilaku nakal dan orangtuanya tak lagi sanggup untuk mendidik. Adapun untuk anak yang melakukan aksi kriminal, Dedi mengatakan bahwa anak terkait akan dibina melalui peradilan anak.
"Kan memang teorinya begini, anak yang mengalami kenakalan kalau itu kriminal maka lewat peradilan anak, kemudian nanti lewat pembinaan, misalnya lembaga tempat penitipan anak untuk dilakukan pembinaan, itu kan yang berproses kriminal berdasarkan peradilan," ucapnya.
Bantu Orang Tua Mendidik Anak
Program pendidikan karakter bertujuan untuk membantu orangtua yang tak lagi sanggup dalam mendidik anaknya.
"Tetapi kan banyak yang tidak berproses kriminal, tapi nakalnya enggak pernah berhenti. Akhirnya mereka harus balik ke orangtuanya, pertanyaannya adalah ketika orangtuanya sudah tidak punya kesanggupan, enggak sanggup menghadapi anaknya bolos terus, enggak sanggup anaknya main game terus, motor-motoran terus, minum ciu. Kan kayak minum ciu, eksimer gak bisa dipidana," katanya.
Guna mengatasi hal tersebut, Dedi bersama para kepala daerah di Jawa Barat dan bekerja sama dengan TNI bermaksud untuk turun tangan dalam mendidik anak-anak tersebut.
"Ini kan harus ada orang yang menangani, saya termasuk dan pak bupati Purwakarta, dan bupati dan wali kota lainnya seluruh Jawa Barat sanggup menangani dengan bekerja sama dengan TNI," tandasnya.