Warga Sibio-bio Tapteng Terisolir Akibat Jembatan Putus dan Listrik Padam 3 Bulan
Ribuan Warga Sibio-bio Tapteng masih terisolir pasca banjir bandang. Jembatan putus dan listrik padam selama tiga bulan membuat akses serta kehidupan sehari-hari lumpuh total. Bagaimana nasib mereka selanjutnya?
Seribuan warga Desa Sibio-bio, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, kini masih hidup dalam keterisolasian. Kondisi ini terjadi setelah jembatan penghubung utama desa mereka terputus dan aliran listrik padam total. Bencana banjir bandang yang melanda wilayah tersebut tiga bulan lalu menjadi pemicu utama.
Kepala Desa Sibio-bio, Damianus Zendrato, mengungkapkan bahwa akses menuju desa mereka telah sepenuhnya terputus. Jembatan gantung yang menjadi satu-satunya jalur penghubung ke Desa Muara Sibuntuon kini tidak dapat dilalui. Akibatnya, warga terpaksa menyeberangi aliran sungai yang berisiko tinggi.
Selain masalah akses jalan, Desa Sibio-bio juga masih mengalami pemadaman listrik berkepanjangan. Hingga saat ini, pasokan listrik belum pulih, memaksa warga menggunakan penerangan seadanya di malam hari. Kondisi ini semakin memperparah kesulitan hidup seribuan jiwa di desa tersebut.
Akses Terputus, Warga Sibio-bio Bertaruh Nyawa
Sudah tiga bulan berlalu sejak banjir bandang menghantam Desa Sibio-bio, namun infrastruktur vital, khususnya jembatan penghubung, belum juga diperbaiki. Jembatan yang menghubungkan Desa Sibio-bio dengan Desa Muara Sibuntuon ini merupakan satu-satunya akses jalan bagi warga. Putusnya jembatan gantung tersebut membuat warga tidak memiliki pilihan lain selain menyeberangi sungai.
Damianus Zendrato menjelaskan bahwa kegiatan menyeberangi sungai ini telah berlangsung selama hampir tiga bulan. Warga harus bertaruh nyawa setiap kali ingin keluar atau masuk desa. “Jadi, kalau air sedang naik kami tidak bisa keluar desa,” ujarnya, menggambarkan betapa rentannya kondisi mereka terhadap perubahan cuaca.
Kondisi ini tidak hanya menghambat aktivitas ekonomi dan sosial, tetapi juga mengancam keselamatan warga. Terlebih lagi, akses yang terputus mempersulit penyaluran bantuan atau penanganan darurat jika terjadi insiden lain di desa.
Gelap Gulita di Malam Hari, Listrik Belum Pulih
Selain terisolasinya akses darat, Desa Sibio-bio juga masih dilanda kegelapan akibat putusnya aliran listrik. Damianus Zendrato menyatakan bahwa pasokan listrik ke desa mereka belum pulih hingga saat ini. Hal ini memaksa seribuan warga untuk menggunakan penerangan seadanya ketika malam tiba.
Beberapa bantuan mesin genset atau generator set memang telah dibagikan kepada warga. Namun, jumlahnya masih sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk. Terdapat sekitar 200 rumah lebih yang masih dihuni di Desa Sibio-bio, dengan total penghuni mencapai 1.000 jiwa.
Kondisi tanpa listrik ini tentu sangat memengaruhi kehidupan sehari-hari warga. Aktivitas di malam hari menjadi terbatas, dan anak-anak kesulitan untuk belajar. Keterbatasan ini menambah daftar panjang penderitaan warga yang sudah terisolasi.
Dampak Banjir Bandang dan Korban Jiwa
Bencana banjir bandang yang melanda Desa Sibio-bio tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga menelan korban jiwa. Tragedi ini mengakibatkan sembilan warga harus kehilangan nyawa. Dari jumlah tersebut, dua korban telah berhasil ditemukan, sementara tujuh lainnya masih dinyatakan hilang hingga saat ini.
Kehilangan nyawa ini menjadi duka mendalam bagi masyarakat Desa Sibio-bio. Proses pencarian korban yang hilang terus dilakukan di tengah keterbatasan akses dan kondisi geografis yang menantang. Peristiwa ini menunjukkan betapa parahnya dampak banjir bandang terhadap kehidupan dan keselamatan warga desa.
Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan dapat segera memberikan perhatian serius terhadap kondisi Desa Sibio-bio. Pemulihan infrastruktur, terutama jembatan dan listrik, menjadi prioritas utama untuk mengakhiri keterisolasian ribuan warga di Tapteng.
Sumber: AntaraNews