Akses Terputus: 40 KK KAT Sikundo Aceh Barat Terisolir Akibat Banjir Bandang
Puluhan keluarga di Komunitas Adat Terpencil (KAT) Sikundo Aceh Barat masih terisolir pasca-banjir bandang, menghadapi krisis pangan dan akses jalan yang hancur.
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat mengonfirmasi bahwa 40 Kepala Keluarga (KK) di Komunitas Adat Terpencil (KAT) Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, masih terisolir. Kondisi ini terjadi setelah wilayah tersebut diterjang banjir bandang pada pekan lalu, menyebabkan akses vital terputus total. Masyarakat di sana kini menghadapi kesulitan besar dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Bupati Aceh Barat, Tarmizi, menyatakan keprihatinannya atas kondisi ini setelah meninjau langsung lokasi. Ia bersama rombongan menemukan fakta bahwa akses jalan sepanjang lima kilometer telah hancur dan berubah menjadi aliran sungai. Situasi ini membuat warga tidak dapat keluar masuk desa, memutus mereka dari dunia luar.
Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena masyarakat Sikundo kini kekurangan pasokan bahan makanan dan obat-obatan. Stok bantuan yang sempat diantar hanya cukup untuk beberapa hari, menimbulkan kekhawatiran akan kelaparan. Pemerintah daerah berharap adanya bantuan segera untuk mengatasi krisis kemanusiaan ini.
Dampak Kerusakan Infrastruktur dan Isolasi Warga
Kerusakan infrastruktur akibat banjir bandang di KAT Sikundo sangat parah. Badan jalan utama sepanjang lima kilometer kini telah berubah menjadi sungai, memutuskan jalur transportasi darat. Selain itu, jembatan penghubung vital juga ikut terputus, memperparah isolasi masyarakat di kawasan tersebut.
Bupati Tarmizi menjelaskan, “Badan jalan yang ada sudah menjadi sungai dan jembatan penghubung juga terputus, masyarakat di sana benar-benar terisolir dari dunia luar.” Kondisi ini membuat warga tidak bisa keluar dari desa, kecuali beberapa orang yang nekat menyusuri aliran sungai menggunakan ban bekas.
Sebelumnya, satu jembatan gantung yang dibangun pada tahun 2019 setelah viralnya anak-anak sekolah menyeberangi sungai dengan kabel baja, kini telah hanyut. Akibatnya, warga terpaksa menggunakan ban mobil sebagai alat bantu untuk menyeberangi sungai, sebuah tindakan yang sangat berisiko dan mengancam keselamatan.
Krisis Kemanusiaan dan Upaya Penanganan Darurat
Isolasi yang berkepanjangan telah memicu krisis kemanusiaan di KAT Sikundo. Ratusan jiwa masyarakat di kawasan pedalaman ini kini menghadapi kekurangan pasokan bahan makanan dan obat-obatan yang sangat mendesak. Stok yang ada di masyarakat sudah tidak memadai, menimbulkan kekhawatiran serius.
Bupati Tarmizi mengungkapkan, “Stok bantuan yang kami antar pada Minggu kemarin hanya cukup beberapa hari saja, kami khawatir masyarakat kelaparan di sana.” Pernyataan ini menunjukkan urgensi penanganan cepat untuk menghindari dampak yang lebih buruk bagi warga Sikundo.
Akses menuju Sikundo sendiri sangat sulit, bahkan sebelum banjir. Perjalanan dari Meulaboh harus menembus hutan lebat menggunakan mobil 4x4 yang dikemudikan oleh sopir off-road andal. Rombongan bupati bahkan sempat kesulitan dan memerlukan bantuan alat berat untuk melanjutkan perjalanan.
Pemkab Aceh Barat kini sangat berharap adanya dukungan dari pemerintah pusat. Bantuan ini diharapkan dapat mempercepat pembangunan kembali jalan dan jembatan menuju KAT Sikundo. Hal ini krusial untuk memulihkan akses dan memastikan keberlanjutan pasokan kebutuhan dasar bagi masyarakat terisolir.
Sumber: AntaraNews