DPR Dorong Percepatan Pembangunan Jalan Bypass Lembar-Kayangan NTB
Anggota DPR RI H. Abdul Hadi mendesak percepatan pembangunan Jalan Bypass Lembar-Kayangan NTB yang strategis. Proyek senilai Rp3,5 triliun ini akan memangkas waktu tempuh dan melancarkan logistik.
Anggota Komisi V DPR RI, H Abdul Hadi, secara aktif mendorong percepatan pembangunan jalan bypass yang menghubungkan Pelabuhan Lembar di Lombok Barat ke Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan konektivitas dan efisiensi transportasi di wilayah tersebut. Komunikasi telah terjalin dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Jalan Nasional serta pemerintah provinsi untuk menata rancangan proyek.
Fokus utama saat ini adalah penyempurnaan Detail Engineering Design (DED) dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), menyusul rampungnya studi kelayakan (Feasibility Study/FS). Proyek ini dirancang untuk dibangun melalui jalur selatan, membentang dari Pelabuhan Lembar, Gerung, menuju Lombok Tengah dan Keruak, hingga Pelabuhan Kayangan. Estimasi anggaran proyek berkisar antara Rp2 triliun hingga Rp3 triliun, angka yang jauh lebih realistis dibandingkan rencana awal pembangunan jalan tol senilai Rp22 triliun.
Pembangunan jalan bypass sepanjang hampir 80 kilometer ini dianggap lebih memungkinkan untuk direalisasikan. Pertimbangan utama adalah kemampuan masyarakat setempat untuk membayar tarif tol yang dinilai masih cukup berat. Pengalaman di daerah lain menunjukkan bahwa banyak jalan tol yang telah terbangun masih sepi pengguna, sehingga opsi bypass dinilai lebih tepat untuk kondisi Nusa Tenggara Barat.
Dorongan Percepatan dan Realisme Proyek Jalan Bypass
Anggota Komisi V DPR RI, H Abdul Hadi, terus mengawal percepatan pembangunan jalan bypass Lembar-Kayangan NTB. Langkah ini merupakan bagian dari upaya peningkatan infrastruktur vital di wilayah tersebut. Pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian PUPR melalui Balai Jalan Nasional dan pemerintah provinsi untuk memastikan kelancaran tahapan proyek.
Saat ini, tim fokus pada finalisasi Detail Engineering Design (DED) dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), setelah sebelumnya studi kelayakan (FS) telah rampung. Desain jalan bypass ini akan mengikuti jalur selatan, dimulai dari Pelabuhan Lembar, melewati Gerung, Lombok Tengah, Keruak, hingga mencapai Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur. Pendekatan ini dipilih untuk mengoptimalkan jalur dan meminimalkan dampak.
Anggaran yang dialokasikan untuk proyek jalan bypass ini diperkirakan mencapai Rp2 triliun hingga Rp3 triliun, sebuah angka yang lebih realistis dibandingkan rencana awal pembangunan jalan tol yang mencapai Rp22 triliun. Abdul Hadi menekankan bahwa pembangunan bypass sepanjang sekitar 80 kilometer lebih sesuai dengan kondisi ekonomi masyarakat lokal. Hal ini mengingat potensi rendahnya penggunaan jalan tol jika masyarakat harus membayar tarif.
Rencana Anggaran dan Tahapan Pembangunan Jalan Bypass
Pemerintah Provinsi NTB sebelumnya telah mengindikasikan bahwa pembangunan jalan bypass yang menghubungkan Pelabuhan Lembar dan Pelabuhan Kayangan akan dimulai pada tahun 2027. Kepala Dinas PUPR NTB saat itu, Sadimin, menjelaskan bahwa proyek ini masih dalam tahap penyusunan DED dan studi lingkungan. Studi kelayakan atau FS telah berhasil diselesaikan sebagai fondasi awal.
Total anggaran yang dibutuhkan untuk proyek pembangunan jalan bypass ini diperkirakan mencapai Rp3,5 triliun. Anggaran tersebut mencakup pembangunan jalur baru dari Sengkol, Lombok Tengah, hingga Pringgabaya, Lombok Timur. Selain itu, dana juga dialokasikan untuk peningkatan jalan dari Bundaran Gerung, Lombok Barat, sampai Bandara Internasional Lombok (BIL) di Lombok Tengah.
Secara rinci, segmen Sengkol-Pringgabaya akan menyerap porsi terbesar dari anggaran, yakni sekitar Rp2,8 triliun. Sementara itu, peningkatan Bypass Bandara Internasional Lombok sepanjang 20,4 kilometer membutuhkan alokasi dana sebesar Rp700 miliar. Sadimin menambahkan bahwa perhitungan ini masih bersifat kasar dan detailnya akan terlihat setelah DED tuntas dikerjakan.
Pembangunan jalan bypass ini merupakan kelanjutan dari jaringan bypass BIL-Mandalika dan bypass Bundaran Gerung-BIL yang sebelumnya telah dibangun oleh pemerintah pusat. Desain trase bypass sengaja diarahkan mengikuti jalan kabupaten dan kawasan minim permukiman. Strategi ini diambil untuk menghindari lonjakan biaya pembebasan lahan yang kerap menjadi kendala dalam proyek infrastruktur besar.
Manfaat Strategis dan Spesifikasi Teknis Jalan Bypass
Jalan bypass ini rencananya akan dibangun dengan lebar 25-30 meter, dilengkapi dua jalur dan empat lajur. Beberapa titik persimpangan akan dilengkapi jalur lambat, serupa dengan desain bypass Mandalika, untuk memastikan kelancaran lalu lintas. Rute bypass akan melewati Keruak, Labuhan Haji, Korleko, Pohgading, hingga Pringgabaya, menghubungkan berbagai titik strategis di Lombok.
Dari total panjang sekitar 25 kilometer, sekitar 13 kilometer akan berada di wilayah Lombok Tengah dan 12 kilometer di Lombok Timur. Keberadaan bypass ini sangat strategis karena mampu memangkas waktu tempuh secara signifikan. Saat ini, perjalanan dari Pelabuhan Lembar ke Pelabuhan Kayangan bisa memakan waktu antara 4 hingga 5 jam.
Dengan hadirnya jalan bypass baru, waktu tempuh diperkirakan dapat dipersingkat menjadi sekitar 2 jam. Selain efisiensi waktu, proyek ini juga diharapkan dapat memperlancar arus logistik barang dan jasa. Jalan bypass akan secara efektif mengurai kemacetan di jalur eksisting, terutama yang membentang dari Kota Mataram hingga ke Pelabuhan Kayangan, mendukung aktivitas ekonomi dan pariwisata di NTB.
Sumber: AntaraNews