Duel Maut Jenderal Iran Vs Israel, 2 Sosok Panglima Penentu Strategi Perang
Di balik perang antara Iran Vs Israel, ada sosok penting yang berperan dalam merancang strategi tempur.
Mata dunia beberapa hari terakhir tertuju pada kawasan Timur Tengah. Perang rudal dimulai setelah Israel, yang berkoalisi dengan Amerika Serikat (AS), melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Serangan udara ini menargetkan berbagai fasilitas terkait program nuklir, sistem rudal balistik, serta pusat komando Garda Revolusi Iran. Namun, Iran tidak tinggal diam dan segera melakukan balasan.
Pada Minggu, 3 Maret 2026, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan empat rudal balistik yang ditujukan kepada kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln. Iran menamai serangan ini dengan sebutan Operasi True Promise 4.
Perang antara Iran dan koalisi Israel serta Amerika Serikat telah memasuki hari keempat pada Selasa, 2 Maret 2026. Perang yang diperkirakan akan berlangsung lama ini telah mengakibatkan sedikitnya 555 orang tewas akibat serangan yang dilancarkan oleh AS dan Israel, yang menghantam 131 wilayah administratif di Iran.
Di antara korban adalah pimpinan tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Di balik ketegangan perang di kawasan Teluk, terdapat sosok sentral yang berperan penting dalam strategi untuk meraih kemenangan. Kedua sosok ini dikenal sebagai ahli strategi yang handal.
Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi
Sosok pertama adalah panglima tempur Republik Islam Iran yang baru, Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi. Ia dengan tegas menyatakan bahwa Garda Revolusi sedang mempersiapkan "operasi ofensif paling besar dan paling kuat dalam sejarah Republik Islam," dengan fokus serangan kepada Israel dan instalasi militer AS di kawasan.
IRGC merupakan pasukan elite yang memiliki peran vital dalam menjaga kelangsungan Republik Islam Iran serta memperluas pengaruh Teheran di tingkat regional dan internasional. Ahmad Vahidi menggantikan posisi Mohammad Pakpour yang tewas dalam serangan gabungan oleh Amerika Serikat dan Israel sebelumnya.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5519799/original/089373600_1772597438-Screenshot_2026-03-04_at_10.58.10.jpg)
Ahli Strategi Perang
Ahmad Vahidi, yang lahir dengan nama Vahid Shahcheraghi, bukanlah sosok yang asing dalam struktur pertahanan Iran. Dia dikenal sebagai salah satu pendiri IRGC dan memiliki pengalaman panjang dalam dunia militer, seperti yang dikutip dari laman Daily Iran News pada Senin (2/3/2026).
Pada Desember 2025, Vahidi diangkat sebagai wakil panglima tertinggi IRGC. Dia juga pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Menteri Dalam Negeri Iran, sehingga tidak mengherankan jika dia menjadi sosok penting dalam lingkaran keamanan nasional.
Di dalam IRGC, Vahidi pernah memimpin Pasukan Quds, yang bertanggung jawab atas operasi militer eksternal Iran serta pengelolaan jaringan aliansi bersenjata di kawasan. Dia dikenal memiliki peran signifikan dalam merumuskan strategi perang asimetris Iran dan membangun kemitraan regional yang menjadi dasar proyeksi kekuatan Teheran.
Dengan posisi barunya sebagai Panglima Tertinggi IRGC, Vahidi kini menjadi garda terdepan dalam respons militer Iran terhadap serangan terbaru.
Letnan Jenderal Eyal Zamir
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5519800/original/050935700_1772597439-Screenshot_2026-03-04_at_10.56.20.jpg)
Otak Perang Israel
Sosok kedua berasal dari pihak lawan, yaitu Letnan Jenderal Eyal Zamir, yang namanya terkenal di Israel. Jenderal Zamir dianggap sebagai figur penting yang mengendalikan kekuatan bersenjata di kawasan Timur Tengah.
Ia dikenal sebagai sosok yang tegas dengan karir militer yang cemerlang. Saat ini, ia menjabat sebagai Kepala Staf Israel Defense Forces (IDF) sejak 5 Maret 2025, dan dianggap sebagai tokoh paling berpengaruh dalam perang melawan Iran.
Jenderal Eyal Zamir lahir pada tahun 1966 di Eilat dan menempuh pendidikan di Akademi Militer untuk Komando di Tel Aviv. Ia lulus dari Sekolah Tinggi Komando dan Staf Antar-Layanan serta Sekolah Tinggi Keamanan Nasional. Selain itu, ia juga mempelajari ilmu politik di Universitas Tel Aviv dan meraih gelar master dalam keamanan nasional dari Universitas Haifa.
Untuk menambah wawasan manajerialnya, ia menyelesaikan Program Manajemen Umum untuk Eksekutif Senior di The Wharton School.
Pernah Menduduki Berbagai Posisi Penting dan Strategis
Sepanjang karirnya, Jenderal Zamir telah banyak bertugas di berbagai pos strategis militer. Melansir dari The Media Line, ia direkrut ke dalam Korps Lapis Baja IDF pada tahun 1984. Ia memimpin berbagai brigade dan divisi lapis baja, termasuk Brigade Lapis Baja ke-7 dan Divisi ke-143. Pada tahun 2009, ia mengambil alih komando Divisi ke-36, sebuah posisi penting dalam pasukan darat Israel.
Jenderal Zamir juga pernah bertugas di komando selatan, yang berbatasan langsung dengan Gaza pada tahun 2015. Ia menjabat sebagai wakil kepala staf pada tahun 2018, sebuah posisi yang mendekatkannya pada puncak komando militer Israel.
Selama karirnya, ia telah menduduki posisi penting dan strategis, termasuk sebagai Sekretaris Militer untuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dari tahun 2012 hingga 2015.
Jabatan-jabatan yang diraihnya menunjukkan bahwa ia dianggap sebagai salah satu perwira paling terlatih dalam strategi. Tak heran jika Jenderal Zamir dinilai sebagai otak strategi IDF.
Operasi militer yang intens dilakukan oleh Israel terhadap Iran dan Palestina tidak dapat dipisahkan dari peran Jenderal Zamir sebagai pemegang tongkat komando militer Israel, berbekal pengalaman di lapangan dan kedekatannya dengan pengambil kebijakan.