Mengunjungi Benteng Anna, Jejak Peninggalan Kolonial Inggris di Mukomuko Bengkulu
Nama benteng ini diambil dari seorang bangsawan Inggris bernama Keningin Anne van England.
Nama benteng ini diambil dari seorang bangsawan Inggris bernama Keningin Anne van England.
Mengunjungi Benteng Anna, Jejak Peninggalan Kolonial Inggris di Mukomuko Bengkulu
Peninggalan penjajahan kolonial di Nusantara tak hanya berasal dari Bangsa Belanda, Jepang, ataupun Portugis. Ada juga peninggalan dari kolonial Inggris atau East India Company (EIC), salah satunya adalah Benteng Anna atau Fort Anne.
Benteng ini dibangun pada abad ke-18 dan berlokasi di sebelah Selatan Sungai Selagan, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu.
Saat ini kondisi benteng tersebut sudah runtuh sehingga menyebabkan bentuk asli benteng tak diketahui wujudnya.
Dari Nama Bangsawan
Nama benteng ini diambil dari seorang bangsawan Inggris bernama Keningin Anne van England.
Dibangun oleh kolonial Inggris pada tahun 1789 di tepi Sungai Selagan, benteng ini digunakan untuk pertahanan perang dan juga aktivitas perdagangan hasil bumi.
Meski namanya mirip, benteng ini berbeda jauh dengan Fort Anne yang ada di Kanada.
Sisa Benda Sejarah
Ada banyak benda bersejarah yang ada di Benteng Anna ketika masih dihuni oleh kolonial Inggris. Beberapa benda itu kini sudah usang dan kurang terawat.
Salah satu benda yang tersisa di benteng ini adalah dua buah meriam kuno yang difungsikan sebagai pertahanan ketika diserang musuh. Selain itu, sisa-sisa reruntuhan benteng pun kini hanya menjadi bukti kecil peninggalan sejarah yang ada di Bengkulu.
Kondisi Memprihatinkan
Peninggalan sejarah membutuhkan perawatan yang baik agar tidak tergerus oleh faktor cuaca atau hal-hal lainnya. Di benteng Anna, beberapa bagian terlihat sudah runtuh akibat ulah tangan manusia dan faktor alam.
Runtuhnya beberapa bagian benteng mengakibatkan bentuk asli dari bangunan tersebut sudah tak diketahui lagi wujudnya. Melansir dari liputan6.com, pada tahun 1950-an benteng ini masih berdiri dengan bangunan aslinya, seiring berjalannya waktu benteng tersebut hilang bak ditelan bumi.
Kurangnya perhatian dari pemerintah mengakibatkan bangunan ini terbengkalai dan tidak terawat. Perlu adanya gerakan untuk menjaga kelestarian benteng.