Paus Fransiskus Pernah Mengakui Gaptek Tak Bisa Pakai Komputer
Paus Fransiskus, meski mengaku gaptek, mendorong penggunaan teknologi dan AI secara etis untuk kemanusiaan.
Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik yang dikenal sebagai sosok reformis dan peduli isu terkini, pernah mengakui ketidakmampuannya menggunakan komputer.
Ia menyebut dirinya "gagap teknologi" dan tidak bisa mengetik di komputer, namun tetap aktif memanfaatkan internet dan media sosial sebagai sarana komunikasi dan dakwah.
Mengutip ABC News, pernyataan ini disampaikan Paus Fransiskus sejak tahun 2015 dan terus menjadi bagian dari sikapnya yang realistis terhadap kemajuan teknologi.
"Saya tidak bisa mengetik di komputer. Sangat memalukan ya," imbuhnya sambil tertawa.
Meski tidak mahir menggunakan perangkat digital, ia mengakui manfaat besar internet dan media sosial jika digunakan dengan bijak, bahkan menyebutnya sebagai "anugerah Tuhan".
Namun, Paus juga mengingatkan pentingnya penggunaan teknologi secara bertanggung jawab dan etis, terutama di tengah perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) yang kini menjadi perhatian global.
Pentingnya Etika dalam Teknologi dan AI
Pada berbagai kesempatan, termasuk konferensi tingkat tinggi G7 dan konvensi internasional tentang AI, Paus Fransiskus menegaskan bahwa teknologi, khususnya AI, harus diarahkan untuk melayani kemanusiaan dan menghormati martabat manusia. Ia memperingatkan risiko penyalahgunaan teknologi yang dapat mengancam kebebasan dan nilai-nilai sosial.
Dalam pidatonya di KTT G7 pada Juni 2024, Paus menyampaikan bahwa AI menawarkan transformasi penting dalam penelitian ilmiah dan kemajuan umat manusia, namun pengawasan ketat diperlukan agar teknologi ini tidak mengorbankan martabat manusia. Ia menjadi paus pertama yang berpidato di forum tersebut, menunjukkan keseriusannya dalam isu teknologi.
Selain itu, Paus juga menyerukan perjanjian global yang mengatur penggunaan AI agar tidak menjadi "kediktatoran teknologi" yang merugikan umat manusia. Ia mengajak semua pihak untuk mengedepankan sisi kemanusiaan dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi baru.
Sikap Paus soal Gadget dan Media Sosial
Paus Fransiskus juga menyampaikan keprihatinannya terhadap kebiasaan penggunaan ponsel saat misa. Pada misa di Lapangan Santo Petrus, Roma, tahun 2017, ia mengungkapkan kesedihan melihat banyak umat, termasuk pendeta dan uskup, sibuk dengan ponsel saat ibadah berlangsung.
"Sangat menyedihkan ketika saya merayakan misa di sini atau di dalam basilika dan saya melihat banyak ponsel diangkat--tidak hanya oleh umat beriman, tetapi juga oleh para pendeta dan uskup," ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan pentingnya fokus dan penghormatan dalam menjalankan ibadah tanpa gangguan teknologi.
Meski demikian, Paus tetap aktif menggunakan media sosial, terutama Twitter, untuk menyebarkan pesan-pesan moral dan ajakan kebaikan kepada umat di seluruh dunia.
Ia juga telah melakukan beberapa telekonferensi global sebagai bagian dari adaptasi terhadap era digital.
Warisan dan Pesan Terakhir Paus Fransiskus
Paus Fransiskus wafat pada Senin, 21 April 2025, di Kota Suci Vatikan, Roma, pada usia 88 tahun akibat penyakit bronkitis kronis.
Sepanjang kepemimpinannya, ia dikenal sebagai pemimpin yang terbuka dan progresif, termasuk dalam pandangannya terhadap teknologi dan dampaknya pada kehidupan manusia.
Pada awal April 2025, Paus menyampaikan intensi doanya yang menyoroti pentingnya penggunaan teknologi yang tidak mengorbankan hubungan antarmanusia dan menghormati martabat individu.
Ia mengajak umat untuk mengurangi ketergantungan pada layar gadget dan lebih banyak berinteraksi secara langsung dengan sesama.
Dalam konteks perkembangan AI, Paus mengingatkan agar teknologi ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia, meningkatkan kesejahteraan, dan mendukung pengembangan integral manusia.
Ia menegaskan bahwa kecerdasan buatan adalah buah dari kecerdasan yang diberikan Tuhan, sehingga harus dipergunakan secara etis dan bertanggung jawab.
Paus Fransiskus meninggalkan pesan kuat agar umat manusia tidak hanya terpaku pada kemajuan teknologi, tetapi juga menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan etika dalam setiap langkah perkembangan teknologi.