CISFED Dorong Indonesia Lebih Asertif Hadapi Krisis Kemanusiaan Gaza Akibat Agresi Israel
CISFED mendesak Indonesia lebih asertif hadapi krisis kemanusiaan Gaza. Desakan ini muncul menyusul pelanggaran hukum internasional dan dampak langsung pada kepentingan WNI.
Lembaga kajian Center for Islamic Studies in Finance, Economics, and Development (CISFED) mendorong Pemerintah Indonesia untuk mengambil sikap politik yang lebih asertif. Desakan ini terkait krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung di Gaza, Palestina, akibat agresi militer Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Chairman CISFED, Farouk Abdullah Alwyni, di Jakarta pada Sabtu (9/5). Ia secara langsung menyatakan, “Situasi kemanusiaan di Gaza dan Tepi Barat telah mencapai tingkat yang sangat memprihatinkan, dengan indikasi kuat pelanggaran hukum internasional.”
CISFED menilai kondisi ini merupakan bentuk pelanggaran nyata terhadap prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Konvensi Jenewa, hingga Statuta Roma Mahkamah Pidana Internasional. Oleh karena itu, akuntabilitas global menjadi syarat mutlak untuk melindungi warga sipil yang terus menjadi korban agresi.
Pelanggaran Hukum Internasional dan Ancaman Konflik Regional
Farouk Abdullah Alwyni menegaskan bahwa situasi di Palestina saat ini secara jelas melanggar prinsip-prinsip dasar hukum internasional. Pelanggaran ini mencakup Piagam PBB, Konvensi Jenewa, hingga Statuta Roma Mahkamah Pidana Internasional. CISFED menekankan pentingnya akuntabilitas global untuk melindungi warga sipil dari agresi militer yang berkelanjutan.
Lembaga kajian ini juga mendorong Indonesia untuk terus berkomitmen mendukung kemerdekaan Palestina. Selain itu, Indonesia harus menolak eskalasi militer Israel ke negara-negara lain di kawasan Asia Barat. CISFED mengkhawatirkan serangan ke Lebanon, Suriah, dan Iran dapat memicu konflik regional yang lebih luas dan destruktif.
Eskalasi konflik di Asia Barat berpotensi menciptakan ketidakstabilan geopolitik yang serius. Dampak dari konflik semacam itu tidak hanya terbatas pada wilayah tersebut, tetapi juga dapat merembet ke skala global, mempengaruhi berbagai aspek termasuk ekonomi dan keamanan internasional.
Dampak Langsung bagi Indonesia dan Pengawasan Investasi Asing
Dampak konflik di Gaza kini tidak lagi bersifat abstrak bagi Indonesia setelah insiden tewasnya pasukan penjaga perdamaian asal Indonesia. Selain itu, pengambilalihan Rumah Sakit Indonesia di Gaza juga menjadi perhatian serius. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kepentingan dan keselamatan warga negara Indonesia telah terdampak secara langsung oleh politik ekspansionis.
Farouk Alwyni menekankan bahwa insiden-insiden tersebut menjadi bukti otentik. Hal ini memperkuat urgensi bagi Pemerintah Indonesia untuk mengambil sikap yang lebih tegas dan proaktif. Langkah ini diperlukan demi melindungi warga negaranya serta menjunjung tinggi prinsip kemanusiaan dan keadilan global.
Di samping aspek geopolitik, CISFED juga mendorong pemerintah untuk melakukan pengawasan ketat terhadap investasi asing di sektor strategis. Sorotan khusus diberikan pada sektor energi, terutama investasi yang terafiliasi dengan jaringan korporasi Israel. Ini penting untuk memastikan kedaulatan ekonomi dan menghindari potensi konflik kepentingan.
Salah satu entitas yang menjadi sorotan adalah PT Ormat Geothermal Indonesia. CISFED menilai perusahaan ini memerlukan proses due diligence yang lebih mendalam. Pengawasan ini bertujuan untuk memastikan transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi, serta menghindari keterlibatan dengan entitas yang berpotensi merugikan kepentingan nasional. PT Ormat Geothermal Indonesia adalah anak perusahaan dari Ormat Technologies Inc., sebuah perusahaan energi panas bumi global yang didirikan di Israel dan memiliki keterkaitan erat dengan jaringan modal dan teknik Israel.
Sumber: AntaraNews