Paus Leo XIV Ingatkan Dampak Buruk AI
Paus Leo XIV mengingatkan para politisi akan risiko yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan.
Paus Leo XIV mengingatkan para pemimpin politik mengenai tantangan dan dampak negatif yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan atau AI.
Dalam pernyataannya, Paus yang merupakan pemimpin Gereja Katolik asal Amerika Serikat ini menyoroti potensi dampak buruk AI terhadap generasi muda.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Paus Leo XIV dalam sebuah acara yang dihadiri oleh Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, serta delegasi parlemen dari 68 negara.
Kepedulian Paus Leo XIV terhadap perkembangan teknologi AI sudah terlihat dalam beberapa kesempatan selama beberapa minggu pertama masa kepausannya.
“Secara khusus tak boleh dilupakan bahwa kecerdasan buatan berfungsi sebagai alat untuk kebaikan manusia, bukan untuk mengurangi peran manusia atau bahkan untuk menggantikan,” ungkap Paus Leo, seperti yang dikutip dari Reuters pada Rabu (25/6).
Di sisi lain, para pendukung AI berpendapat bahwa teknologi ini akan mempercepat kemajuan di bidang ilmiah dan teknologi serta membantu individu dalam menyelesaikan berbagai tugas sehari-hari.
Dengan demikian, manusia dapat memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada pekerjaan yang lebih bernilai tinggi dan kreatif. Hal ini menunjukkan adanya perdebatan yang berkelanjutan mengenai manfaat dan risiko yang terkait dengan kecerdasan buatan dalam kehidupan sehari-hari.
Perdana Menteri Italia Menghargai Pengajaran Paus Leo XIV
Di sisi lain, Perdana Menteri Italia, Meloni, mengungkapkan penghargaan terhadap ajaran Paus yang mengecam ketimpangan antara orang kaya dan miskin dalam masyarakat.
Ia menyatakan, "Italia akan melanjutkan upaya, baik secara nasional maupun internasional, untuk memastikan bahwa pengembangan AI diatur oleh manusia dan berdampak menyejahterakan manusia sebagai tujuan utamanya."
Selain itu, Paus Fransiskus juga menekankan pentingnya perhatian pemerintah dari berbagai negara terhadap generasi muda. Ia menekankan perlunya memastikan gaya hidup yang sehat dan adil, yang pada gilirannya akan memberikan manfaat bagi masa depan para penerus bangsa.
Menurut pendapat Paus Leo XIV, "memori statis" yang dimiliki oleh kecerdasan buatan (AI) tidak dapat dibandingkan dengan kekuatan "kreatif dan dinamis" yang dimiliki manusia. Ia menegaskan bahwa "kehidupan pribadi kita memiliki nilai lebih besar ketimbang algoritma apa pun."
Leo juga menambahkan bahwa hubungan sosial memerlukan ruang untuk berkembang lebih jauh, melebihi pola-pola terbatas yang dapat dihasilkan oleh mesin tanpa jiwa.
Paus Leo XIV, yang terpilih pada bulan Mei setelah meninggalnya Paus Fransiskus, sebelumnya telah mengungkapkan kekhawatirannya mengenai potensi ancaman yang ditimbulkan oleh AI terhadap dunia kerja. Ia menyerukan kepada para jurnalis agar menggunakan AI dengan cara yang bertanggung jawab, mengingat dampak yang mungkin ditimbulkan oleh teknologi ini terhadap masyarakat.