Trivia: Menag Nasaruddin Umar Pernah Dicium Paus Fransiskus, UIN Palu Suarakan Layak Nobel Perdamaian Internasional
UIN Datokarama Palu lantang menyuarakan Menteri Agama Nasaruddin Umar layak menerima Nobel Perdamaian Internasional atas kiprahnya membangun jembatan dialog lintas iman yang menginspirasi dunia.
Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Sulawesi Tengah, baru-baru ini mengusulkan sebuah pengakuan global yang signifikan. Institusi pendidikan tinggi Islam tersebut secara resmi menyuarakan kepada dunia bahwa Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar layak menerima penghargaan Nobel Perdamaian Internasional. Usulan ini disampaikan dalam sebuah momen penting, yaitu pada acara wisuda ke-45 sarjana, magister, dan doktor UIN Datokarama Palu.
Rektor UIN Datokarama Palu, Prof. Lukman Thahir, menegaskan bahwa usulan ini didasari oleh peran krusial Menag Nasaruddin Umar sebagai tokoh lintas agama yang sangat berpengaruh. Menurut Prof. Lukman, kiprah Menag telah membuktikan bahwa dialog lintas iman bukanlah sekadar wacana kosong, melainkan sebuah tindakan nyata yang mampu menyalakan harapan perdamaian. Pernyataan ini disampaikan secara langsung oleh Rektor saat menyampaikan pesan almamater dalam acara wisuda tersebut.
Pengusulan ini bertujuan untuk menarik perhatian komunitas internasional terhadap dedikasi Menag dalam memperjuangkan harmoni antarumat beragama. Prof. Lukman Thahir menyoroti bagaimana Menag Nasaruddin Umar telah berhasil menjadi jembatan nurani yang menghubungkan berbagai perbedaan, termasuk Timur dan Barat, Islam dan Kristen, serta tradisi dan modernitas. Inisiatif ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk terlibat aktif dalam upaya mewujudkan perdamaian global.
Kiprah Menag Nasaruddin Umar sebagai Jembatan Lintas Iman
Prof. Lukman Thahir menjelaskan bahwa Menag Nasaruddin Umar bukan sekadar seorang menteri, melainkan sosok yang mampu menjembatani perbedaan melalui dialog dan pemahaman. "Tokoh ini (Nasaruddin Umar) bukan sekadar Menteri Agama tetapi jembatan nurani yang menghubungkan Timur dan Barat, Islam dan Kristen, tradisi dan modernitas, serta iman dan kemanusiaan," ujar Prof. Lukman. Pernyataan ini menggarisbawahi peran penting Menag dalam membangun koneksi spiritual dan kemanusiaan di tengah keragaman.
Dunia telah menyaksikan langsung kiprah Menag Nasaruddin Umar dalam mempromosikan perdamaian lintas agama. Salah satu momen paling berkesan adalah ketika Paus Fransiskus Jorge Mario Bergoglio mengunjungi Masjid Istiqlal. Pada kesempatan itu, dua sosok besar berdiri di satu panggung spiritual, di mana Paus Fransiskus mencium tangan Nasaruddin, dan sebaliknya Menag mengecup kepala Paus. Gestur ini bukan sekadar tindakan seremonial, melainkan sebuah doa yang berwujud tindakan, sebuah pesan bahwa kasih dan perdamaian tidak membutuhkan penerjemah agama.
Tiga hari sebelum pernyataan Rektor UIN Palu, sejarah kembali terulang dengan Menag Nasaruddin Umar berdiri di jantung Vatikan, menyampaikan orasi perdamaian kepada dunia. Menag juga berziarah ke makam sahabatnya, Paus Fransiskus yang telah wafat, dan memeluk Paus yang baru, Paus Leo XIV (Robert Francis Prevost). Tindakan ini seolah menegaskan bahwa persahabatan lintas iman tidak berhenti oleh kematian, tetapi berlanjut dalam cinta yang abadi, menunjukkan dedikasi mendalam terhadap hubungan antaragama.
Perdamaian Global dari Spirit Kemanusiaan
Prof. Nasaruddin Umar pernah menyatakan, "Ketika agama kehilangan kasih, ia kehilangan Tuhan." Pernyataan ini dijawab oleh Paus Fransiskus melalui gestur yang tak terucap, dengan pelukan yang menembus sekat iman dan agama. Prof. Lukman Thahir mengakui bahwa "Pak Menteri tidak berjalan di jalan yang mudah. Ia menempuh jalan sunyi, jalan yang sering sepi dari tepuk tangan, tetapi penuh doa dari langit." Hal ini menggambarkan tantangan yang dihadapi Menag dalam upaya perdamaiannya.
Dari Istiqlal ke Vatikan, dari mihrab ke altar, dari Indonesia untuk dunia, Menag Nasaruddin Umar telah menunjukkan bahwa agama sejati bukan untuk memisahkan, tetapi untuk memeluk. Di tengah dunia yang mudah terbakar oleh kebencian, beliau memilih menjadi air yang memadamkan, menjadi kata yang menenangkan, dan menjadi wajah Islam yang tersenyum. Ini adalah bukti nyata komitmennya terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal.
"Kepada dunia, kami ingin mengatakan dari Palu, dari Indonesia, dari kampus ini kami ikut menjaga dan mengawal nyala perdamaian global dari spirit dan semangat kemanusiaan," kata Prof. Lukman. Ia menambahkan bahwa perdamaian bukan sekadar diplomasi antarnegara, tetapi doa yang hidup di dada para ulama dan orang-orang beriman. Agama dan kemanusiaan, menurutnya, bukanlah dua jalan yang berbeda, melainkan satu napas dalam rumah besar cinta Tuhan.
Sumber: AntaraNews