Paus Leo XIV melakukan perjalanan apostolik ke Afrika dengan agenda mengunjungi Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Ekuatorial. Perjalanan apostolik ini dilakukan dari tanggal 13 hingga 23 April.
Paus Leo XIV tiba di Aljazair pada Senin (13/4) pagi waktu setempat. Paus Leo mengaku senang dapat mengunjungi kembali tanah Santo Agustinus.
"Menawarkan jembatan yang sangat penting dalam dialog antaragama," kata Paus Leo.
Advertisement
Setibanya di Aljazair, Paus langsung mengunjungi Monumen Para Martir, 'Maqam Echahid,'. Monumen ini dibangun untuk memperingati mereka yang kehilangan nyawa dalam Perang Kemerdekaan Aljazair dari tahun 1954 hingga 1962.
Bapa Suci mengingatkan hadirin bahwa “Masa depan adalah milik pria dan wanita yang cinta damai”. Dia menekankan bahwa “kebebasan sejati bukanlah sekadar warisan; kebebasan itu dipilih kembali setiap hari”.
Selepas dari sana, Paus Leo XIV mengunjungi Istana Kepresidenan, melakukan kunjungan kehormatan bertemu Presiden Republik Aljazair. Dalam pidatonya, Paus Leo XIV mendesak para aktor negara untuk menghormati martabat setiap orang dan membiarkan diri mereka tersentuh oleh penderitaan orang lain, alih-alih memperbanyak kesalahpahaman dan konflik.
Sore hari, Paus Leo melakukan kunjungan singkat ke Masjid Agung Aljazair. Di sana, Paus Leo XIV menyempatkan waktu sejenak untuk merenung dalam keheningan, didampingi Imam Masjid Agung, Mohamed Mamoun Al Qasimi.
Advertisement
Dalam percakapannya dengan imam masjid agung, Paus menekankan pentingnya rasa hormat timbal balik dan menghormati martabat setiap orang. Kunjungan ke masjid ini sangat penting, karena Aljazair adalah negara mayoritas Muslim di mana komunitas Kristen merupakan minoritas kecil namun dinamis. Hidup Berdampingan Sebagai Saudara
Bapa Suci kemudian melakukan kunjungan pribadi ke Pusat Penyambutan dan Persahabatan Para Suster Misionaris Agustinian Bab El Oued. Di sana, beliau memberikan penghormatan kepada para suster yang terbunuh antara tahun 1994 dan 1996, selama Perang Saudara Aljazair, yang juga dikenal sebagai Dekade Hitam.
Paus Leo XIV menjelaskan, kehidupan para suster tersebut mencerminkan dimensi yang tertanam dalam spiritualitas Agustinian: yaitu kesaksian, bahkan sampai pada titik kemartiran.
Paus Leo kemudian bertemu dengan Komunitas Aljazair di Basilika Bunda Maria Afrika. Mereka menyambut dengan sorak sorai dan musik meriah. Meski hujan deras, mereka tetap antusias mengikuti acara tersebut dari luar Basilika yang penuh sesak.
Paus mendengarkan dengan serius kesaksian dari orang-orang dari berbagai agama, termasuk seorang wanita muslim dan seorang mahasiswa Pentakosta. Mereka berbagi pengalaman mereka hidup berdampingan secara bersaudara sebagai orang Kristen dan Muslim.
Dalam sambutannya, Bapa Suci mengingatkan “Di mana perpecahan dan perang menabur penderitaan dan kematian di antara bangsa-bangsa, dalam komunitas, dan bahkan dalam keluarga. Pengalaman persatuan dan perdamaian mereka adalah tanda yang meyakinkan.”