Pemprov NTB Genjot Pembangunan Infrastruktur Jalan dan Jembatan, Target Tuntas 2025
Pemprov NTB serius mempercepat Pembangunan Infrastruktur NTB berupa jalan dan jembatan vital. Proyek-proyek strategis ini ditargetkan rampung pada 2025 demi kelancaran konektivitas dan ekonomi daerah.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) menunjukkan komitmen kuat dalam mempercepat Pembangunan Infrastruktur NTB. Sejumlah proyek vital berupa jalan dan jembatan kini tengah digenjot pengerjaannya di berbagai wilayah, dengan target ambisius untuk tuntas pada tahun 2025 mendatang.
Langkah progresif ini diambil untuk meningkatkan konektivitas antar daerah, mendukung pertumbuhan ekonomi lokal, serta mengatasi permasalahan lingkungan seperti banjir. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) NTB, Sadimin, mengungkapkan bahwa percepatan ini menjadi prioritas utama demi kesejahteraan masyarakat.
Proyek-proyek strategis ini tersebar dari Sumbawa Barat hingga Lombok Tengah, mencakup rekonstruksi ruas jalan utama, pemeliharaan berkala, hingga perbaikan jembatan yang rusak akibat bencana alam. Anggaran miliaran rupiah telah dialokasikan untuk memastikan kualitas dan ketepatan waktu penyelesaian proyek-proyek penting ini.
Rekonstruksi Jalan Utama untuk Konektivitas Optimal
Salah satu fokus utama Pembangunan Infrastruktur NTB adalah rekonstruksi ruas Jalan Simpang Tano-Simpang Seteluk di Kabupaten Sumbawa Barat. Jalan sepanjang 3,8 kilometer ini menghubungkan dua ruas jalan negara dan saat ini progres fisiknya telah mencapai 63,36 persen dengan alokasi anggaran lebih dari Rp32,5 miliar.
Sadimin menjelaskan, "Kondisi drainasenya kurang baik dan sering terjadi banjir pada saat musim penghujan. Diharapkan dari pekerjaan ini mampu memperlancar perjalanan ke Kabupaten Sumbawa Barat dan mengatasi banjir di desa Tambaksari Kecamatan Poto Tano." Perbaikan ini diharapkan dapat mengurai masalah lalu lintas dan banjir yang kerap melanda area tersebut.
Selain itu, rekonstruksi ruas Jalan Tanjung Geres-Pohgading-Pringgabaya di Kabupaten Lombok Timur juga menjadi prioritas. Proyek sepanjang 4,0 kilometer ini telah mencapai progres fisik 76,14 persen, dengan anggaran sebesar Rp28 miliar yang dialokasikan pada pergeseran kedua tahun 2025.
Jalan ini memiliki peran strategis dalam memperpendek waktu tempuh dari Pelabuhan Lembar ke Pelabuhan Kayangan. "Diharapkan dari pekerjaan ini selesai akhir Desember 2025, sehingga dapat memperlancar perjalanan serta memperpendek waktu tempuh dari Pelabuhan Lembar ke Pelabuhan Kayangan melalui akses jalan provinsi," ujar Sadimin. Ruas ini juga akan memacu pengembangan wilayah pesisir timur dalam mendukung kedaulatan pangan, budidaya perikanan, dan pariwisata.
Peningkatan Akses dan Pemeliharaan Jalan Vital
Pembangunan Infrastruktur NTB juga menyasar ruas Jalan Lenangguar-Lunyuk di Kabupaten Sumbawa, khususnya pada kilometer 69 hingga 71. Proyek ini dianggarkan lebih dari Rp20 miliar dan sangat krusial bagi mobilitas warga.
Sadimin menegaskan pentingnya penanganan ruas ini, "Jika jalan ini tidak ditangani secara kontinu dan tidak bisa dilalui maka masyarakat dari Kecamatan Lunyuk, bila ingin ke Kabupaten Sumbawa harus melalui Sumbawa Barat yang waktu tempuh-nya 5 sampai dengan 6 jam." Penanganan jalan ini akan memangkas waktu tempuh secara signifikan dan membuka akses ekonomi baru.
Di Pulau Lombok, pemeliharaan berkala jalan juga dilakukan di ruas Jalan Batu Nyale-Sengkol. Ruas ini mengalami kerusakan berat akibat kondisi tanah dasar yang kurang baik dan posisi galian pipa air minum yang tidak memenuhi standar kedalaman. Fondasi yang tidak stabil menyebabkan lapisan penetrasi retak dan merusak aspal.
Dengan anggaran lebih dari Rp3,9 miliar, progres fisik pekerjaan ini baru mencapai 17,61 persen. "Jika ruas ini tidak segera ditangani akan semakin banyak menimbulkan korban kecelakaan," kata Sadimin, menekankan urgensi perbaikan demi keselamatan pengguna jalan.
Perbaikan Jembatan Kritis Pasca Bencana
Selain jalan, Pembangunan Infrastruktur NTB juga fokus pada perbaikan jembatan yang memiliki peran vital. Jembatan Doro O'o di Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, menjadi salah satu prioritas. Jembatan ini rusak parah akibat banjir pada tahun 2023, diperparah sedimentasi yang menyebabkan genangan air di pemukiman dan area pertanian saat hujan dan laut pasang.
Jembatan Doro O'o merupakan objek vital bagi warga dua kecamatan, berfungsi sebagai penyangga ekonomi di sektor kelautan dan pertanian. Dengan anggaran lebih dari Rp6,2 miliar, progres fisik perbaikan jembatan ini telah mencapai 35,61 persen per November.
Di Kabupaten Lombok Tengah, pergantian Jembatan Selong Belanak juga sedang berjalan. Jembatan Mekarsari di Jalan Pariwisata Selong Belanak-Kuta rusak akibat banjir tahun 2024. Jembatan ini sangat penting karena menghubungkan Kuta dan Selong Belanak, serta mendukung pengembangan kawasan pariwisata prioritas Mandalika dan sekitarnya.
Perbaikan Jembatan Selong Belanak dianggarkan sebesar Rp4 miliar, dengan progres fisik mencapai 25,81 persen. Perbaikan jembatan-jembatan ini diharapkan dapat memulihkan konektivitas dan mendukung aktivitas ekonomi serta pariwisata yang sempat terganggu oleh bencana alam.
Sumber: AntaraNews