Kesadaran Deteksi Dini Mata Juling Meningkat, Tindakan Medis Strabismus Bertambah 29 Persen
Peningkatan tersebut dinilai menjadi indikator bahwa edukasi yang berkelanjutan mulai mendorong masyarakat untuk mencari informasi.
Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini strabismus atau mata juling mulai menunjukkan peningkatan. Hal tersebut tercermin dari kenaikan jumlah tindakan penanganan strabismus di JEC Eye Hospitals & Clinics yang meningkat 29 persen sepanjang 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut dinilai menjadi indikator bahwa edukasi yang berkelanjutan mulai mendorong masyarakat untuk mencari informasi dan melakukan pemeriksaan terhadap gangguan penglihatan yang selama ini kerap disalahpahami.
Strabismus merupakan kondisi medis ketika posisi kedua mata tidak sejajar. Kondisi ini dapat terjadi pada anak maupun orang dewasa dan tidak hanya berkaitan dengan aspek penampilan, tetapi juga berpotensi mengganggu fungsi penglihatan apabila tidak ditangani secara tepat.
Gangguan tersebut dapat memengaruhi kemampuan melihat tiga dimensi, memperkirakan jarak, hingga meningkatkan risiko ambliopia atau mata malas.
Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Group, Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, SpM(K), PhD, mengatakan masih banyak masyarakat yang menganggap mata juling sebagai kondisi yang dapat membaik dengan sendirinya seiring bertambahnya usia.
“Penghargaan ini kami maknai sebagai dorongan untuk terus memperluas edukasi kesehatan mata kepada masyarakat. Melalui kampanye strabismus ini, JEC Eye Hospitals & Clinics ingin mengajak orang tua dan masyarakat untuk memahami bahwa mata juling bukan sekadar persoalan estetika, melainkan kondisi medis yang perlu diperiksa. Semakin dini diketahui, semakin besar peluang anak mendapatkan tata laksana yang sesuai dan hasil yang lebih optimal,” ujar Tjahjono dikutip Kamis (25/6).
Menurutnya, orang tua perlu lebih peka terhadap tanda-tanda strabismus sejak dini. Pada bayi, posisi mata yang tampak tidak sejajar dapat terjadi karena koordinasi saraf mata yang belum berkembang sempurna. Namun apabila kondisi tersebut masih berlangsung setelah usia enam bulan, pemeriksaan ke dokter mata perlu segera dilakukan.
Deteksi dini dinilai penting karena penyebab strabismus dapat beragam, mulai dari gangguan otot mata, gangguan saraf, faktor genetik, hingga kelainan refraksi seperti rabun jauh, rabun dekat, maupun silinder yang tidak terkoreksi.
Gejala mata juling juga tidak selalu muncul secara konsisten. Pada sebagian pasien, kondisi tersebut dapat terlihat terus-menerus, sementara pada kasus lain hanya muncul ketika seseorang sedang lelah, mengantuk, melamun, atau dalam kondisi kesehatan tertentu.
Bahkan, terdapat sejumlah kasus strabismus yang hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan mata menyeluruh karena tidak terlihat dalam aktivitas sehari-hari.
Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, JEC menjalankan berbagai program edukasi melalui media digital, media sosial, seminar kesehatan mata, talkshow radio, podcast, publikasi media, hingga kegiatan pemeriksaan mata dan program operasi strabismus gratis.
Pendekatan tersebut dilakukan untuk memastikan informasi mengenai strabismus dapat diakses secara luas sekaligus membantu mengurangi stigma yang selama ini melekat pada penderita mata juling.
Di JEC, penanganan strabismus dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan menyeluruh. Terapi dapat berupa penggunaan kacamata, patching untuk melatih mata yang lebih lemah, vision therapy guna meningkatkan koordinasi otot dan saraf mata, hingga tindakan bedah apabila diperlukan sesuai diagnosis medis.
Tjahjono menegaskan bahwa edukasi kesehatan mata tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat, tetapi juga membantu mereka mengambil keputusan medis yang tepat.
“Bagi kami, edukasi kesehatan mata tidak hanya bertujuan menyampaikan informasi, tetapi juga membantu masyarakat mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kualitas penglihatan. Kami berharap kampanye ini dapat terus mendorong deteksi dini, mengurangi stigma, dan membantu lebih banyak pasien mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan medisnya,” kata dia.
Melalui edukasi yang berkelanjutan dan layanan yang tersedia di berbagai daerah, JEC berharap akses masyarakat terhadap informasi, pemeriksaan, dan penanganan gangguan kesehatan mata dapat semakin luas, khususnya untuk kondisi yang masih sering disalahpahami seperti strabismus.