Kemenkes Gencarkan Pemeriksaan Mata Anak Sekolah, Wamenkes Soroti Peningkatan Kasus Rabun
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) gencar melakukan pemeriksaan mata anak sekolah di seluruh Indonesia untuk memastikan penglihatan sehat demi prestasi optimal, mengingat peningkatan kasus rabun pada anak.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah mengintensifkan program pemeriksaan mata bagi anak-anak usia sekolah di seluruh Indonesia. Inisiatif ini bertujuan untuk mendukung capaian prestasi belajar siswa tanpa terhambat masalah penglihatan. Program ini direncanakan akan diperluas secara signifikan pada tahun 2026.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus mengonfirmasi langsung pelaksanaan skrining mata di SDN Bulak Rukem 1 Surabaya. Kegiatan ini melibatkan kolaborasi lintas sektoral dari berbagai pihak terkait kesehatan dan pendidikan. Mereka berupaya mengidentifikasi dan menangani gangguan penglihatan sejak dini.
Wamenkes menekankan pentingnya penglihatan sehat sebagai fondasi utama bagi anak-anak untuk meraih prestasi akademik. Program ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam Cek Kesehatan Gratis yang telah menjangkau jutaan anak. Fokus penanganan kasus rabun akan ditingkatkan pada tahun mendatang.
Kolaborasi Lintas Sektoral untuk Kesehatan Mata Anak
Pelaksanaan program pemeriksaan mata anak sekolah ini tidak hanya melibatkan Kementerian Kesehatan semata. Berbagai pihak turut berpartisipasi aktif dalam upaya mulia ini untuk memastikan cakupan yang luas dan penanganan yang komprehensif. Kolaborasi ini menjadi kunci keberhasilan program kesehatan mata.
Wamenkes Benjamin Paulus Octavianus menjelaskan, "Hari ini kita lihat sendiri kegiatan ini bagaimana kerja sama lintas sektoral bukan hanya Kementerian Kesehatan tetapi ada juga Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), Persatuan Dokter Mata, Dinkes Provinsi, Dinkes Kota Surabaya, Dinas Pendidikan Surabaya." Sinergi ini memastikan setiap aspek penanganan dapat terkoordinasi dengan baik.
Keterlibatan dinas pendidikan juga krusial dalam memfasilitasi akses ke sekolah-sekolah dan memastikan partisipasi anak didik. Program pemeriksaan mata ini akan diintegrasikan ke dalam Cek Kesehatan Gratis di sekolah. Ini bertujuan untuk menjangkau lebih banyak anak-anak di seluruh wilayah Indonesia.
Peningkatan Kasus Rabun dan Dampak Gaya Hidup Modern
Wamenkes Benjamin Paulus Octavianus menyoroti adanya peningkatan signifikan kasus gangguan mata, khususnya rabun, pada anak-anak usia sekolah. Fenomena ini menjadi perhatian serius karena berpotensi menghambat perkembangan akademik dan non-akademik mereka. Pemeriksaan mata menjadi semakin penting.
Ia mengakui bahwa gaya hidup modern, terutama penggunaan gawai sejak usia dini, menjadi salah satu faktor pemicu utama. "Kenapa kasus mata sekarang meningkat? Tadi kita cek ya, berapa persen dari anak Indonesia usaha sekolah yang harus pakai kacamata,“ ujarnya. Penggunaan gawai yang berlebihan sejak usia 2-4 tahun dapat menyebabkan kerusakan mata.
"Jadi akhirnya kerusakan mata terjadi waktu mereka masuk SD sudah terjadi maka akan terjadi lonjakan kasus," tambah Wamenkes. Banyak orang tua tidak menyadari bahwa anak-anak mereka mengalami gangguan penglihatan yang signifikan. Hal ini mengakibatkan prestasi belajar anak-anak terganggu karena kesulitan membaca.
Solusi dan Target Penanganan Kasus Rabun Anak
Kemenkes berkomitmen untuk tidak hanya melakukan pemeriksaan mata, tetapi juga menyediakan solusi penanganan yang tepat bagi anak-anak yang teridentifikasi mengalami gangguan penglihatan. Program ini akan diperluas dan direncanakan lebih matang pada tahun depan. Fokusnya adalah memberikan intervensi yang efektif.
Wamenkes menjelaskan, "Justru itu setelah menemukan kasus seperti tadi harus kita cari jalan keluarnya, harus dilakukan tindakan pemberian kaca mata diukur dulu kondisi matanya anak." Penanganan kasus akan melibatkan lintas sektoral, baik pemerintah maupun swasta, untuk memastikan setiap anak mendapatkan kacamata jika diperlukan.
Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), Prof. dr. Budu, Sp.M(K), Ph.D., M.Med.Ed., mengungkapkan data yang mengkhawatirkan. "Tahun ini sekitar 165 juta anak Indonesia rabun dan harus memakai kacamata." Namun, ia menambahkan, "Dan itu hanya satu di antara empat yang bisa mendapat solusi pemberian kacamata." Ini menunjukkan urgensi program pemeriksaan mata anak sekolah.
Sumber: AntaraNews