WHO Peringatkan Krisis Pasokan Medis Gaza Kian Parah, Ribuan Pasien Terancam
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali menyuarakan peringatan serius tentang krisis pasokan medis Gaza yang terus memburuk, mengancam nyawa ribuan pasien di tengah pembatasan akses.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat (6/3) mengeluarkan peringatan keras mengenai menipisnya persediaan obat-obatan esensial di Jalur Gaza. Situasi ini terjadi akibat keterbatasan akses masuk ke wilayah tersebut, yang kian memperburuk kondisi kesehatan masyarakat. Direktur Regional WHO untuk Mediterania Timur, Hanan Balkhy, menyoroti bahwa sejumlah bahan dasar medis, seperti kain kasa dan jarum, sudah habis.
Krisis ini tidak hanya terbatas pada obat-obatan, tetapi juga mencakup perlengkapan perawatan trauma dan peralatan bedah yang sangat minim. Balkhy menegaskan bahwa sistem kesehatan di Gaza saat ini sangat rapuh. Krisis bahan bakar yang melanda juga turut membatasi kapasitas operasional rumah sakit yang masih berfungsi.
Tanpa akses kemanusiaan yang konsisten, termasuk penyaluran pasokan medis yang aman serta dimulainya kembali evakuasi medis, pasien di Gaza akan terus menghadapi penundaan pengobatan yang mengancam jiwa. Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar bagi ribuan warga yang membutuhkan perawatan segera.
Kondisi Pasokan Medis yang Kritis di Gaza
Persediaan obat-obatan vital dan perlengkapan medis di Jalur Gaza berada pada titik terendah. Hanan Balkhy, Direktur Regional WHO untuk Mediterania Timur, mengungkapkan bahwa bahan-bahan dasar seperti kain kasa dan jarum telah habis sepenuhnya. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan mengingat tingginya kebutuhan medis di wilayah konflik tersebut.
Selain itu, pasokan perlengkapan perawatan trauma dan peralatan bedah juga sangat terbatas, padahal sangat dibutuhkan untuk menangani korban konflik. Sistem kesehatan di Gaza yang sudah rapuh semakin tertekan dengan adanya krisis bahan bakar. Keterbatasan bahan bakar ini secara langsung membatasi kemampuan rumah sakit untuk beroperasi secara penuh dan memberikan layanan esensial.
Meskipun WHO sempat berhasil membawa beberapa pasokan medis dan bahan bakar ke Gaza pada Selasa dan Rabu, sejumlah truk bantuan lainnya masih tertahan di Kota El Arish, Mesir. Situasi ini menunjukkan tantangan besar dalam memastikan bantuan kemanusiaan mencapai mereka yang membutuhkan.
Dampak Pembatasan Akses Kemanusiaan
Pembatasan akses kemanusiaan ke Jalur Gaza memiliki dampak yang sangat merugikan bagi penduduk setempat. Jumlah truk bantuan yang diizinkan masuk ke Gaza saat ini tidak lebih dari 200 unit per hari. Padahal, wilayah tersebut membutuhkan setidaknya 600 truk setiap hari untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Kesenjangan besar antara kebutuhan dan pasokan ini memperparah kondisi kemanusiaan di Gaza. Banyak pasien yang membutuhkan perawatan mendesak tidak dapat memperolehnya karena kurangnya pasokan medis. Penundaan evakuasi medis juga menjadi ancaman serius bagi nyawa pasien.
Tanpa jalur aman dan konsisten untuk bantuan, upaya kemanusiaan menjadi sangat terhambat. WHO terus menyerukan agar lebih banyak bahan bakar diizinkan masuk ke Gaza. Hal ini krusial untuk menjaga agar rumah sakit tetap dapat beroperasi dan memberikan layanan vital kepada warga.
Layanan Kesehatan Terancam Lumpuh Total
Sektor kesehatan di Gaza menghadapi ancaman kelumpuhan total akibat konflik dan pembatasan yang berkelanjutan. Separuh dari 36 rumah sakit di Gaza telah berhenti beroperasi sejak awal gencatan senjata. Rumah sakit yang masih buka berjuang keras untuk menyediakan layanan penting seperti operasi, dialisis, dan perawatan intensif.
Penyeberangan Rafah, yang merupakan titik keluar utama bagi sebagian besar penduduk Gaza, masih ditutup. Akibatnya, operasi evakuasi medis telah ditangguhkan sepenuhnya. Kondisi ini menjebak ribuan pasien di dalam Gaza tanpa harapan untuk mendapatkan perawatan di luar wilayah tersebut.
Data WHO menunjukkan sekitar 18.000 orang, termasuk anak-anak yang terluka dan pasien penyakit kronis, saat ini sedang menunggu evakuasi medis. Penangguhan evakuasi ini menempatkan mereka dalam risiko yang sangat tinggi, dengan banyak nyawa terancam.
Sumber: AntaraNews