KTT Ke-47 ASEAN Resmi Dibuka: Timor Leste Jadi Anggota ke-11, Harapan Baru Komunitas Tangguh!

KTT Ke-47 ASEAN resmi dibuka di Kuala Lumpur, menandai bergabungnya Timor Leste sebagai anggota ke-11. Pertemuan ini diharapkan membentuk masa depan komunitas yang tangguh dan inklusif di tengah tantangan global.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
KTT Ke-47 ASEAN Resmi Dibuka: Timor Leste Jadi Anggota ke-11, Harapan Baru Komunitas Tangguh!
KTT Ke-47 ASEAN resmi dibuka di Kuala Lumpur, menandai bergabungnya Timor Leste sebagai anggota ke-11. Pertemuan ini diharapkan membentuk masa depan komunitas yang tangguh dan inklusif di tengah tantangan global. (AntaraNews)

Pertemuan Puncak (KTT) Ke-47 Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) secara resmi dibuka pada 26 Oktober 2025. Acara penting ini berlangsung di Kuala Lumpur Convention Center (KLCC), Malaysia, dengan kehadiran seluruh pemimpin negara anggota ASEAN.

KTT Ke-47 ASEAN menjadi sorotan utama karena dihadiri oleh Perdana Menteri Thailand yang baru, Anutin Charnvirakul, serta Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao yang hadir untuk pertama kalinya sebagai anggota resmi. Sementara itu, Myanmar diwakili oleh perwakilan non-politis, menunjukkan dinamika politik internal yang masih berlangsung.

Mengusung tema “Forging a Resilient and Inclusive Future Together”, KTT Ke-47 ASEAN ini diharapkan memberikan harapan baru bagi masa depan komunitas yang lebih tangguh dan inklusif. Rangkaian pertemuan ini akan berlangsung hingga 28 Oktober 2025, membahas penguatan ketahanan ekonomi, integrasi regional, serta pembangunan inklusif dan berkelanjutan di tengah tantangan global.

Pembukaan KTT Ke-47 ASEAN di Kuala Lumpur tidak hanya dihadiri oleh para pemimpin negara anggota, tetapi juga sejumlah pemimpin dunia dan tamu kehormatan. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, PM China Li Qiang, PM India Narendra Modi, PM Australia Anthony Albanese, dan PM Selandia Baru Christopher Luxon turut memeriahkan acara ini.

Malaysia, sebagai ketua ASEAN 2025, juga mengundang tokoh-tokoh penting dari berbagai belahan dunia. Di antaranya adalah Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, dan Presiden Bank Dunia Ajay Banga.

Kehadiran para pemimpin global ini menunjukkan relevansi dan pentingnya peran ASEAN dalam kancah internasional. Diskusi dan kerja sama yang terjalin diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap stabilitas dan kemajuan di kawasan serta dunia.

KTT Ke-47 ASEAN akan membahas berbagai topik utama yang relevan dengan tantangan dan peluang di kawasan. Fokus pembahasan meliputi ekonomi dan perdagangan inklusif, keberlanjutan iklim dan energi bersih, hingga pengembangan ekonomi digital regional.

Salah satu poin penting yang akan dibahas adalah potensi pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai, sejalan dengan kesepakatan jaringan listrik ASEAN yang terintegrasi. Selain itu, KTT juga akan membahas dan menyatakan sikap ASEAN terkait perkembangan krisis Gaza, menunjukkan kepedulian regional terhadap isu-isu kemanusiaan global.

Sebanyak 25 pertemuan penting akan diselenggarakan dalam rangkaian KTT ini, mencakup pertemuan tingkat pemimpin, menteri, dan pejabat senior ASEAN. Pertemuan-pertemuan ini dirancang untuk meninjau implementasi keputusan sebelumnya dan menyepakati agenda-agenda strategis ke depan.

KTT Ke-47 ASEAN mencatat sejarah baru dengan pengukuhan Timor Leste sebagai anggota ke-11 ASEAN. Dokumen aksesi Timor Leste sebagai anggota penuh terbaru ASEAN ditandatangani dalam pembukaan KTT, disaksikan oleh seluruh pemimpin ASEAN dan sejumlah kepala negara tamu.

Menurut Kementerian Luar Negeri Malaysia, penandatanganan dokumen ini secara resmi menandai bergabungnya Timor Leste sebagai anggota penuh ASEAN. Sebelumnya, Timor Leste telah menyerahkan instrumen aksesi terhadap Piagam ASEAN dan Perjanjian Zona Bebas Senjata Nuklir ASEAN Tenggara (SEANWFZ) pada Sabtu.

Bergabungnya Timor Leste diharapkan dapat memperkuat integrasi regional dan memberikan perspektif baru bagi kerja sama di antara negara-negara anggota. Ini merupakan langkah maju dalam memperluas jangkauan dan pengaruh ASEAN di Asia Tenggara.

Selain isu-isu regional dan global, KTT Ke-47 ASEAN juga menjadi platform untuk penyelesaian konflik bilateral. Thailand dan Kamboja berencana menandatangani deklarasi bersama mengenai hubungan bilateral dan perjanjian damai, seperti yang disampaikan oleh juru bicara Kemlu Thailand, Nikondet Phalangkun.

Nikondet menyatakan, “Kami berencana menandatangani dokumen yang sering disebut media sebagai perjanjian damai itu di KTT ASEAN. Sebenarnya ini adalah deklarasi hubungan antara Thailand dan Kamboja, yang menegaskan empat kesepakatan fundamental tentang de-eskalasi dan normalisasi hubungan bilateral.” Deklarasi ini menegaskan kesepakatan prinsip dasar mengenai de-eskalasi dan normalisasi pasca-konflik perbatasan.

Sebelumnya, Komisi Bersama Penentuan Batas Wilayah Darat telah menyepakati penarikan senjata berat dari perbatasan. Kedua pihak juga menyepakati kegiatan penghapusan ranjau, pemberantasan kejahatan lintas batas, serta penyelesaian masalah di beberapa segmen perbatasan yang belum jelas penandanya. KTT juga akan membahas penyelesaian konflik di Myanmar dan merumuskan deklarasi Kuala Lumpur terkait penggunaan media sosial yang aman untuk menangkal berita palsu dan penipuan daring.

Presiden RI Prabowo Subianto, didampingi Menteri Luar Negeri RI Sugiono dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, telah tiba di Malaysia untuk mengikuti rangkaian KTT Ke-47 ASEAN. Indonesia menyampaikan sejumlah dorongan penting, termasuk dukungan penuh terhadap keanggotaan Timor Leste sebagai anggota baru ASEAN.

Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan bahwa keanggotaan Timor Leste adalah awal bagi negara tersebut untuk menyempurnakan proses internalnya, dan Indonesia mendukung integrasi penuh Timor Leste ke dalam ASEAN. Sugiono juga menekankan pentingnya peningkatan sinergi lintas sektor dalam menghadapi tantangan keamanan kawasan, termasuk kejahatan siber dan penipuan daring.

Pada isu Myanmar, Indonesia mendukung peningkatan keterlibatan ASEAN untuk menyelesaikan krisis politik yang berlarut-larut, dengan Konsensus Lima Poin (5PC) sebagai acuan utama. Sugiono juga mendukung pembentukan Kelompok Pengamat ASEAN untuk mengawasi pelaksanaan pemilihan umum di Myanmar. Indonesia menyerukan negara-negara ASEAN untuk terus mempertahankan sentralitas ASEAN dalam menghadapi persoalan internal dan dinamika global, mengingat persatuan ASEAN telah terbukti mampu menyelesaikan konflik, seperti antara Kamboja dan Thailand.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi